Potensi Ekonomi Digital RI Rp10,64 Kuadriliun via DEFA ASEAN

Kamis, 27 Agustus 2026 | 20:19:02 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto [FOTO: NET].

JAKARTA - Pemerintah menyasar potensi nilai ekonomi digital Indonesia sanggup menembus angka US$600 miliar atau setara Rp10,64 kuadriliun melalui kesepakatan Digital Economy Framework Agreement (DEFA) pada cakupan tingkat ASEAN.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengutarakan bahwasanya DEFA ASEAN diproyeksikan dapat ditandatangani pada November 2026 di Manila, Filipina, sekaligus menjadi salah satu pijakan utama untuk memperkuat alur perdagangan digital di kawasan.

Salah satu prospek yang sanggup dimaksimalkan dalam waktu dekat melalui integrasi ekonomi digital tersebut adalah sektor sistem pembayaran. Airlangga menyampaikan bahwasanya QRIS telah terhubung dengan lima negara ASEAN dan terus dipacu supaya daya jangkauannya kian meluas.

“Jadi dengan ditandatanganinya DEFA, salah satu peluang yang paling cepat dimanfaatkan adalah integrasi sistem pembayaran. Nah, kami sudah punya payment system QRIS yang diharapkan bisa digunakan di seluruh negara Asean,” ujar Airlangga di Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Menurut pertimbangannya, penambahan cakupan penggunaan QRIS bakal menyajikan kemudahan bagi para pelaku UMKM saat melangsungkan transaksi lintas batas negara. Sistem transaksi digital tersebut dinilai sanggup memangkas beban biaya transaksi bagi pedagang, terutamanya lantaran bebas dari pengenaan merchant discount rate (MDR) pada skema tertentu.

Airlangga menilai prospek ini kian terbuka lebar seiring dengan melesatnya pertumbuhan pasar digital ASEAN. Merujuk pada kajian yang dikutipnya, potensi nilai pasar digital ASEAN berpeluang melonjak dari sebelumnya kisaran US$1 triliun menjadi US$2 triliun berkat hadirnya penguatan integrasi ekonomi digital.

“Bagi Indonesia sekitar 30%–40%, maka ini otomatis kami bisa mendorong digital economy ini sampai US$600 miliar,” katanya.

Atas dasar itu, Airlangga mengimbau agar semakin banyak pelaku UMKM yang masuk ke dalam ekosistem digital demi menyerap peluang pasar yang lebih lapang. Menurut pandangannya, komoditas lokal, terkhusus produk artisan, mengantongi potensi besar untuk dipasarkan kepada konsumen mancanegara melalui jalur kanal digital.

Ia mengimbuhkan, langkah digitalisasi dapat dijadikan salah satu jembatan bagi produk buatan Indonesia untuk menembus pasar internasional tanpa mesti bergantung sepenuhnya pada jalur perdagangan konvensional. Pemerintah pun mendorong penyedia platform e-commerce tidak cuma memfasilitasi transaksi domestik, melainkan turut menyokong aktivitas ekspor para pelaku usaha.

Airlangga turut menyoroti daya saing produk artisan Indonesia yang dinilai mumpuni untuk bersaing di ranah global. Menurutnya, pengokohan ekosistem digital beserta integrasi perdagangan kawasan wajib didayagunakan supaya komoditas tersebut sanggup merangkul konsumen di tingkat internasional.

“Produk-produk yang khas lokal ini bisa menembus pasar global tanpa harus terhambat oleh berbagai non-tariff barrier,” jelasnya.

Terkini