Kesehatan Usus Memengaruhi Jerawat Simak Hubungan Gut Skin Axis

Senin, 24 Agustus 2026 | 02:48:31 WIB
Ilustrasi Muka Berjerawat.

JAKARTA - Perawatan kulit yang optimal tidak melulu bergantung pada penggunaan produk skincare semata. Asupan makanan serta kondisi sistem pencernaan juga memegang peranan vital bagi kesehatan kulit melalui poros komunikasi kompleks bernama gut-skin axis.

Keseimbangan mikrobioma usus yang mencakup bakteri, jamur, serta mikroorganisme lain terikat erat dengan daya tahan tubuh dan respons peradangan. Kala keseimbangan tersebut terganggu atau mengalami disbiosis, problem kulit seperti jerawat, eksim, hingga rosasea berisiko muncul.

Pencernaan memiliki fungsi vital, mulai dari membantu proses mengolah makanan, memproteksi imunitas, hingga memblokir patogen berbahaya.

Hambatan mikrobioma usus dipengaruhi oleh faktor pola makan tidak sehat, beban stres, penggunaan antibiotik, atau penyakit tertentu. Rentetan kondisi ini memicu timbulnya disbiosis yang memengaruhi laju peradangan tubuh.

Peradangan sistemik lantas merembet menjadi peradangan pada kulit. Pada kasus jerawat, ketidakseimbangan populasi bakteri usus dinilai mengganggu jalur peradangan serta memicu produksi minyak berlebih.

Penderita eksim atau dermatitis atopik juga kerap terdeteksi memiliki keberagaman mikrobioma usus yang lebih sedikit. Kondisi disbiosis disinyalir mampu memengaruhi respons kekebalan yang berujung pada kekambuhan eksim.

Fenomena senada nampak pada gangguan rosasea. Sejumlah studi mengaitkan masalah usus, seperti small intestinal bacterial overgrowth (SIBO), dengan kemunculan gejala tersebut meski mekanismenya masih terus diteliti secara medis.

Mekanisme komunikasi antarsistem usus dan kulit belum sepenuhnya terurai. Namun, mikrobioma usus terbukti memproduksi senyawa short-chain fatty acids (SCFA) yang bertugas mengontrol peradangan.

Bila mikrobioma terganggu, fungsi kontrol peradangan bergeser menjadi infeksi kronis. Kondisi ini yang kemudian memicu keluhan kulit seperti jerawat, eksim, serta psoriasis.

Sebaliknya, kerusakan pada lapisan pelindung kulit luar dapat memicu peradangan balasan. Kasus luka bakar berat menjadi contoh bagaimana rusaknya skin barrier dapat meningkatkan risiko infeksi dan mengganggu fungsi organ pencernaan.

Peran vitamin D juga menjadi fokus pengamatan. Vitamin D yang diproduksi kulit melalui paparan sinar matahari berperan menjaga imunitas sekaligus mempertahankan keutuhan dinding pencernaan.

Menjaga pencernaan tidak harus selalu bergantung pada produk suplemen. Beberapa kebiasaan harian dapat memelihara mikrobioma usus sekaligus menunjang kesehatan kulit:

Perbanyak makanan utuh

Pilihlah bahan pangan yang kaya akan serat dan antioksidan, seperti buah, sayur, kacang-kacangan, serta biji-bijian. Asupan pangan utuh mendukung mikrobioma dan menekan laju peradangan.

Makanan fermentasi seperti yoghurt, kefir, sauerkraut, serta kimchi juga sangat dianjurkan untuk dikonsumsi dalam porsi seimbang.

Perhatikan asupan gula dan makanan ultra-proses

Pola makan tinggi gula serta konsumsi makanan yang terproses tinggi memicu peradangan dan merusak keseimbangan mikrobioma, sehingga perlu dibatasi.

Cukupi kebutuhan cairan

Tercukupinya cairan mendukung kelancaran fungsi pencernaan dan menjaga kelembapan kulit, walau takarannya disesuaikan dengan kebutuhan individu.

Kelola stres

Stres berlebih yang bertahan lama berdampak buruk pada usus dan kulit akibat lonjakan hormon kortisol. Istirahat cukup, olahraga, dan relaksasi menjadi kunci penyeimbangnya.

Jangan berlebihan menggunakan produk perawatan kulit

Kulit sejatinya memiliki mekanisme pertahanan mandiri. Pengaplikasian produk yang berlebihan atau tak sesuai pH dapat memicu iritasi dan mengganggu kestabilan mikrobioma kulit.

Tetap gunakan tabir surya

Paparan sinar ultraviolet yang intens berisiko merusak jaringan kulit hingga memicu kanker. Penggunaan tabir surya tetap penting kala beraktivitas outdoor, seraya tetap menyeimbangkan kebutuhan paparan surya untuk vitamin D.

Terkini