Mengungkap Alasan Psikologis di Balik Keengganan Kontak Mata

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:24:02 WIB
Ilustrasi Sedang Berbicara.

JAKARTA - Memalingkan pandangan sewaktu berbicara dengan orang lain ternyata tidak senantiasa menandakan rasa malu atau krisis kepercayaan diri.

Bagi beberapa individu, mengalihkan tatapan mata justru menjadi metode untuk meredakan kecanggungan, menjaga fokus pikiran, hingga mengendalikan kecemasan saat berinteraksi.

Riset dalam jurnal Comprehensive Psychiatry tahun 2011 mengutarakan bahwa terdapat faktor psikologis yang cukup kompleks di balik kebiasaan tersebut.

Bagi sebagian orang, menatap mata lawan bicara secara langsung sanggup menghadirkan sensasi seolah-olah sedang diawasi atau dinilai, sehingga dialog sederhana pun terasa menegangkan.

Studi tersebut mendapati bahwa individu dengan kecemasan sosial lebih rentan merasa takut dan cenderung menghindari tatapan mata dibanding orang biasa.

Sejumlah responden bahkan mengaku canggung saat harus menatap mata lawan bicara dan bingung menentukan durasi tatapan yang wajar dalam situasi sosial.

Hasil kajian ini membuktikan bahwa enggan melakukan kontak mata tidak selalu berakar dari sifat pemalu semata.

Pada kalangan mahasiswa, kian tinggi kecemasan terhadap tatapan mata, kian tinggi pula kadar kecemasan sosial yang mereka rasakan.

Kecemasan terhadap tatapan bahkan terbukti memiliki keterkaitan lebih kuat dengan gangguan kecemasan sosial daripada kondisi depresi.

Meski demikian, kebiasaan menghindari tatapan mata tetap berisiko memengaruhi persepsi orang lain terhadap pembicara.

"Baik karena malu, gugup, atau sekadar canggung, menghindari kontak mata secara tidak sengaja bisa memberi kesan tidak tertarik, tidak percaya diri, bahkan tidak jujur," ujar terapis April Crowe, LCSW, dikutip Paramount Wellness Retreat.

"Saat mata Anda terus berpindah-pindah, entah melihat ke lantai, langit-langit, atau ke mana saja selain lawan bicara, itu memberi kesan Anda sedang teralihkan atau merasa cemas," tambah Crowe.

Dalam riset tersebut, para ahli mengevaluasi ulang pasien kecemasan sosial setelah menjalani terapi medis selama 8 hingga 12 minggu memakai paroxetine.

Hasilnya, tingkat ketakutan serta kecenderungan menghindari tatapan mata menurun secara signifikan seiring membaiknya gejala kecemasan sosial mereka.

Temuan ini membuktikan bahwa rasa takut terhadap tatapan mata bisa dikurangi apabila penyebab dasar kecemasan sosialnya ditangani secara tepat.

Di luar tindakan medis, melatih kontak mata secara bertahap juga dapat membantu seseorang merasa lebih rileks saat berkomunikasi.

Disadur dari Very Well Mind, ketika berbicara empat mata, cobalah mengarahkan pandangan ke titik di antara atau sedikit di atas kedua mata lawan bicara.

Apabila menatap langsung terasa canggung, cobalah melonggarkan titik fokus tanpa harus terpaku tepat pada manik mata mereka.

Sesekali memindahkan arah pandangan juga tergolong wajar dalam sebuah percakapan.

Menatap terlalu tajam justru dapat membuat lawan bicara merasa risih, sehingga kontak mata sebaiknya dilakukan secara alami dan mengalir.

Terkini