Megawati Institute Gelar Dialog Bareng Presiden Timor-Leste & Nobel

Jumat, 28 Agustus 2026 | 19:05:32 WIB
Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri [FOTO: NET].

JAKARTA - Presiden Republik Indonesia kelima sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Megawati Soekarnoputri, memimpin penyelenggaraan forum dialog bersama Presiden Timor-Leste, José Ramos-Horta, dengan turut menghadirkan sejumlah tokoh terkemuka peraih penghargaan Nobel serta Turing Award pada hari Jumat (28/8/2026).

Agenda pertemuan strategis yang dihelat di kantor Megawati Institute, kawasan Jakarta tersebut berfokus membahas pelbagai dinamika perkembangan ilmu pengetahuan beserta teknologi mutakhir berikut implikasi dampaknya bagi kelangsungan hidup manusia serta kemanusiaan.

"Diharapkan agenda hari ini berjalan dengan lancar dan menjadi momentum untuk saling bertukar pikiran mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan berbagai isu terkini. Apalagi yang hadir merupakan para penerima Nobel dan Turing di bidangnya. Mereka adalah para pujangga pengetahuan," ujar Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto, Jumat (28/8/2026).

Berdasarkan keterangan Hasto, forum dialog tersebut dikemas secara khusus melalui penerapan format pertemuan meja bundar atau roundtable discussion. Dalam forum tertutup itu, Megawati, Ramos-Horta, serta jajaran para peraih penghargaan Nobel dan Turing Award secara bergantian memaparkan pandangan serta gagasan pemikiran masing-masing.

"Ibu Megawati duduk di satu meja bersama Presiden Ramos-Horta, Mas Prananda, Mbak Puan. Selain itu, Dubes Timor-Leste untuk Indonesia Roberto Sarmento de Oliveira Soares, penerima Hadiah Nobel Ilmu Ekonomi tahun 1997 Robert C. Merton dan istrinya, Azita Merton, serta Dewan Pengarah BRIN Bambang Kesowo," jelas Hasto.

Secara keseluruhan, rangkaian agenda pertemuan bergengsi tersebut dihadiri oleh total sebanyak 10 figur individu peraih Nobel—yang sudah mencakup sosok Presiden Ramos-Horta di dalamnya—beserta satu perwakilan dari institusi organisasi penerima anugerah Nobel, serta empat orang tokoh peraih penghargaan bergengsi Turing Award.

Hasto menerangkan bahwa kehadiran para peraih Nobel dan Turing Award tersebut merupakan bagian dari rombongan delegasi tamu undangan acara Science for Development Summit 2026.

Sebelum menyambangi ibu kota Indonesia, para delegasi kelas dunia itu terlebih dahulu mengikuti serangkaian agenda forum pembahasan serupa yang diselenggarakan di kota Dili, Timor-Leste.

"Mereka baru saja berbicara di forum Science for Development Summit 2026 di Dili, Timor-Leste. Presiden Ramos-Horta membawa seluruh delegasi untuk bertemu dengan Ibu Megawati dan pimpinan badan riset nasional," tutur Hasto.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Megawati Institute, Hilmar Farid, menjelaskan bahwa inisiatif penyelenggaraan pertemuan tingkat tinggi ini bermula dari adanya kesamaan visi dan pandangan antara Megawati dan Ramos-Horta. Kedua tokoh sentral tersebut sepakat memandang bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi memegang peranan vital sebagai instrumen kunci dalam menjawab pelbagai tantangan kompleks yang sedang dihadapi oleh peradaban umat manusia.

“Pertemuan ini pada dasarnya ingin mempertemukan ilmu pengetahuan dengan persoalan-persoalan nyata yang dihadapi dunia. Kami memiliki perkembangan sains dan teknologi yang luar biasa, tetapi pada saat yang sama kami menghadapi tantangan kemanusiaan, lingkungan, ekonomi, dan politik yang semakin kompleks,” kata Hilmar.

Atas dasar pertimbangan tersebut, format acara pertemuan dirancang secara khusus bukan dalam kerangka acara konferensi ilmiah formal yang memecah materi pembahasan ke dalam sekat-sekat disiplin ilmu yang kaku.

Acara dijalankan murni sebagai wadah dialog interaktif guna mempertemukan pelbagai latar belakang pengalaman serta sudut pandang multidisiplin.

“Yang penting bukan hanya menghadirkan orang-orang dengan pencapaian ilmiah yang sangat tinggi. Yang ingin dibangun adalah percakapan di antara mereka, dan juga dengan pemimpin politik, mengenai bagaimana pengetahuan dan teknologi dapat digunakan untuk menjawab persoalan bersama,” pungkas Hilmar.

Terkini