Studi Ungkap Celana Dalam Ketat Berdampak pada Kesuburan Pria

Jumat, 04 September 2026 | 05:11:31 WIB
Ilustrasi pria yang mengalami masalah kesuburan.

JAKARTA - Riset ilmiah teranyar yang terbit pada Juli dalam Jurnal Medis Chulalongkorn mengindikasikan bahwa kebiasaan mengenakan celana dalam terlalu ketat dapat berdampak pada tingkat kesuburan pria.

Tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Chulalongkorn melibatkan pria Thailand berusian 20 hingga 55 tahun yang tengah menjalani perawatan infertilitas di Unit Biologi Reproduksi Rumah Sakit Memorial Raja Chulalongkorn sejak Maret sampai Juni 2024.

Berdasarkan publikasi Medical Daily pada Selasa (1/9), tiap partisipan mengisi lembar kuesioner seputar demografi, rekam medis, hingga jenis celana dalam, serta menyerahkan sampel air mani untuk dianalisis merujuk standar panduan laboratorium WHO edisi keenam.

Di antara 116 partisipan yang memenuhi kriteria, sebanyak 93,1 persen tercatat memakai celana dalam ketat sewaktu siang hari, sedangkan 74,1 persen beralih menggunakan celana boxer atau tanpa busana di malam hari.

Riset tersebut membuahkan dua temuan utama, yakni pria yang konsisten memakai celana dalam longgar saat siang maupun malam memiliki volume air mani lebih tinggi dengan rerata selisih 1,2 mililiter.

Sementara itu, kelompok pria yang terus memakai celana dalam ketat sepanjang hari mencatatkan persentase sperma berbentuk normal yang lebih tinggi, dengan rerata selisih setengah poin persentase.

Para peneliti menyimpulkan bahwa preferensi gaya hidup seperti penentuan pakaian dalam sanggup memengaruhi volume air mani beserta struktur morfologi sperma.

Sebelumnya, ulasan dalam jurnal Lancet tiga dekade silam sempat membedah keterkaitan pakaian dalam ketat terhadap kualitas sperma. Analisis skala besar pada pengunjung klinik kesuburan mendapati bahwa pemakai celana boxer memiliki konsentrasi dan jumlah total sperma lebih tinggi dibanding pria bersetelan ketat.

Di sisi lain, studi kohort prakonsepsi berbasis populasi mengenai jenis pakaian dalam dan tingkat kesuburan menorehkan kesimpulan yang lebih longgar, bahkan sebuah ulasan secara terbuka mempertanyakan keunggulan celana boxer.

Terdapat mekanisme logis di balik perdebatan ini. Organ testis berada di luar rongga tubuh lantaran proses pembentukan sperma sangat peka terhadap suhu, dan pengukuran suhu skrotum membuktikan bahwa tipe pakaian dalam ikut mengubah suhunya.

Kendati demikian, belum ada kepastian ilmiah apakah fluktuasi suhu tersebut cukup signifikan untuk memengaruhi hasil akhir kesuburan, mengingat posisi tubuh dan jenis pakaian luar turut memengaruhi suhu skrotum.

Penting untuk memahami makna riil dari kedua indikator tersebut. Volume air mani merupakan jumlah cairan yang dihasilkan—mayoritas diproduksi vesikula seminalis serta prostat alih-alih testis—serta dipengaruhi tingkat hidrasi dan jeda waktu sejak ejakulasi terakhir.

Adapun morfologi merepresentasikan proporsi sperma berbentuk presisi berdasarkan penilaian ketat mikroskop, yang mana standarnya berbeda antar-laboratorium. Kedua tolok ukur ini tidak dapat berdiri sendiri dalam menentukan potensi kesuburan seorang pria.

Riset ini turut menguji tingkat fragmentasi DNA sperma, yaitu tolok ukur kualitas sperma modern yang makin umum dipakai di klinik reproduksi. Hasilnya, jenis pakaian dalam tidak menunjukkan keterkaitan dengan tingkat kerusakan DNA tersebut.

Faktor pakaian dalam pada dasarnya hanyalah variabel kecil jika dibandingkan dengan aspek-aspek utama yang menjadi perhatian para dokter spesialis reproduksi.

Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebih, kondisi obesitas, pengaruh obat tertentu, infeksi, varikokel, serta faktor usia memiliki korelasi yang jauh lebih kuat terhadap mutu air mani.

Bagi mereka yang hendak mendalami kondisi reproduksinya, pemeriksaan analisis sperma dan konsultasi langsung bersama dokter spesialis urologi atau reproduksi jauh lebih disarankan ketimbang sekadar mengganti jenis celana dalam.

Terkini