Syarat Memilih Jenis Kelamin Anak pada Program Bayi Tabung

Jumat, 28 Agustus 2026 | 04:33:32 WIB
Ilustrasi Bayi Tabung.

JAKARTA - Program bayi tabung saat ini tidak sekadar menjadi jalan keluar bagi pasangan yang mengalami kesulitan memperoleh keturunan secara alami. Seiring pesatnya kemajuan teknologi reproduksi, timbul rasa penasaran pada masyarakat mengenai peluang merencanakan jenis kelamin calon buah hati. Banyak pasangan suami istri mempertanyakan kemungkinan menentukan anak laki-laki atau perempuan ketika menjalani prosedur tersebut.

Pemilihan jenis kelamin lewat tindakan medis sebenarnya bukan hal yang tidak mungkin untuk direalisasikan saat ini, terang Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM.

Kendati teknologinya telah tersedia, penerapannya tidak dapat dilakukan secara bebas karena berkaitan dengan etika, norma yang ketat, serta keseimbangan populasi secara menyeluruh.

Di Indonesia, dr. Budi menegaskan bahwa pasien tidak diizinkan menentukan jenis kelamin anak pada kehamilan pertama. Pembatasan tersebut diberlakukan guna mencegah ketimpangan populasi laki-laki dan perempuan di masa mendatang. Ketetapan ini diambil sebagai langkah pencegahan supaya kondisi sosial tetap seimbang.

"Makanya anak kedua boleh memilih. Kalau anak pertama dia laki-laki, boleh milih perempuan. Supaya balance," terang dia dalam acara media gathering untuk memperingati lima tahun kehadiran RS Pondok Indah IVF Centre di Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Tindakan memilah jenis kelamin anak juga berhubungan erat dengan persoalan etika yang amat sensitif dalam dunia medis internasional. Maka dari itu, pilihan ini tidak dapat diberikan secara sembarangan tanpa acuan yang jelas.

"Dan itu playing the God ya. Itu sebenarnya juga isunya banyak. Tidak semua negara membolehkan sex selection kecuali atas indikasi," jelas dr. Budi.

Secara teknis, penentuan jenis kelamin bukanlah sesuatu yang diubah secara bebas di laboratorium, melainkan murni berdasarkan materi genetik bawaan dari pihak suami.

Teknologi bayi tabung memungkinkan tim medis menyaring benih terbaik berdasarkan struktur genetik.

"Artinya kan pemilihan jenis kelamin itu kan pakai teknologi ya. Dan jenis kelamin itu sangat tergantung dari kromosom yang dimiliki oleh sperma suami," ucap dr. Budi.

Di dalam sel reproduksi pria, terdapat dua tipe kromosom seks yang bakal menentukan wujud janin ke depannya, yakni kromosom X dan Y. Tim dokter bakal memeriksa dominasi kedua kromosom tersebut sebelum melangkah lebih jauh.

"Jadi sperma suami itu banyakan X atau banyakan Y? Itu bisa dicek," dokter Budi berujar.

Berdasarkan hasil pemeriksaan kromosom, barulah dokter dapat memprediksi jenis kelamin calon bayi yang akan terbentuk.

"Kalau kromosomnya banyakan X, kemungkinan besar perempuan, tapi kalau kromosomnya banyakan Y, kemungkinan besar laki-laki," jelas dr. Budi.

Mengingat prosesnya sangat bergantung pada struktur genetik benih, seluruh pemeriksaan wajib dirampungkan di awal proses bayi tabung. Pasangan suami istri dapat mengetahui peluang jenis kelamin anaknya bahkan sebelum sel telur bertemu sperma di dalam inkubator.

"Dari awal bisa dicek probability berapa persen dia punya anak perempuan, berapa persen dia punya anak laki-laki," terang dr. Budi.

Persentase peluang tersebut diperoleh usai dokter meneliti sampel di laboratorium. Tingkat keakuratan perkiraan medis sepenuhnya bergantung pada hasil temuan perbandingan kromosom tersebut.

"Itu bisa dicek dari proporsi kromosom seks pada sperma," kata dr. Budi.

Terkini