Perlukah Orang Tua Khawatir Ketika Anak Punya Kebiasaan Menelan Ingus

Rabu, 26 Agustus 2026 | 01:23:32 WIB
Ilustrasi Anak Mengeluarkan ingus.

JAKARTA — Kebiasaan anak yang sering menarik ingus dari hidung lalu menelannya kerap membuat orang tua bertanya-tanya mengenai dampaknya terhadap kesehatan.

Terlebih apabila perilaku tersebut dipraktikkan berulang kali. Benarkah tindakan menelan ingus dapat memicu timbulnya penyakit pada anak? Apa yang sebenarnya patut diwaspadai oleh para orang tua?

Lendir atau ingus hidung pada dasarnya mengemban fungsi yang amat penting. Mengutip Cleveland Clinic, lendir tersebut bertugas menangkap debu, serbuk sari, partikel asing, hingga mikroorganisme yang masuk ke saluran pernapasan.

Cairan lendir ini secara alami akan mengalir ke area tenggorokan belakang kemudian tertelan. Mekanisme fisiologis ini sebenarnya juga dialami oleh orang dewasa tanpa disadari.

Saat tertelan, ingus meluncur ke sistem pencernaan dan bakal diproses oleh asam lambung. Oleh sebab itu, menelan ingus umumnya bukan tergolong perilaku yang dapat menyebabkan anak jatuh sakit.

Tubuh manusia dibekali mekanisme mandiri untuk menyapu lendir keluar dari pernapasan, termasuk lewat gerakan silia serta respons menelan.

Adapun silia merupakan kumpulan jaringan berukuran mikro di rongga hidung yang berfungsi menyaring dan mengarahkan kotoran agar tidak memasuki saluran pernapasan lebih dalam.

Apabila anak mengambil ingus memakai jari tangan sebelum menelannya, poin utama yang perlu diawasi yaitu frekuensi aktivitas mengorek hidung tersebut.

Tindakan mengorek hidung sesekali mungkin tidak memicu masalah. Namun, bila dikerjakan terlalu sering atau amat dalam, jemari anak berisiko melukai jaringan sensitif di dalam rongga hidung.

Berdasarkan studi dalam Journal of Clinical Psychiatry (2001), perilaku mengorek hidung memang cukup lazim, tetapi dapat memicu dampak seperti iritasi, luka terbuka, hingga pendarahan mimisan.

Pada tingkatan yang lebih parah, kebiasaan mengorek hidung secara berulang dan kompulsif sanggup menimbulkan cedera serius. Gesekan trauma berulang dapat merusak sekat hidung, termasuk risiko perforasi septum.

Orang tua tidak perlu mendadak memarahi atau menakut-nakuti anak yang kepergok menelan ingus. Kebiasaan yang terjadi sesekali tersebut umumnya bukan gangguan kesehatan fatal.

Daripada melarang keras hingga memicu rasa takut, orang tua dapat membimbing anak menerapkan kebiasaan hidup bersih seperti:

Mengeluarkan ingus memanfaatkan lembaran tisu.

Segera membuang tisu yang telah dipakai.

Mencuci tangan pakai sabun seusai membersihkan area hidung.

Mencegah kebiasaan mengorek hidung terlalu dalam.

Jika anak terlampau sering mengorek hidung, orang tua disarankan memeriksa apakah kondisi organ pernapasannya sedang kering, tersumbat, atau merasa tidak nyaman. Masalah tersebut kerap mendorong anak memegang hidungnya.

Secara umum, menelan ingus cenderung aman. Hanya saja, kebiasaan mengorek hidung wajib diwaspadai apabila memicu pendarahan mimisan, luka perih, atau iritasi terus-menerus.

Orang tua perlu bertindak jika kebiasaan tersebut sangat sulit dihentikan hingga melukai fisik anak. Jika kondisi ini memburuk, orang tua disarankan melakukan konsultasi medis dengan dokter.

Terkini