Rumah Tahan Gempa BRIN Tetap Berdiri Kokoh Usai Gempa Magnitudo 7,7

Selasa, 18 Agustus 2026 | 01:04:32 WIB
Purwarupa rumah modular tahan gempa ciptaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

JAKARTA - Sebanyak tiga unit purwarupa rumah tahan gempa buatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Desa Tanjung Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur tetap berdiri kokoh usai diterjang gempa bumi bermagnitudo 7,7 beserta rentetan gempa susulan.

Tiga bangunan hunian tersebut didirikan sepanjang 2021–2022 sebagai bagian dari pengembangan teknologi konstruksi tahan gempa yang sebelumnya dirintis oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), kemudian diteruskan oleh BRIN setelah adanya integrasi lembaga riset.

Perekayasa BRIN, Vian Marantha Haryanto dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa, menyampaikan bahwa hunian tersebut memang dirancang khusus mengusung teknologi konstruksi tahan gempa untuk diaplikasikan di daerah bertipologi risiko bencana tinggi seperti NTT.

"Rumah-rumah ini dirancang khusus dengan teknologi konstruksi tahan gempa untuk wilayah rawan bencana seperti NTT. Hasil ini membuktikan bahwa desain dan metode konstruksi yang kami terapkan mampu melindungi struktur bangunan, dan yang terpenting, melindungi keselamatan penghuninya, bahkan saat diguncang gempa sebesar ini," katanya.

Vian membeberkan bahwa pihak tim riset tidak mendapati adanya retakan struktural pada bagian dinding, kolom, maupun fondasi fisik bangunan. Kerusakan yang terdata sebatas dampak kosmetik, yakni sebagian keramik dinding kamar mandi yang terlepas dari ikatan semen pada panel sandwich EPS serta pecah akibat guncangan keras pada ketiga unit rumah tersebut.

Kendati hasil pengamatan lapangan menunjukkan kondisi struktur utama tetap stabil, BRIN tetap bakal menggelar pengujian lanjutan demi mengantongi validasi teknis di laboratorium. Pengujian itu diagendakan memakai metode uji siklik sesuai acuan SNI 3966:2012 di laboratorium Pusat Riset Kekuatan Struktur.

Skema pengujian untuk skala laboratorium tersebut sudah dirancang matang dan dijadwalkan bakal dieksekusi sepanjang tahun 2026.

"Gempa besar yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 menjadi ujian lapangan bagi teknologi tersebut," ujarnya menambahkan.

Dalam perancangannya, rumah inovasi ini mengaplikasikan teknologi rubber bearing seismic untuk membantu menahan dan meredam getaran akibat guncangan gempa. Teknologi tersebut diolah dari hasil riset Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN dengan mendayagunakan bahan dasar karet alam atau polimer elastis.

"Rubber bearing seismic bekerja dengan memisahkan struktur bagian bawah dan atas bangunan. Ketika terjadi gaya geser akibat gempa, komponen tersebut dirancang untuk membantu menahan gaya geser sehingga dampak guncangan yang diterima struktur bangunan dapat dikurangi," tutur Vian Marantha Haryanto.

Di samping ketahanannya terhadap gempa, rumah hasil karya BRIN tersebut juga menganut konsep modular. Oleh sebab itu, terobosan ini sangat potensial dijadikan salah satu acuan model dalam program pemulihan serta rekonstruksi tempat tinggal warga di zona rawan gempa.

Maka dari itu, BRIN mendorong agar purwarupa rumah tahan gempa yang telah disempurnakan ini dapat diproduksi massal atau direplikasi secara lebih luas, tidak cuma di kawasan NTT melainkan juga di kawasan rawan gempa lainnya di wilayah Indonesia.

Upaya ini ditujukan demi memperkuat standar keselamatan tempat tinggal masyarakat sekaligus menekan risiko kerusakan fisik bangunan tatkala terjadi bencana gempa di masa mendatang.

Terkini