Di Hadapan Peraih Nobel, Megawati Dorong Pengembangan AI Canggih

Jumat, 28 Agustus 2026 | 18:49:31 WIB
Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri [FOTO: NET].

JAKARTA - Presiden kelima Republik Indonesia sekaligus menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Megawati Soekarnoputri, melontarkan permohonan khusus kepada para ilmuwan agar bersedia mengembangkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sedemikian rupa sehingga mampu melampaui kapasitas kemampuan berpikir otak manusia.

Megawati menyampaikan seruan permintaan tersebut secara langsung di hadapan para tokoh peraih penghargaan Nobel, Turing Award, serta deretan ilmuwan terkemuka yang hadir berpartisipasi dalam agenda forum dialog bersama Presiden Timor-Leste, Jose Ramos Horta, bertempat di kawasan Megawati Institute, Jakarta, pada hari Kamis (28/8/2026).

"Spesial untuk yang namanya kecerdasan buatan, saya sangat memohon, meminta atensi dari para semua, para pintar yang ada di sini, kami benar-benar harus berpikir supaya kecerdasan buatan ini dapat melebihi otak manusia sendiri," ujar Megawati.

"Bagi saya, menurut saya, kecerdasan itu yang utama adalah dibuat oleh yang namanya the God," sambung dia.

Dalam momentum kesempatan yang sama, Megawati turut melemparkan pertanyaan kritis mengenai pihak manakah yang memegang kendali atas penguasaan teknologi AI serta apa motif utama di balik tujuan pemanfaatannya.

Menurut pandangannya, esensi pertanyaan tersebut memegang urgensi tinggi, khususnya bagi negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia.

"Siapa yang menguasai teknologi ini? Untuk kepentingan siapa sebenarnya teknologi ini digunakan? Dan siapa yang akan memperoleh, ini yang terutama, manfaat terbesar darinya?" kata Megawati.

Megawati menilai bahwa dinamika pesat perkembangan data serta teknologi mutlak memerlukan pengawasan ekstra ketat lantaran berpotensi menjelma sebagai instrumen instrumen hegemoni kekuasaan bentuk baru.

"Kami harus bersikap kritis ketika teknologi dan data dijadikan alat hegemoni baru," ujar Megawati.

Lebih lanjut, Megawati melontarkan pertanyaan mendasar mengenai apakah akselerasi kemajuan teknologi AI ini benar-benar bisa diarahkan guna merampungkan pelbagai persoalan pelik kemanusiaan.

Ia lantas mencontohkan realitas dampak destruktif dari daya ledak bom nuklir terhadap eksistensi manusia beserta kerusakan struktur gen atau DNA, yang menurut pengamatannya masih terus diwariskan dampaknya hingga ke generasi keturunan berikutnya.

"Apakah rasa kemanusiaan kami tidak bergerak sebagai scientist? Seharusnya kami dapat mengubah, kalau ada AI apakah tidak bisa berubah, diubah yang namanya gen atau DNA menjadi sesuatu yang positif untuk memperbaiki anak-anak yang betul-betul menjadi cacat padahal tidak ada rasa yaitu apa kesalahan mereka," kata Megawati.

Berdasarkan pandangan Megawati, arah haluan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mesti senantiasa dikonsentrasikan demi mewujudkan kemajuan peradaban umat manusia. Ia menegaskan kembali bahwa produk teknologi diciptakan semestinya murni berorientasi demi kepentingan manusia itu sendiri.

"Melalui forum inilah saya menyerukan pentingnya teknologi bagi kemajuan peradaban. Sekali lagi, kemajuan peradaban, bukan penghancuran peradaban," tegas Megawati.

Megawati turut menggarisbawahi prinsip bahwa setiap kemajuan teknologi, termasuk di dalamnya bidang AI, wajib senantiasa disandarkan pada fondasi tanggung jawab moral kemanusiaan yang kuat.

"Namun kami juga harus memperkuat tanggung jawab kemanusiaan agar kemajuan teknologi termasuk AI juga berorientasi pada kesetaraan antar bangsa dan tata dunia yang semakin berkeadilan," pungkas Megawati.

Terkini