Dirut MIND ID Dorong Produksi Emas untuk Cadangan Devisa Negara BI

Dirut MIND ID Dorong Produksi Emas untuk Cadangan Devisa Negara BI
Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin.

JAKARTA - Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menyatakan bahwa pihaknya siap mendukung penguatan cadangan devisa negara sesuai kebijakan dan aturan Bank Indonesia melalui pemaksimalan produksi emas domestik.

“Emas merupakan produksi dalam negeri yang berpotensi menjadi sumber aset strategis yang dapat mendukung penguatan cadangan devisa negara,” ujar Maroef dalam acara MINDialogue dengan tema “Komoditas untuk Negeri: Strategi Penguatan Cadangan Mineral untuk Stabilitas dan Kedaulatan Ekonomi RI” yang digelar di Jakarta, Rabu.

Maroef menyampaikan bahwa peran emas kini menjadi kian signifikan. Selain mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, emas juga merupakan aset strategis yang dapat menjadi bagian dari cadangan internasional bagi bank sentral.

Oleh sebab itu, sebagai bentuk komitmen MIND ID dalam menopang cadangan devisa negara, Maroef terus mendorong peningkatan volume produksi emas dari dalam negeri.

“Di sektor hulu, kami mendorong transformasi proses formalisasi pertambangan rakyat menjadi IPR (Izin Pertambangan Rakyat) melalui harmonisasi regulasi, serta pembinaan teknis bagi pertambangan rakyat,” ucap Maroef.

Lewat langkah formalisasi pertambangan rakyat menjadi IPR, Maroef menargetkan komoditas emas hasil tambang dapat masuk ke dalam rantai pasok resmi serta diserap oleh fasilitas pemurnian berstandar internasional, seperti London Bullion Market Association (LBMA).

Mengenai sektor industri menengah atau midstream, Maroef menekankan bahwa aktivitas pengolahan bijih wajib diperkuat melalui keterlibatan lembaga agregator berbadan hukum resmi.

“Kehadiran agregator ini berfungsi untuk menjamin keterlacakan rantai pasok melalui sistem formal,” ucap Maroef.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 berada di angka 145,3 miliar dolar AS, cenderung stabil bila dibandingkan dengan posisi akhir Juni 2026 yang sebesar 145,6 miliar dolar AS.

Capaian per Juli tersebut tercatat hanya mengalami penurunan tipis sebesar 0,3 miliar dolar AS bila disandingkan dengan periode akhir Juni 2026.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebutkan bahwa pergerakan cadangan devisa pada Juli 2026 utamanya dipengaruhi oleh penerimaan sektor pajak, jasa, serta penerbitan global bond oleh pemerintah.

Kendati demikian, kondisi tersebut berlangsung di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah oleh bank sentral guna merespons dinamika ketidakpastian pasar keuangan global.

BI menegaskan bahwa posisi cadangan devisa per akhir Juli 2026 ini setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah, berada nyaman di atas standar kecukupan internasional yakni 3 bulan impor.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index