Alasan Pasangan Tetap Kesal Meski Sudah Bantu Pekerjaan Rumah

Jumat, 28 Agustus 2026 | 04:26:02 WIB
Ilustrasi Pekerjaan Rumah Tangga.

JAKARTA - Pekerjaan rumah sering kali terlihat seperti urusan sederhana. Mencuci piring, membersihkan rumah, memasak, atau berbelanja kebutuhan sehari-hari merupakan aktivitas yang berulang dan harus dilakukan. Namun, ketika pembagian tugas di rumah terasa tidak seimbang, persoalannya bisa berkembang menjadi sumber ketegangan dalam hubungan.

Melansir penelitian dari University of Queensland (UQ), pekerjaan rumah ternyata tidak hanya berkaitan dengan tugas fisik. Ada pula beban untuk memikirkan, merencanakan, menjadwalkan, hingga mengantisipasi kebutuhan anggota keluarga yang sering kali tidak terlihat.

Salah satu peneliti dari UQ, Dr Sarah Coundouris, meneliti pembagian pekerjaan rumah pada 235 pasangan heteroseksual dan kaitannya dengan kualitas hubungan.

Penelitian tersebut membagi pekerjaan rumah ke dalam tiga jenis, yakni beban fisik, kognitif, dan emosional.

Beban fisik mencakup pekerjaan yang selama ini lebih mudah dikenali sebagai pekerjaan rumah, seperti mencuci, membersihkan rumah, dan memasak. Sementara itu, beban kognitif mencakup aktivitas seperti membuat daftar belanja dan mengatur jadwal, sedangkan beban emosional meliputi mengantisipasi kebutuhan, merawat, menghibur, dan menenangkan anggota keluarga.

Menurut Coundouris, perempuan masih mengambil porsi lebih besar dalam berbagai pekerjaan tersebut meskipun kesetaraan gender telah berkembang.

"Meskipun ada kemajuan menuju kesetaraan gender, perempuan masih mengambil sebagian besar pekerjaan yang diperlukan untuk mengurus rumah tangga," tuturnya.

Perbedaan paling terlihat terdapat pada beban kognitif. Perempuan dalam penelitian tersebut melaporkan mengambil hampir 25 persen lebih banyak tugas untuk berpikir, merencanakan, dan menjadwalkan berbagai urusan rumah serta keluarga dibandingkan yang dilaporkan pasangannya.

Artinya, seseorang bisa saja merasa sudah membantu pekerjaan rumah karena ikut mencuci piring atau membersihkan rumah. Namun, ada pekerjaan lain yang tetap harus dipikirkan sebelum tugas tersebut dilakukan, seperti mengingat bahan makanan yang habis, menentukan kapan harus berbelanja, mengatur janji keluarga, atau memastikan kebutuhan rumah terpenuhi.

Penelitian tersebut juga melihat bukan hanya seberapa banyak pekerjaan yang dilakukan masing-masing pasangan, tetapi bagaimana keduanya memandang pembagian tugas tersebut. Hasilnya, pasangan yang memiliki pandangan berbeda mengenai pembagian pekerjaan fisik dan emosional melaporkan tingkat ketidakbahagiaan yang lebih tinggi dalam hubungan.

Temuan tersebut paling kuat terlihat pada perempuan. Coundouris mengatakan, dua orang dalam hubungan yang sama bisa memiliki pengalaman dan penilaian yang berbeda mengenai pembagian tanggung jawab di rumah.

"Temuan ini menunjukkan bahwa dua orang dalam hubungan yang sama dapat mengalami dan memaknai pembagian tanggung jawab rumah tangga dengan cara yang sangat berbeda, dan perbedaan tersebut berpengaruh terhadap kualitas hubungan," ujarnya.

Menurutnya, semakin besar perbedaan pandangan pasangan mengenai pembagian pekerjaan rumah, semakin buruk pula kualitas hubungan yang mereka laporkan.

"Temuan kami menunjukkan bahwa semakin besar perbedaan pandangan pasangan mengenai bagaimana pekerjaan rumah dibagi, semakin buruk kualitas hubungan mereka," jelas Coundouris.

Karena itu, pembagian pekerjaan rumah tidak hanya perlu dilihat dari siapa yang melakukan tugas fisik. Beban untuk mengingat, merencanakan, menjadwalkan, mengantisipasi, dan merawat juga menjadi bagian dari pekerjaan rumah yang perlu diperhitungankan dalam hubungan.

Dengan memahami berbagai bentuk tanggung jawab tersebut, pasangan dapat memiliki gambaran yang lebih utuh mengenai pekerjaan yang dijalankan masing-masing dalam keseharian. Hal ini juga dapat menjadi bahan pembicaraan ketika pembagian tugas mulai dirasa tidak seimbang.

Terkini