Jababeka KIJA Targetkan Konversi Lahan 140 Hektare pada Semester II 2026

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 19:22:32 WIB
Ilustrasi Karyawan memberikan informasi pada pengunjung anjungan Jababeka di Jakarta.

JAKARTA - PT Jababeka Tbk. (KIJA) mengamankan daftar potensi (pipeline) permintaan lahan industri sekitar 140 hektare yang diproyeksikan dapat direalisasikan menjadi transaksi resmi pada semester II 2026, di tengah kecenderungan investor asing yang bertindak lebih hati-hati.

Sekretaris Perusahaan KIJA Muljadi Suganda memaparkan bahwasanya eskalasi geopolitik global memang memberi pengaruh terhadap durasi pengambilan keputusan investor. Kendati demikian, fenomena tersebut lebih berdampak pada lamanya proses evaluasi ketimbang penurunan minat investasi ke Indonesia.

"Ketidakpastian geopolitik global memang menjadi salah satu faktor yang turut dipertimbangkan oleh investor dalam proses pengambilan keputusan investasi. Namun, berdasarkan pengalaman kami, minat terhadap kawasan industri Jababeka, baik di Cikarang maupun Kendal, tetap cukup baik," ujarnya kepada Bisnis.com, Jumat (7/8/2026).

Menurut pengamatannya, kalangan investor saat ini cenderung melakukan kajian yang mendalam sebelum merealisasikan komitmen modal. Dampaknya, alur penyelesaian transaksi membutuhkan waktu lebih panjang meski minat atas ketersediaan lahan industri tetap solid.

"Yang kami lihat saat ini lebih pada dinamika proses transaksi, di mana investor cenderung melakukan evaluasi yang lebih mendalam sebelum mengambil keputusan investasi, sementara minat investasi sendiri tetap terjaga," katanya.

Muljadi menilai tren tersebut sebagai bagian dari dinamika siklus investasi yang lazim terjadi kala ketidakpastian global merangkak naik. Di tengah situasi tersebut, Jababeka masih mengantongi cadangan pipeline permintaan lahan yang besar hingga pengujung tahun 2026.

Untuk kawasan Jababeka Cikarang, akumulasi permintaan lahan tercatat melampaui 40 hektare yang berasal dari penanam modal domestik maupun mancanegara, melingkupi Singapura, Jepang, Malaysia, hingga Korea Selatan. Sektor penggeraknya mencakup logistik, makanan dan minuman (F&B), pusat data (data center), kimia, serta manufaktur elektronik.

Sepanjang semester I 2026, Muljadi membeberkan bahwa perseroan berhasil membukukan penjualan lahan industri seluas 6 hektare di Cikarang, terutama kepada korporasi tekstil nasional serta investor sektor F&B, kesehatan, logistik, dan bahan bangunan asal Tiongkok dan Korea Selatan.

Sementara itu, Kawasan Industri Kendal mencatatkan porsi pipeline permintaan yang lebih tinggi, yakni menyentuh kisaran 100 hektare. Dominasi pemesan didominasi oleh investor asal Tiongkok, disusul Taiwan, Hong Kong, serta pemodal dalam negeri.

Lini bisnis yang menjadi penopang utama permintaan di Kendal meliputi industri tekstil dan garmen, kemasan, alas kaki dan apparel, furnitur, hingga manufaktur bahan bangunan.

Pada paruh pertama tahun ini, realisasi penjualan lahan di Kendal mencapai 42 hektare, yang didominasi perusahaan asal Tiongkok di sektor otomotif, elektronik, bahan bangunan, dan kemasan, serta korporasi Indonesia di lini peralatan rumah tangga.

Memasuki semester II 2026, Jababeka memfokuskan prioritas pada percepatan konversi pipeline menjadi transaksi demi menjaga laju pertumbuhan bisnis. Perseroan mengoptimalkan pemasaran kawasan di Cikarang dan Kendal sekaligus mengakselerasi penyelesaian transaksi yang masih dalam tahap negosiasi.

Selain bergantung pada skema penjualan lahan, KIJA turut memperbesar porsi pendapatan berulang (recurring revenue) dari pilar bisnis infrastruktur, seperti pasokan listrik, penyediaan air bersih, pemeliharaan kawasan, serta jasa logistik seiring meningkatnya operasional tenant.

Dari sisi struktur keuangan, perseroan memanfaatkan hasil aksi refinancing Senior Notes yang tuntas pada semester pertama tahun ini untuk memperkokoh postur permodalan.

Menurut Muljadi, langkah ini berhasil memperpanjang profil jatuh tempo utang, menyelaraskan denominasi mata uang pembiayaan dengan mata uang pelaporan, sekaligus menekan risiko nilai tukar serta risiko refinancing.

"Dengan strategi tersebut, kami optimistis dapat menjaga fundamental bisnis dan mengupayakan pencapaian target yang telah ditetapkan untuk tahun 2026," ujarnya.

Sebagai catatan kinerja, KIJA membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp2.436,5 miliar pada semester I 2026, atau terkoreksi 11 persen dibandingkan Rp2.726,4 miliar pada semester I 2025, serta mencatatkan rugi bersih Rp6,4 miliar dibanding capaian laba bersih Rp627,6 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Terkini