Pendapatan BNBR Melonjak 45 Persen Ditopang Sektor Tol dan EV

Minggu, 30 Agustus 2026 | 18:51:01 WIB
Ilustrasi Kondisi Pabrik PT Bakrie & Brothers Tbk.

JAKARTA — PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) mencatatkan lompatan kinerja operasional sepanjang semester I/2026 yang disokong oleh pertumbuhan pendapatan dari seluruh lini bisnis utama perseroan.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, emiten grup Bakrie ini mengantongi pendapatan bersih sebesar Rp2,59 triliun. Capaian tersebut naik 45,84 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu senilai Rp1,77 triliun.

Sejalan dengan kenaikan pendapatan, laba usaha BNBR melesat 283,21 persen year on year (YoY) menjadi Rp301,53 miliar dari sebelumnya Rp78,68 miliar. Adapun EBITDA perseroan terkerek 230,93 persen YoY menjadi Rp423,04 miliar.

Direktur Utama & CEO BNBR Anindya N. Bakrie menyatakan bahwa pertumbuhan kinerja operasional di tengah ketidakpastian ekonomi global mencerminkan eksekusi strategi serta adaptabilitas lini usaha perseroan.

“Hal ini menjadi bukti bahwa strategi, adaptabilitas, serta kerja keras seluruh tim mulai memperlihatkan hasil,” ujarnya dikutip Sabtu (29/8/2026).

Secara terperinci, pendapatan PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN) Group mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 256,1 persen YoY menjadi Rp626,78 miliar, didorong oleh konsolidasi penuh PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT).

Selanjutnya, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) Group menyumbang pendapatan sebesar Rp646,61 miliar atau naik 56,2 persen YoY berkat peningkatan penjualan kendaraan listrik (EV) serta suku cadang. Sementara itu, PT Bakrie Metal Industries (BMI) Group meraup pendapatan Rp1,3 triliun atau tumbuh 10,2 persen YoY.

Wakil Direktur Utama & Co-CEO BNBR A. Ardiansyah Bakrie menambahkan bahwa pembenahan struktur permodalan perseroan turut diperkuat oleh penuntasan aksi korporasi di pasar modal.

“Perseroan telah menyelesaikan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu [rights issue] pada akhir Juli 2026 dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp4,76 triliun,” ungkap Ardi.

Di sisi lain, meski kinerja operasional melaju pesat, BNBR menghadapi tantangan pada pos laba bersih akibat faktor beban keuangan eksternal. Hingga semester I/2026, perseroan tercatat membukukan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp224,81 miliar.

“Penurunan laba bersih yang terutama disebabkan oleh dampak eksternal berupa kenaikan floating rate terhadap beban bunga CCT, khususnya pada tahun-tahun awal setelah akuisisi ketika komponen beban bunga masih relatif tinggi,” pungkas Direktur BNBR Roy Hendrajanto M. Sakti.

Terkini