Pentingnya Identitas dan Desain Bagi Produk Lokal Premium

Jumat, 28 Agustus 2026 | 04:51:02 WIB
Ilustrasi jam tangan.

JAKARTA - Barang dengan patokan harga relatif murah saat ini tidak melulu dianggap sebagai pilihan kelas bawah. Di tengah tren masyarakat yang makin jeli dalam bertransaksi, merek dalam negeri justru mengantongi peluang besar guna menyuguhkan sensasi premium tanpa mesti mematok harga setinggi barang mewah.

Fenomena tersebut terlihat dari maraknya konsep affordable luxury, yakni saat pembeli memburu barang dengan tampilan atraktif, mutu terjamin, karakter tegas, serta menyajikan pengalaman unik namun ramah di kantong.

Pengajar Fakultas Bisnis Universitas Multimedia Nusantara, Trihadi Pudiawan Erhan, memaparkan bahwa daya pikat affordable luxury bermula dari penyesuaian antara kemampuan finansial dan impian gaya hidup.

"Affordable luxury menjawab kebutuhan tersebut dengan menawarkan desain, kemasan, cerita, kualitas, atau pengalaman yang menyerupai produk mewah pada tingkat harga yang masih dapat dijangkau," ujar Trihadi saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (28/7/2026).

Menurutnya, pembeli tidak semata memboyong fisik barang, tetapi turut berburu nilai lambang yang mampu mencerminkan kepribadian mereka. Lantaran itu, suatu merek tidak cukup sekadar mengandalkan label murah untuk dapat tergolong ke dalam kelas affordable luxury.

Merek Perlu Mengedepankan Sisi Mewah

Trihadi menilai, lini usaha yang berniat membangun citra affordable luxury patut mengedepankan sisi kemewahan dibanding melulu mengobral isu harga terjangkau. Apabila faktor keterjangkauan terlalu sering dijajakan, barang tersebut malah berisiko dianggap sebagai produk murahan atau sekadar bentuk kompromi dari barang mewah.

"Pesan yang dibangun sebaiknya bukan 'produk murah yang terlihat mewah', melainkan 'produk premium yang masih dapat dijangkau'," kata Trihadi.

Kesan mewah tersebut dapat dibentuk dari mutu barang, bentukan desain, kemasan, riwayat produk, layanan konsumen, hingga pengalaman berbelanja. Hal ini juga diterapkan oleh Eboni Watch, produsen jam tangan lokal yang menempatkan hasil karyanya bukan cuma sebagai alat penunjuk jam, melainkan sebagai penunjang gaya busana.

Pendiri sekaligus pemilik Eboni Watch, Afidha Fajar Adhitya, menerangkan bahwa mayoritas pembeli memboyong karyanya lantaran kepikat visual tampilannya.

"Yang dibeli Eboni itu adalah memperlakukan jam Eboni sebagai aksesori fashion, aksesori untuk tampil, untuk fashion statement. Jadi sudah bukan lagi soal fungsinya sebagai jam tangan melihat waktu. Itu kemudian jadi tujuan sekundernya," ujar Afidha saat diwawancarai Kompas.com, Kamis (30/7/2026).

Menurut Afidha, Eboni menguatkan karakter melalui rupa nan feminin, lekukan membulat, serta pemakaian warna-warna tegas dan mencolok. Kendati demikian, fungsionalitas tetap dipertahankan sebagai elemen penting.

Afidha menjelaskan, Eboni berusaha memberikan nilai plus lewat fitur tahan air pada semua koleksinya serta jaminan layanan purnajual.

"Jadi orang enggak cuma dapat fashionablenya, tapi juga dapat secara fungsi, secara ketahanan itu oke," ujarnya.

Karakter Diri Menjadi Pembeda Merek Lokal

Menurut Trihadi, usai memenuhi standar dasar dari sisi mutu, bentukan visual, kemasan, pelayanan, hingga pengalaman, suatu merek wajib mengantongi identitas yang tegas. Ia menunjuk aspek who dan why sebagai tiang utama pendukung citra kelas atas.

Who tidak melulu berkaitan dengan klasifikasi pembeli berdasar umur atau penghasilan, melainkan juga jati diri yang ingin ditunjukkan penggunanya. Sementara itu, why menerangkan alasan sebuah merek layak dipandang istimewa, mencakup nilai moral, pemicu inspirasi, sudut pandang, hingga pengalaman yang dihadirkan bagi pembeli.

