JAKARTA - PT Freeport Indonesia (PTFI) telah memulai pengiriman pasokan konsentrat tembaga ke fasilitas smelter katoda tembaga milik perusahaan di area industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Manyar, Gresik.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menerangkan bahwa pengiriman bahan baku ini dikerjakan sebagai langkah persiapan pengoperasian kembali smelter kedua Freeport, setelah sempat dihentikan lantaran surutnya pasokan konsentrat dari area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC).
Tony menyebutkan bahwasanya fasilitas smelter JIIPE di Manyar dijadwalkan beroperasi kembali mulai September 2026 dan akan mendongkrak volume produksinya secara bertahap seiring pulihnya tingkat utilitas tambang bawah tanah GBC.
“Smelter nanti mulai September sudah mulai akan produksi lagi. Sementara ini konsentrat sudah mulai masuk dari Papua, sudah mulai masuk ke Manyar biar volumenya cukup dulu baru kami bakar di furnace,” kata Tony usai Peluncuran dan Diskusi Buku Bahlil Lahadalia di Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026).
Ia turut membeberkan target bahwa area tambang bawah tanah GBC diproyeksikan beroperasi penuh dengan capaian utilitas 100 persen pada penghujung tahun 2027 kelak.
Dalam kesempatan terdahulu, Tony menargetkan progres pemulihan tambang bawah tanah GBC mampu menyentuh angka 65 persen pada semester II-2026, lalu merangkak naik ke level 75 persen pada semester I-2027.
“Semester kedua ini bisa 65%. Semester pertama tahun depan itu bisa 75% dan menjelang akhir tahun itu menuju ke 100%,” ungkap Tony ketika ditemui awak media di Kompleks DPR, Rabu (10/6/2026).
Sebagai catatan informasi, pada April lalu Tony mengumumkan pembukaan kembali secara terbatas untuk tambang bawah tanah GBC pasca-penutupan akibat musibah tanah longsor. Kendati demikian, pengerjaan perbaikan menyeluruh ditargetkan baru akan rampung total pada kuartal I-2027.
Tony membeberkan bahwa production block (PB) 2 dan 3 di lokasi tambang GBC telah diaktifkan kembali secara terbatas, sedangkan blok produksi 1 masih ditutup rapat dan proses perbaikannya ditargetkan tuntas pada 2027.
“Saat ini kami masih melakukan proses pemulihan di Grasberg Block Cave khususnya Production Block 1 yang memang sangat terdampak pada saat longsor itu terjadi. Sementara itu, untuk Production Block 2 di Grasberg Block Caving dan Production Block 3 itu sudah mulai kami lakukan penambangan secara terbatas,” kata Tony dalam RDP di Komisi XII, medio April.
Tony menjelaskan proses pemulihan blok produksi 1 dijadwalkan bergulir mulai Mei 2026 dengan tenggat penyelesaian pada kuartal I-2027.
Sejalan dengan agenda pemulihan serta pemeliharaan tambang GBC, Freeport memproyeksikan volume produksi bijih tembaga mampu mencapai angka 200.000 ton per hari pada 2027, meningkat dibanding target tahun ini sebesar 156.000 ton per hari.
Untuk diketahui bersama, fasilitas smelter perdana milik Freeport yaitu PT Smelting didirikan pada 1996 bekerja sama dengan konsorsium asal Jepang dan dikelola oleh Mitsubishi di Gresik, Jawa Timur, sebagai smelter tembaga pertama di Indonesia.
PT Smelting tercatat memiliki kapasitas pemurnian hingga 1.000.000 ton konsentrat tembaga menjadi 300.000 ton katoda tembaga saban tahunnya guna memenuhi permintaan dalam maupun luar negeri.
Selanjutnya, Freeport membangun smelter katoda tembaga kedua di kawasan industri JIIPE, Manyar, Gresik. Proyek yang dirintis sejak Oktober 2021 ini sempat tertunda akibat pandemi sebelum akhirnya diresmikan pada Kamis (27/6/2024).
Smelter kedua PTFI ini berpredikat sebagai smelter katoda tembaga desain single line terbesar di dunia yang sanggup memurnikan konsentrat tembaga hingga kapasitas 1,7 juta ton per tahun saat beroperasi penuh.
Fasilitas terpadu ini dilengkapi berbagai unit penyokong modern seperti refinery, pemurnian logam mulia, pengolahan asam sulfat, hingga sistem pengolahan limbah demi mencapai proses peleburan dan pemurnian berkonsep efisiensi tinggi.
Hanya berselang tiga pekan pasca-peresmian, smelter tembaga kedua Freeport tersebut tertimpa musibah kebakaran hingga memicu perbaikan serta penghentian sementara operasional produksi.
Dampak insiden tersebut membuat Freeport mengantongi izin perpanjangan ekspor konsentrat tembaga dari pemerintah selama kurun enam bulan, terhitung mulai 17 Maret 2025 sampai dengan 16 September 2025.