Lokasi Tambang Masuk Hutan Lindung Begini Respons Bos Vale Indonesia

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:37:31 WIB
Area pembuangan terak yang dioperasikan oleh PT Vale Indonesia di Sorowako, Sulawesi Selatan, Indonesia

JAKARTA - Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Bernadus Arnanto memberikan tanggapan terkait lokasi tambang Blok Tanamalia yang berada di kawasan hutan lindung dan hutan produksi terbatas, yang salah satunya dimanfaatkan sebagai area perkebunan merica warga.

Anto, panggilan akrabnya, menegaskan bahwa perusahaan bakal menjamin seluruh proses pengembangan Blok Tanamalia berjalan sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Ia juga memahami bahwa sebagian area pertambangan baru milik perusahaan bersinggungan dengan wilayah mata pencaharian warga setempat. Pihaknya berjanji akan mengupayakan penyelesaian masalah ini dengan pendekatan terbaik.

“Ya kita gini, intinya kita harus tetap patuh hukum, kemudian kita menyadari ada masyarakat di sana, sebisa mungkin kita upayakan penyelesaiannya adalah penyelesaian yang humanis,” kata Bernadus usai Peluncuran dan Diskusi Buku Bahlil Lahadalia di Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026).

Pada kesempatan tersebut, Anto turut merespons kabar mengenai divisi baterai Volkswagen AG (VW), PowerCO, yang digadang-gadang bakal menjadi mitra perseroan dalam pembangunan smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) di Blok Tanamalia.

Ia menegaskan apabila kerja sama tersebut telah memasuki ranah resminya, maka pihak perseroan dipastikan akan menyampaikan pengumuman secara terbuka kepada publik.

Anto juga menambahkan adanya perjanjian kerahasiaan yang telah ditandatangani bersama calon mitra bisnis di proyek smelter Blok Tanamalia tersebut.

“Nanti gini, kalau itu memang sudah formal, pasti kan di-announce kan. Ini kan ada confidentiality segala macam kan, jadi saya enggak bisa ngomong banyak sih,” kata Anto.

Lebih lanjut, Bernadus memastikan bahwa kegiatan eksplorasi tambang di kawasan Blok Tanamalia masih terus berlangsung oleh pihak perseroan.

Ia memberi sinyal bahwa Blok Tanamalia menyimpan cadangan bijih nikel yang sangat berlimpah, meski belum bisa membeberkan besaran angkanya secara rinci.

“Jadi kita fokus dahulu untuk bisa mengeksplorasi, untuk men-justify pengembangan tambang. Saya enggak ingat angka detailnya-lah ya. [Hal] yang jelas, cadangannya pasti baguslah,” ucap Bernadus.

Mengutip keterangan di situs resmi INCO, kegiatan penambangan Tanamalia berpatokan pada izin usaha pertambangan khusus (IUPK) serta izin persetujuan penggunaan kawasan hutan (PPKH) khusus eksplorasi.

Tambang Tanamalia bertempat di kawasan Hutan Lindung dan Hutan Produksi Terbatas dengan luas mencapai 13.556 hektare (ha) di wilayah Towuti, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Rangkaian eksplorasi area pertambangan ini dikerjakan secara bertahap sejak 1970 dan mulai memasuki fase eksplorasi detail pada 2025–2026, lalu dilanjutkan target konstruksi pada 2027–2028.

Atas dasar alur tersebut, pihak perseroan menargetkan aktivitas penambangan di lokasi itu paling cepat baru bisa bergulir pada 2030.

Di sisi lain, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulawesi Selatan mengingatkan bahwa mata pencaharian warga Loeha Raya dari sektor perkebunan merica terancam tergerus akibat proyek Tanamalia.

“Aktivitas eksplorasi di Tanamalia mulai masif dilakukan oleh perusahaan sejak tahun 2022. Aktivitas pertambangan jelas sangat berpotensi menimbulkan dampak buruk terhadap ekonomi, lingkungan hidup, sosial komunitas petani merica, perempuan hingga anak-anak,” tulis Walhi Sulsel dalam risetnya.

Pihak Walhi Sulsel membeberkan bahwa konsesi Vale di Blok Tanamalia mencakup area hutan, Danau Lantua, serta lahan perkebunan merica milik masyarakat Loeha Raya.

“Jika dipresentasikan dari total luasan hutan hujan eksisting saat ini dengan luas 25.260,43 ha, maka 66,45 % dari luasan kawasan hutan hujan di Tanamalia merupakan wilayah konsesi pertambangan nikel PT Vale Indonesia dan hanya menyisakan 33,55 % kawasan hutan hujan tersisa,” ungkap Walhi Sulsel.

Saat ini Vale Indonesia tengah menjajaki aliansi pengembangan tambang anyar Tanamalia di Blok Sorowako, Sulawesi Selatan, dengan merangkul mitra produsen otomotif (automaker) asal Eropa.

Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale Indonesia Budiawansyah menyebutkan bahwa proyek tambang ini dirancang terintegrasi dengan smelter HPAL yang memerlukan pasokan bijih nikel jenis limonit.

“Ini masa depan dan sedang mulai dirintis. Itu kerja sama di Blok Tanamalia. Ini sangat istimewa karena mitra kami, salah satunya adalah pabrikan kendaraan terkemuka dari Eropa,” kata Budiawansyah dalam Grand Seminar Hipmi, Kamis (6/8/2026).

Dalam paparan resminya, proyek pengembangan tambang ini tengah masuk tahap studi front end loading (FEL) II yang mencakup penyusunan feasibility study (FS), keekonomian, aspek teknis, operasional, legal, hingga analisis ESG.

Sementara untuk proyek smelter HPAL akan dibangun bermitra dan kini masih dalam tahap penyaringan calon mitra bisnis.

Blok Tanamalia sendiri merupakan bagian IUPK Vale Indonesia yang mencakup subblok Loeha, Lemo-Lemo, dan Lingkona seluas 13.556 ha, serta berada di area hutan Sorowako dengan izin eksplorasi lanjutan seluas 17.239 ha.

Apabila cadangan nikel terbukti memadai, tahap konstruksi dijadwalkan mulai 2027—2028 dan operasi penambangan paling cepat direalisasikan pada 2031.

Di lain pihak, produsen otomotif asal Jerman, VW, sebelumnya dikabarkan sempat berminat menjalin kemitraan dengan Vale Indonesia untuk memperkuat ekosistem baterai kendaraan listrik.

Associate Energy Analyst di Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM Fitria Astuti Firman menyampaikan bahwa pemerintah sedang merumuskan standar ESG nasional melalui gap analysis guna merangkul investor asing.

Dalam konteks itu, ia menyebut VW berminat masuk ke proyek nikel Vale dengan mensyaratkan standar ESG yang amat ketat.

“Langkah ini krusial agar produk mineral Indonesia dapat diserap oleh rantai pasok global. Contoh sukses penerapan ini adalah kerja sama PT Vale dengan raksasa otomotif dunia seperti Ford dan Volkswagen, yang mewajibkan kepatuhan ESG berstandar global,” ungkapnya di agenda diskusi publik Indef, Rabu (17/6/2026).

Terkini