Anak Pandai Berteman Simak 7 Ciri Perkembangan Sosial Menurut Studi

Senin, 24 Agustus 2026 | 02:56:10 WIB
Ilustrasi Anak Bermain Dengan Temannya.

JAKARTA - Bagi anak-anak, menjalin pertemanan merupakan bagian penting dari proses belajar mengenal orang lain sekaligus membina hubungan. Keterampilan bersosialisasi ini tidak sekadar diukur dari banyaknya jumlah teman.

Melihat buah hati dapat bermain ceria bersama kawan sebayanya tentu mendatangkan lega bagi orang tua. Interaksi sosial tersebut turut berperan aktif dalam mematangkan kecerdasan emosional anak.

Melalui kebiasaan bermain dan berinteraksi, si kecil berlatih menyesuaikan diri, memahami empati orang lain, serta mengurai berbagai dinamika dalam lingkungan pertemanan.

Kemampuan bersosialisasi anak bertumbuh secara bertahap sejalan dengan usia dan pengalaman. Pandai berteman tidak berarti anak harus mengumpulkan banyak teman.

Berikut 7 indikator yang menandai anak mulai kian mahir dalam berteman:

Mulai mau berbagi dan membantu

Anak mulai tergerak membagi mainannya, menolong kawan, atau menenangkan saat melihat temannya kesusahan. Tindakan sederhana ini termasuk perilaku prososial, yakni dorongan untuk memberi manfaat bagi sesama.

Melansir Developmental Psychology, studi pada anak usia 2 hingga 12 tahun menunjukkan keterkaitan kuat antara daya tangkap terhadap perasaan orang lain dan aksi prososial. Saat anak mulai memahami emosi temannya, ia akan merespons secara lebih suportif.

Bisa bekerja sama saat bermain

Momen bermain bersama mengajarkan anak untuk beradaptasi. Ia mulai terbiasa mematuhi aturan, bergantian, berbagi peran, serta tidak memaksakan kehendak pribadi.

Dinamika seperti berebut mainan masih wajar terjadi. Namun lambat laun, si kecil akan memahami bahwa bermain bersama memerlukan ruang untuk menghargai keinginan rekannya.

Mulai peka terhadap perasaan teman

Anak dengan perkembangan sosial yang baik mampu mendeteksi saat kawan bermainnya sedang merasa sedih, takut, atau kecewa.

Ia akan menunjukkan kepedulian lewat tindakan sederhana, seperti bertanya, mendekati kawan yang menangis, hingga berupaya menghibur. Empati menjadi fondasi utama untuk membangun relasi yang sehat.

Tidak langsung meninggalkan permainan saat bertengkar

Perselisihan kecil saat bermain adalah hal yang lumrah, mulai dari bentrok aturan hingga berebut peran.

Seiring kematangan sosialnya, anak belajar mengatasi konflik tersebut. Ia mulai berlatih menyampaikan keinginan, mendengarkan, bernegosiasi, dan mencari jalan keluar tanpa harus emosi atau langsung pergi.

Mulai memahami bahwa pertemanan itu timbal balik

Cara pandang anak terhadap ikatan teman terus berkembang. Pemahamannya bergeser dari sekadar berbuat baik menjadi kesadaran akan hubungan yang bersifat dua arah.

Ia mulai menyadari bahwa pertemanan mencakup proses saling memberi, menerima, menolong, serta memberi perhatian satu sama lain.

Bisa mempertahankan pertemanan

Memiliki jaringan pertemanan yang luas bukanlah satu-satunya tolok ukur. Hal yang lebih utama adalah bagaimana anak membina ikatan yang nyaman dan kondusif.

Ia memiliki teman akrab yang sering diajak beraktivitas, saling menopang, serta tetap menjaga komunikasi meski sesekali berselisih paham.

Merujuk riset Child Development yang melibatkan 22.657 anak dan remaja, sikap prososial berkorelasi erat dengan kualitas pertemanan yang positif. Kualitas ikatan jauh lebih bernilai dibanding kuantitas teman.

Mulai berani mendekati anak lain

Anak juga menunjukkan keberanian untuk mengawali interaksi, misalnya menghampiri rekan baru, membuka percakapan, atau bergabung ke dalam kelompok tanpa menunggu ajakan.

Keberanian memulai relasi ini merupakan bagian dari kompetensi sosial anak. Setiap individu memiliki ritme dan caranya tersendiri dalam merajut pertemanan.

Terkini