Ketahui Bahaya Saraf Kejepit Akibat Kerja Hybrid dan Cara Atasinya

Jumat, 04 September 2026 | 04:39:01 WIB
Ilustrasi Saraf Kejepit.

JAKARTA — Bekerja secara hybrid maupun remote dari kafe, kamar tidur, atau sofa memang menawarkan kenyamanan tersendiri tanpa perlu menghadapi kemacetan lalu lintas.

Namun, posisi duduk yang kurang tepat saat bekerja dapat memicu ancaman serius bagi kesehatan tulang belakang, seperti timbulnya Herniated Nucleus Pulposus (HNP) atau saraf kejepit.

Keluhan tulang belakang kini tidak lagi hanya dialami oleh kelompok lansia, melainkan semakin marak ditemukan pada usia muda rentang 20 hingga 39 tahun.

Pola kerja fleksibel kerap membuat pekerja mengabaikan prinsip ergonomis, mulai dari bekerja di atas sofa tanpa penopang punggung hingga kebiasaan menunduk terlalu dalam saat menatap layar (tech neck).

Selain itu, gaya hidup kurang bergerak (sedentary lifestyle) dan kebiasaan melewatkan waktu peregangan di sela jam kerja turut mempercepat keausan bantalan tulang.

Gejala Saraf Kejepit yang Perlu Diwaspadai

Nyeri punggung bawah tidak selalu disebabkan oleh kelelahan otot biasa. Saraf kejepit memiliki tanda-tanda spesifik yang lebih mengganggu kenyamanan.

Gejala tersebut meliputi radikulopati atau nyeri tajam yang menjalar dari punggung hingga kaki, rasa kram dan kesemutan, hingga pelemahan otot secara mendadak.

Rasa sakit juga dapat meningkat secara seketika saat batuk, bersin, atau mengejan akibat meningkatnya tekanan di dalam rongga tulang belakang.

Bahaya Penanganan yang Salah

Dokter spesialis bedah saraf dari Lamina Hospital, dr. Mahdian Nur Nasution, Sp.BS, menjelaskan bahwa tulang belakang manusia dipisahkan oleh bantalan empuk berisi cairan gel untuk meredam guncangan.

“Ketika dinding bantalan tulang belakang retak atau robek akibat beban mekanis berlebih, cairan gel di dalamnya akan keluar dan menekan jaringan saraf,” jelas dr. Mahdian Nur Nasution, Sp.BS dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.

Beliau mengimbau agar masyarakat tidak mengambil jalan pintas seperti pijat tradisional saat mengalami nyeri punggung karena berisiko tinggi.

“Jika tekanan pada saraf dibiarkan tanpa penanganan medis yang tepat, ancaman kerusakannya tidak main-main—mulai dari kerusakan saraf permanen hingga risiko kelumpuhan,” ujarnya.

Solusi Penanganan Medis Modern

Perkembangan teknologi kedokteran saat ini memungkinkan penanganan saraf kejepit dilakukan tanpa prosedur operasi besar.

Lamina Hospital menerapkan metode bedah minimal invasif berbasis teknologi Joimax asal Jerman yang bekerja dengan presisi tinggi.

Prosedur ini hanya membutuhkan sayatan kecil berukuran 7 mm untuk memasukkan kamera endoskop, dengan durasi tindakan sekitar 30 hingga 45 menit.

Risiko perdarahan serta infeksi yang minimal memungkinkan pasien menjalani pemulihan secara cepat dan langsung beraktivitas tanpa perlu perawatan inap berhari-hari.

Nyeri punggung yang berkepanjangan merupakan sinyal tubuh yang membutuhkan pemeriksaan medis sedini mungkin guna mencegah kerusakan fungsi saraf permanen.

Terkini