JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Kamis (3/9/2026). Penopang utama laju indeks berasal dari kenaikan saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BYAN, hingga ASII.
Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG terangkat 1,09 persen atau naik 72,11 poin menuju level 6.667,89. Pada penutupan tersebut, tercatat 415 saham menguat, 228 saham mengalami penurunan, dan 320 saham bergerak stagnan.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta mengungkapkan bahwa gerak indeks dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global. Laju inflasi Agustus 2026 yang terjaga serta surplus neraca perdagangan menjadi penopang dari dalam negeri.
Kendati demikian, risiko eksternal dinilai masih kuat, khususnya akibat eskalasi konflik Amerika Serikat dengan Iran serta ketegangan di Selat Hormuz yang berpotensi menahan harga minyak tetap tinggi.
"Kondisi tersebut dapat kembali memicu kekhawatiran inflasi global dan membuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama," kata Nafan dalam riset harian.
Di samping itu, JP Morgan Sekuritas Indonesia menetapkan proyeksi IHSG berada di level 7.000 pada akhir 2026, memangkas target awal tahun yang sempat dipasang pada level 10.000.
Head of Indonesia Equity Research JP Morgan Indonesia Benny Kurniawan menuturkan terdapat sejumlah ganjalan bagi pasar modal domestik, di antaranya tingginya suku bunga, tren kenaikan harga minyak, serta potensi lonjakan harga pangan.
“Tetapi dengan postur APBN yang kami lihat, kami rasa perekonomian akan cukup stabil. Tim JP Morgan masih mengekspektasikan IHSG di Desember pada level 7.000,” ucap Benny.
Benny menguraikan bahwa sejak awal tahun IHSG telah terkoreksi 23 persen akibat tekanan eksternal seperti naiknya harga minyak, suku bunga tinggi, dan lonjakan imbal hasil obligasi negara maju. Fenomena El Nino juga memicu kekhawatiran investor terkait pasokan pangan.
“El Nino itu secara historis tidak baik untuk produksi makanan di Indonesia dan di negara-negara dekat kami, especially beras, gula, kopi, lalu juga gandum. Kami adalah salah satu negara pengimport gandum yang paling besar di dunia ini dan harga gandum sebenarnya sudah naik cukup banyak,” kata Benny.
Sementara itu, CEO and Senior Country Officer JP Morgan Indonesia Gioshia Ralie memandang realisasi pertumbuhan PDB Indonesia pada kuartal I 2026 dan II 2026 memberi sinyal positif bagi pasar.
“Jadi sentimen positif itu akan memberikan satu boost ke market untuk bisa berpikir lebih dan spend more,” tutur Gioshia.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menambahkan bahwa data ketenagakerjaan AS (nonfarm payrolls) menjadi katalis utama bagi ekspektasi arah kebijakan suku bunga The Fed.
“Data tersebut menjadi penting bagi ekspektasi arah kebijakan The Fed; data tenaga kerja yang lebih lemah dapat meningkatkan ekspektasi pelonggaran, sementara data yang solid berpotensi mempertahankan stance hawkish,” ujar Reza.
Adapun pada perdagangan Jumat (4/9/2026), IHSG sempat dibuka naik 0,43 persen ke posisi 6.695 pada pagi hari. Namun, laju indeks berbalik melemah 0,11 persen di sesi I ke posisi 6.660,79.
Pada penutupan perdagangan Jumat (4/9/2026), IHSG resmi berakhir di zona merah dengan penurunan 0,47 persen atau terkoreksi 31,41 poin menuju posisi 6.636,47.