Pemerintah Hormati Kemandirian Muktamar ke-35 NU Tanpa Intervensi

Kamis, 27 Agustus 2026 | 01:34:02 WIB
Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i.

JAKARTA - Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menegaskan pemerintah menghormati kemandirian Nahdlatul Ulama (NU) dalam penyelenggaraan Muktamar ke-35 dan tidak akan melakukan intervensi terhadap dinamika internal organisasi.

“Pemerintah menghormati sepenuhnya kemandirian Nahdlatul Ulama dalam melaksanakan muktamar sebagai forum tertinggi organisasi. Pemerintah tidak akan melakukan intervensi atau ikut campur dalam dinamika dan proses internal Muktamar ke-35 NU,” ujar Romo Syafi’i di Jakarta, Kamis.

Ia menerangkan bahwa pemerintah mengembalikan seluruh alur, dinamika, ruang musyawarah, serta hasil keputusan Muktamar ke-35 secara utuh kepada pihak internal NU berdasarkan ketentuan organisasi yang berlaku.

Menurutnya, pihak pemerintah bakal senantiasa mengedepankan independensi serta tidak akan sedikit pun mencampuri proses internal forum tertinggi ormas keagamaan tersebut.

Wamenag turut menginstruksikan seluruh jajaran di Kementerian Agama, mulai dari tingkat pusat, wilayah provinsi, kabupaten/kota, hingga kecamatan untuk terus menjaga kedaulatan netralitas dan tidak terseret dalam dinamika internal Muktamar ke-35 NU.

“Seluruh jajaran Kementerian Agama harus tetap bekerja secara profesional, menjalankan tugas sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing, serta tidak memberikan dukungan atau keberpihakan kepada pihak maupun kandidat tertentu,” kata dia.

Ia mengimbau segenap aparatur Kemenag agar tetap tenang dan mengawal kondusivitas di wilayah kerja masing-masing, serta tidak mudah goyah oleh isu maupun informasi yang mengemuka sepanjang muktamar berlangsung.

Wamenag menekankan bahwa agenda pelayanan publik beserta pelaksanaan roda pemerintahan wajib senantiasa berjalan optimal tanpa gangguan.

Romo Syafi’i menilai NU selaku salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia bahkan skala global memiliki kedudukan yang amat strategis dalam konstelasi keberagamaan, kemasyarakatan, kebangsaan, dan iklim demokrasi tanah air.

Menurut Wamenag, para ulama pendahulu serta sesepuh NU telah menggariskan warisan nilai keulamaan yang adiluhung, seperti tawasuth, tasammuh, dan tawazun, seraya memberi teladan nyata dalam sikap kebangsaan, jiwa patriotisme, pengabdian, hingga keikhlasan untuk negara.

“Nilai-nilai luhur tersebut harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

NU berdampingan dengan ormas lain merupakan tiang penyangga utama sekaligus mitra strategis pemerintah untuk merawat kehidupan beragama, memperkokoh persatuan dan keharmonisan, serta mengawal perjalanan pembangunan bangsa.

Wamenag kembali menaruh harapan agar gelaran Muktamar ke-35 NU dapat terlaksana dengan semangat ukhuwah yang kental, menetapkan keputusan-keputusan terbaik, serta melahirkan nakhoda kepemimpinan yang berintegritas.

“Pemerintah menjaga netralitas, NU menentukan masa depannya sendiri,” kata Wamenag.

Terkini