Kejar Ekonomi 6 Persen Menkeu Patok Investasi Tumbuh 7 Persen

Selasa, 01 September 2026 | 02:38:32 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mematok target laju pertumbuhan investasi hingga menyentuh angka tujuh persen demi memacu pergerakan ekonomi nasional agar sanggup menembus target enam persen pada 2027.

“Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi mencapai 6 persen di tahun 2027, dibutuhkan akselerasi pertumbuhan investasi hingga 7 persen,” ujar Purbaya dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Selasa.

Ia menyampaikan bahwasanya realisasi dari pemenuhan target tersebut bakal direalisasikan lewat kolaborasi padu antara jajaran pemerintah, lini sektor swasta, beserta institusi Danantara.

Pihak pemerintah diplot untuk menjalankan peran selaku katalisator investasi, sedangkan sektor swasta diharapkan tampil menjadi motor penggerak utama investasi. Sementara itu, Danantara diarahkan guna mengakselerasi investasi produktif, terkhusus pada sektor strategis serta proyek hilirisasi bernilai tambah tinggi.

“Agar setiap instrumen dapat bekerja secara optimal dan saling menguatkan, pemerintah akan memperkuat sinergi kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan Danantara,” ujar dia.

Lebih jauh, Purbaya menerangkan bahwa langkah akselerasi investasi wajib diimbangi oleh konsistensi stabilitas ekonomi makro guna menghadirkan kepastian hukum, mendongkrak optimisme pelaku ekonomi, serta memacu iklim investasi secara berkelanjutan.

Pemerintah, imbuh Menkeu, bakal mengawal stabilitas tersebut melalui deretan instrumen kebijakan, salah satunya peredaman laju inflasi demi membentengi daya beli masyarakat, tingkat konsumsi, serta gairah investasi.

Di samping itu, pemerintah bakal mengondisikan agar tingkat suku bunga tetap kompetitif demi mempermudah akses pembiayaan, memperkokoh kepercayaan dunia usaha, serta mendorong ekspansi investasi. Pemerintah berdampingan dengan Bank Indonesia (BI) pun bakal terus mengawal stabilitas nilai tukar rupiah.

“Kebijakan tersebut ditujukan untuk memperkuat ketahanan ekonomi, memitigasi dampak global, serta memberikan kepastian bagi dunia usaha dalam mengambil keputusan investasi dan ekspansi,” ujar dia.

Purbaya menegaskan bahwasanya penetapan target pertumbuhan investasi ini disokong oleh fondasi fundamental ekonomi nasional yang senantiasa kokoh di tengah gejolak ketidakpastian global.

Pada paruh semester I 2026, kondisi perekonomian Indonesia berhasil tumbuh 5,45 persen secara akumulatif (cumulative-to-cumulative), sementara tingkat inflasi terbukti tetap aman terkendali. Ketersediaan likuiditas perbankan pun dinilai teramat memadai untuk menopang penyaluran fasilitas kredit.

Catatan neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari sampai Juni 2026 konsisten mencatatkan nilai surplus, sedangkan posisi cadangan devisa hingga rentang Juli 2026 menyentuh angka 145,3 miliar dolar AS.

Sinyal sentimen positif pada pasar keuangan domestik terus bergulir manis, yang mana tercermin dari menguatnya kurs nilai tukar rupiah, lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), serta pergerakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang kondusif.

Derasnya aliran arus modal masuk (inflow) hingga kurun 28 Agustus 2026 terekam berhasil menembus angka Rp140,6 triliun.

Terkini