PT Bumi Menara Internusa Targetkan Produksi Olahan Laut 70.000 Ton

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:08:02 WIB
BMI Bidik Penggandaan Produksi Olahan Laut, Ekspor Jadi Andalan [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Bumi Menara Internusa (BMI) membidik peluang untuk melipatgandakan kapasitas produksi olahan hasil laut hingga menyentuh angka kisaran 70.000 ton per tahun dari posisi eksisting saat ini yang berada di level 35.000 ton per tahun. 

Pihak korporasi menyatakan bahwa fasilitas pabrik pengolahan yang mereka miliki masih menyisakan ruang ekspansi yang sangat luas, mengingat kapasitas produksi saat ini baru dikalkulasikan berdasarkan operasional satu shift kerja saja.

Direktur PT BMI, Aris Utama, memaparkan bahwa kapasitas produksi perusahaan saat ini tercatat sebesar 35.000 ton per tahun yang terdistribusi ke dalam tujuh unit pabrik di seluruh wilayah Indonesia. Melalui optimalisasi sistem operasional secara menyeluruh, kapasitas tersebut diyakini masih sanggup didongkrak naik hingga 100 persen.

“Saat ini kapasitas produksi mencapai 35 ribu ton per tahun dari tujuh pabrik BMI se-Indonesia. Kami mempekerjakan 15 ribu karyawan. Pabrik kami masih bisa meningkatkan produksi hingga 100 persen, karena saat ini kapasitas produksi 35 ribu ton hanya dari satu shift saja,” katanya dalam siaran pers, Kamis (27/8/2026).

Prospek peningkatan volume produksi ini berjalan lurus dengan orientasi bisnis perusahaan yang sepenuhnya berfokus pada pasar ekspor. Aris mengungkapkan bahwa seluruh hasil olahan produk kelautan BMI saat ini diserap secara penuh oleh pasar internasional. 

Negara Amerika Serikat menduduki porsi sebagai pangsa pasar terbesar dengan tingkat kontribusi mencapai sekitar 80 persen dari total keseluruhan volume ekspor perusahaan. Selain itu, ragam produk BMI turut diekspor ke negara Jepang, kawasan Eropa, dan Republik Rakyat Tiongkok (China).

Ditinjau dari komposisi komoditas, produk udang menjadi primadona utama yang mendominasi sekitar 70 persen dari total ekspor, disusul oleh komoditas gurita, aneka jenis ikan, serta rajungan.

Aris menyampaikan bahwa realisasi peningkatan kapasitas produksi ini akan sangat bergantung pada tingkat ketersediaan pasokan bahan baku. Guna mencukupi kebutuhan operasional tersebut, pihak BMI secara proaktif memburu pasokan hasil tangkapan laut dari berbagai penjuru wilayah nusantara, mencakup daerah Papua, Medan, hingga Makassar.

“Kami selalu berupaya terus mencari bahan baku produksi hingga ke ujung Indonesia seperti Papua, Medan, dan Makassar, dengan tetap menjaga kesegaran hasil tangkapan dan kualitas dengan baik,” ujarnya.

Di samping mengandalkan pasokan dari sektor domestik, BMI turut mengolah komoditas hasil laut yang didatangkan dari luar negeri guna mengakomodasi preferensi spesifik dari konsumen pasar ekspor global. Salah satu contohnya adalah komoditas ikan yang diimpor langsung dari wilayah Alaska untuk kemudian diproses di fasilitas pabrik perusahaan menjadi produk siap saji yang siap diekspor kembali.

Guna memperkokoh rantai pasok bahan baku, BMI juga membangun jalinan kemitraan strategis bersama para petambak lokal di berbagai daerah sentra budidaya. Jaringan kemitraan tersebut tersebar di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Lombok, Sumbawa, Jawa Barat, kawasan Sumatra bagian selatan, hingga Sulawesi.

“Saban hari kami membeli 150 ton udang dari petambak nasional,” kata Aris.

Sementara itu, untuk komoditas rajungan, pihak BMI menggandeng sejumlah sentra produksi lokal, termasuk di wilayah Cirebon, Jawa Barat. Kemitraan ini dijalankan melalui skema program pembinaan guna menjaga standar mutu bahan baku sekaligus membuka peluang lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat di sekitar daerah sentra produksi.

Di tengah momentum peluang ekspansi kapasitas tersebut, pihak pemerintah secara aktif mendorong para pelaku industri pengolahan hasil perikanan nasional untuk memperkuat tingkat daya saing agar mampu memenangkan persaingan di pasar global.

Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi kekayaan bahari yang luar biasa besar untuk menggenjot volume ekspor produk olahan hasil laut, terkhusus pada komoditas udang. Kendati demikian, Indonesia masih harus menghadapi ketatnya rivalitas dari negara-negara produsen pesaing seperti Ekuador dan India.

“Tantangan kami harus bisa buat inline bahan baku dari hulu hingga ke proses pengolahan. Saat ini, kami masih kalah dari negara produsen udang, terutama budidaya udang. Kami minta, secara bersama-sama, memperbaiki teknis di hulu untuk bahan baku yang melimpah agar bisa diproses dengan cepat,” ujar Faisol.

Menurut pandangan Faisol, penguatan rantai pasok yang terintegrasi secara utuh mulai dari sektor hulu hingga lini industri pengolahan hilir mutlak diperlukan agar potensi besar sektor perikanan nasional dapat dikonversi secara optimal menjadi produk ekspor bernilai tambah tinggi.

Terkini