Sisi tersebut menjadi salah satu fondasi utama yang diusung Eboni.

Afidha memaparkan bahwa Eboni tidak cuma mengusung identitas fisiknya, melainkan juga riwayat daerah asal tempat merek itu tumbuh, yaitu di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.

"Kami bisa bertumbuh dan berkembang di desa dengan segala macam potensinya. Kami keluarkan dengan konten-konten yang memperlihatkan kalau Eboni itu brand yang bukan dari kota besar, tapi dari desa," kata Afidha.

Menurutnya, kisah perjalanan tersebut menjelma sebagai bagian dari jati diri Eboni yang terus dibawa bersama tiap unit produknya.

Kerja Sama dan Koleksi Terbatas Menambah Kesan Eksklusif

Di samping identitas, jurus kerja sama serta pembatasan jumlah produksi sanggup mendongkrak nilai simbolis suatu barang. Trihadi membeberkan, edisi terbatas, kolaborasi, dan kelangkaan sanggup menghadirkan nuansa eksklusif lantaran tidak setiap orang dapat memilikinya.

Afidha menguraikan, Eboni turut melancarkan jurus sejenis lewat proyek kolaborasi bersama beragam pihak yang memiliki reputasi kuat.

Kerja sama tersebut di antaranya pernah terjalin dengan Candi Prambanan, Candi Borobudur, pembuat produk perawatan kulit, film Jumbo, serta majalah Bobo. Menurut Afidha, langkah kolaborasi tidak semata diincar untuk memacu angka penjualan.

"Kalau ngomongin kolaborasi, sebenarnya yang dikejar bukan penjualan, tapi branding. Bagaimana kami bisa dikenal orang lain," ujarnya.

Taktik tersebut juga dipraktikkan dengan membatasi lokasi penjualannya. Sejumlah hasil kolaborasi hanya dilepas pada titik lokasi tertentu, sedangkan koleksi terbatas lainnya cuma disajikan lewat situs web resmi. Menurut Afidha, batas tersebut ampuh menghadirkan rasa eksklusif sekaligus mengerek nilai merek.

Pusat Perbelanjaan Mulai Menjual Pengalaman

Pergeseran selera pembeli turut mengubah siasat pengelola pusat perbelanjaan. Chief Commercial Officer PT Lippo Malls Indonesia, Rita Yovita, memaparkan bahwa terjadi lonjakan pada lini affordable luxury, termasuk pada gerai kuliner premium dan gaya busana.

Pembeli, lanjut Rita, saat ini makin cermat sebelum memutuskan bertransaksi. Mereka terbiasa melakukan riset, menimbang kisaran harga, serta berburu barang yang sepadan dengan uang yang dikeluarkan.

"Jadi mal bukan lagi sekadar tempat untuk bertransaksi, tapi semakin menjadi destinasi untuk experience," ujar Rita saat dihubungi Kompas.com, Rabu (29/7/2026).

Lantaran hal itu, pusat perbelanjaan berbenah menguatkan konsep retail berbasis pengalaman, menggelar kegiatan komunitas, serta menggandeng penyewa yang menawarkan interaksi belanja seru.

Jurus tersebut beriringan dengan ikhtiar merek dalam menciptakan pengalaman yang personal dan berkesan. Bagi Trihadi, pada akhirnya masyarakat bersedia merogoh kocek lebih dalam sewaktu melihat perbedaan nyata, menikmati pelayanan yang memuaskan, serta mengantongi nilai simbolis yang tak dijumpai pada barang pasaran.

Afidha pun menilai celah affordable luxury di Tanah Air masih terbuka lebar, khususnya bagi merek lokal yang sanggup menyuguhkan keunikan.

Menurutnya, segmen pembeli tertentu kini tidak lagi cuma memikirkan harga, melainkan berburu barang yang penuh kejutan dan berkarakter kuat.

"Yang mereka persaingkan itu sudah bukan harga, tapi uniqueness. Jati diri mereka masing-masing," kata Afidha.

Dengan begitu, konsep affordable luxury bukan sekadar urusan memangkas harga barang mewah menjadi murah. Lebih jauh lagi, strategi ini membuktikan kemahiran merek lokal dalam membangun daya pikat lewat perpaduan desain, keunggulan fungsi, ketegasan identitas, pelayanan memikat, serta keunikan yang membuat konsumen memperoleh nilai lebih.

Terkini