Penyebab Rasa Sakit Saat Bekerja di Kantor dan Cara Mengenalinya

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:10:31 WIB
Ilustrasi Sick Building Syndrome.

JAKARTA - Bagi sebagian orang, pergi ke kantor bukan sekadar menghadapi tumpukan pekerjaan dan kejaran tenggat waktu.

Beberapa pekerja justru kerap merasakan sakit kepala, mual, pusing, lelah luar biasa, hingga iritasi kulit tiap kali menginjakkan kaki di gedung tempat mereka bekerja.

Kondisi gangguan kesehatan ini sangat berkaitan erat dengan fenomena sick building syndrome (SBS).

Istilah ini dipakai untuk menggambarkan deretan keluhan fisik yang mendadak muncul saat seseorang menghabiskan waktu lama di dalam ruangan tertentu.

Uniknya, sejumlah hasil riset memperlihatkan bahwa pekerja perempuan lebih sering mengeluhkan gejala SBS ini ketimbang pria.

Salah satu tanda khas yang dapat dikenali yaitu munculnya ketidaknyamanan tubuh saat memasuki area gedung tertentu.

Keluhan yang dirasakan bisa bervariasi, mulai dari pusing, migrain, mual, mata perih, kelelahan mental (brain fog), hingga ruam merah pada permukaan kulit.

Disadur dari SELF Magazine, Rabu (12/8/2026), seorang karyawan bernama Jess Farmery membagikan pengalamannya yang mendadak bersin dan kulit terasa gatal tiap kali tiba di kantor.

Pencahayaan dari lampu fluoresen di dalam ruangan juga kerap memicu rasa pening serta menguras energinya.

Anehnya, semua gangguan kesehatan tersebut berangsur hilang dan membaik setelah ia keluar dari gedung tersebut.

Pola keluhan yang hilang-timbul seperti ini menjadi sinyal kuat bahwa kondisi lingkungan kerja berpengaruh langsung terhadap tubuh.

Berdasarkan laporan Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), SBS merujuk pada dampak kesehatan akut yang diduga kuat berhubungan dengan durasi seseorang di dalam bangunan.

Pemicu rasa sakit ini dapat berasal dari banyak faktor lingkungan sekitar.

Partikel halus di udara seperti spora jamur dan debu, hingga senyawa kimia tertentu, dapat memicu reaksi negatif pada tubuh orang yang sensitif.

Selain itu, tata cahaya yang kelewat silau, minimnya bukaan jendela, sirkulasi udara yang mampet, hingga aroma dari karpet ruangan juga bisa memicu ketidaknyamanan.

Profesor spesialis alergi, imunologi, dan oftalmologi dari Hackensack Meridian School of Medicine, Leonard Bielory, MD, menegaskan bahwa SBS merupakan payung istilah untuk berbagai keluhan fisik.

“Yang sakit adalah gedungnya, bukan orangnya,” terang dia.

Meski begitu, daya tahan dan sensitivitas setiap orang terhadap kondisi lingkungan sangat berbeda-beda.

Ada orang yang sanggup bertahan di tengah paparan debu atau bahan kimia, namun ada pula yang langsung ambruk meski hanya terpapar dalam skala kecil.

Di samping itu, berbagai studi memang mencatat bahwa perempuan lebih dominan melaporkan gejala SBS ini, walaupun faktor utama pemicu perbedaan berbasis gender tersebut masih terus diteliti.

Terkini