Protelindo Kantongi 10,86 Persen Saham BTEL Lewat Konversi OWK

Senin, 24 Agustus 2026 | 02:15:02 WIB
Ilustrasi Saham.

JAKARTA - Perusahaan infrastruktur digital milik Grup Djarum, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), resmi mengantongi 4,85 miliar lembar saham PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL) melalui mekanisme konversi Obligasi Wajib Konversi (OWK).

Berdasarkan laporan kepemilikan saham yang dikirimkan oleh Protelindo kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 24 Agustus 2026, entitas tersebut kini memegang 4.846.785.385 saham BTEL atau sepadan dengan 10,86 persen hak suara.

Sebelum transaksi konversi ini dilakukan, Protelindo tercatat belum memiliki satu lembar pun saham BTEL. Namun, pascatransaksi yang mengeksekusi kesepakatan pada 20 Agustus 2026, porsi kepemilikan secara tidak langsung tersebut resmi dikuasai pada harga Rp200 per saham.

Nilai total aset saham yang diserap Protelindo dari hasil konversi skema OWK tersebut diperkirakan menembus angka Rp969,36 miliar.

"Jenis transaksi diklasifikasikan sebagai Repurchase Agreement, sedangkan tujuan transaksi disebut sebagai penerimaan hasil konversi kepemilikan Obligasi Wajib Konversi," tulis pengumuman Bursa, Senin (24/8/2026).

Pihak Protelindo dipastikan bukan bagian dari susunan direksi maupun jajaran dewan komisaris BTEL. Meskipun demikian, pascatransaksi ini Protelindo menguasai porsi hak suara efektif sebesar 10,86 persen di tubuh BTEL.

Protelindo merupakan anak perusahaan yang bernaung di bawah PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) sebagai holding utama. Per Maret 2026, perseroan telah mengelola serta mengoperasikan kisaran 36.572 menara telekomunikasi dengan daya tampung mencapai 60.734 penyewa (tenant).

Di samping sektor penyediaan menara, Protelindo juga menguasai bentangan jaringan kabel serat optik (fiber optic) sepanjang 181.700 kilometer yang tersebar di pulau Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Operasional bisnis utama Protelindo berfokus pada penyewaan area menara multi-tenant kepada penyedia jaringan nirkabel nasional melalui skema kontrak jangka panjang. Penyewaan mencakup ruang struktur vertikal menara guna penempatan antena frekuensi radio dan microwave, serta area lantai untuk shelter, kabinet perangkat elektronik, dan instalasi catu daya.

Perseroan juga menggelar fasilitas fiber to the tower (FTTT) guna mengoptimalkan kapasitas jaringan penyedia layanan telekomunikasi sekaligus menopang tren lonjakan lalu lintas data. Hingga penutupan Maret 2026, terdapat lebih dari 237.800 kilometer jaringan fiber optik aktif yang menghasilkan pendapatan.

Pada sektor fiber to the home (FTTH), portofolio aset Protelindo telah menjangkau sekitar 1.828.600 home passes dengan angka aktivasi tercatat sebanyak 26.742 per akhir Maret 2026.

Portofolio menara beserta fiber optik yang membentang luas ini memperkokoh posisi perseroan sebagai penyedia infrastruktur digital utama bagi operator komunikasi tingkat nasional, regional, maupun perusahaan penyedia jasa internet skala berkembang.

Protelindo menjalankan kegiatan bisnis secara independen di luar kendali operator seluler serta didukung oleh ragam basis pelanggan yang solid. Pelanggan utama perseroan meliputi jajaran operator telekomunikasi besar di Indonesia, seperti PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL), dan PT Indosat Tbk. (ISAT).

Terkini