IHSG Sore Ini Ditutup Menguat di Tengah Penantian Data Pekerja AS

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 18:57:01 WIB
Ilustrasi IHSG.

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat sore berakhir di zona hijau, di tengah langkah antisipasi para pelaku pasar yang menantikan pengumuman data Non-Farm Payroll (NFP) atau kondisi ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS).

IHSG ditutup menguat sebesar 65,94 poin atau 1,04 persen menuju level 6.409,65. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 ikut terdongkrak naik 9,43 poin atau 1,49 persen ke posisi 640,29.

"Bursa regional Asia cenderung bergerak beragam jelang akhir pekan ini yang terbebani kondisi terakhir di Timur Tengah, dan penantian rilis data pekerja AS yang merupakan salah satu indikator untuk kebijakan moneter The Fed,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

Dari lanskap global, lonjakan suhu politik dan ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali menyulut kekhawatiran atas potensi gejolak inflasi. Harga komoditas minyak mentah merangkak naik akibat laporan serangan armada Iran di wilayah Selat Hormuz serta belum ditemukannya titik terang atas kesepakatan pembukaan kembali jalur pelayaran vital tersebut.

Langkah Iran yang berupaya membatasi akses lalu lintas kapal-kapal milik AS dan Israel di kawasan Selat Hormuz sembari menuntut dana ganti rugi dari negara yang dianggap lawan, kian mempertebal keraguan pelaku pasar terkait kepastian normalisasi jalur perdagangan dunia tersebut.

"Hal ini tentunya membuatkan harga minyak dunia dan ketegangan yang kembali memicu kekhawatiran tentang inflasi dan prospek suku bunga ke depannya,” ujar Nico.

Di saat bersamaan, perhatian pelaku pasar tertuju pada perilisan laporan data Non-Farm Payroll (NFP) AS periode Juli 2026 pada Jumat (07/08) waktu setempat, yang dinantikan guna membaca sinyal ketahanan pasar tenaga kerja serta arah kebijakan acuan moneter The Fed.

Jajaran pejabat The Fed semakin memperlihatkan indikasi kesiapan menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat seiring tingginya tekanan inflasi, di mana konsensus pasar memproyeksikan kenaikan sebesar 25 basis poin pada September 2026.

Mengutip pemberitaan Financial Times, Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan kesediaannya untuk menaikkan suku bunga pada bulan depan jika angka inflasi beberapa pekan mendatang bertahan tinggi. Kevin Warsh juga diproyeksikan konsisten mempertahankan gaya komunikasinya yang terukur meski sempat memicu kritik dari pasar keuangan.

Dari dalam negeri, posisi cadangan devisa Indonesia pada Juli 2026 tercatat berada di level 145,3 miliar dolar AS, sedikit bergeser dari capaian akhir Juni 2026 sebesar 145,6 miliar dolar AS.

“Hal ini menunjukkan bahwa cadangan devisa tetap terjaga dan mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujar Nico.

Posisi cadangan devisa hingga penutupan Juli 2026 tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor beserta pembayaran utang luar negeri pemerintah, di mana angka ini aman berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor.

Selanjutnya, perhatian pasar juga tertuju pada pengumuman calon Gubernur BI definitif oleh pemerintah pekan ini, yang bakal menjadi katalisator kunci bagi pasar keuangan lokal, khususnya terkait komitmen mengawal stabilitas kurs, menekan laju inflasi, dan mengarahkan kebijakan suku bunga domestik.

“Penunjukan figur yang memiliki kredibilitas tinggi dan dinilai mampu menjaga independensi BI berpotensi meningkatkan kepercayaan pasar, sementara ketidakpastian yang berkepanjangan dapat mendorong sikap wait and see dari pelaku pasar,” ujar Nico.

Mengawali perdagangan dengan penguatan, IHSG konsisten berada di zona hijau hingga jeda sesi pertama. Memasuki sesi kedua, laju IHSG bertahan kuat di teritori positif sampai bel penutupan perdagangan.

Berdasarkan pencatatan Indeks Sektoral IDX-IC, sebanyak sembilan sektor mencatatkan kenaikan dengan penguatan tertinggi dipimpin sektor infrastruktur yang melesat 2,06 persen, disusul sektor barang baku serta barang konsumen primer yang naik masing-masing 1,59 persen dan 1,15 persen.

Sebaliknya, dua sektor harus parkir di zona merah di mana sektor barang konsumen non-primer terkoreksi paling dalam sebesar 0,91 persen, diikuti oleh sektor kesehatan yang juga tergerus 0,91 persen.

Deretan saham yang mencatatkan lompatan harga tertinggi (top gainers) meliputi VOKS, ROCK, KBLV, MCAS, dan ISAT. Sementara itu, saham-saham yang mengalami tekanan penurunan terbesar (top losers) terdiri atas TALF, PDES, BACH, MDIA, serta KDTN.

Frekuensi transaksi perdagangan saham sore ini terhitung mencapai 2.192.000 kali transaksi, dengan volume mencapai 36,88 miliar lembar saham senilai Rp16,44 triliun. Sebanyak 373 saham menguat, 245 saham melemah, dan 345 saham bergerak stagnan.

Pergerakan bursa saham regional Asia sore ini mencatatkan indeks Nikkei melorot 0,07 persen menuju 65.634,00, indeks Shanghai menguat 1,02 persen ke 3.940,04, indeks Hang Seng terangkat 0,54 persen ke 25.668,03, indeks Kospi terkoreksi 0,60 persen ke 6.258,77, serta indeks Straits Times menanjak 1,05 persen ke posisi 5.698,43.

Terkini