JAKARTA — Tindakan medis agresif seperti prosedur laser pada perawatan kulit kerap dihindari sebagian masyarakat lantaran memicu rasa sakit serta memerlukan durasi pemulihan yang cukup panjang.
Sebagai opsi alternatif yang terbilang jauh lebih nyaman, hadir metode terapi cahaya intensitas rendah atau photobiomodulation (PBM) yang menawarkan solusi minim risiko guna menangani gangguan kulit kompleks.
Metode tanpa pembedahan ini terbukti secara medis sanggup memperbaiki fungsi jaringan kulit langsung pada tingkat seluler, sehingga proses penyembuhan serta regenerasi berlangsung alami dari dalam.
"Level of evidence-nya sangat baik untuk PBM ini," jelas Anggota Celluma Indonesia Clinical Advisory Board sekaligus Founder Klinik Utama SkinNaire, dr. Feilicia Henrica Sp.DVE, FINSDV, dalam Media Gathering Celluma di Aruna International Summit 2026 bertajuk "Healthy Skin Rewritten at the Cellular Level" di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
"Jadi ini untuk keadaan-keadaan seperti setelah cancer therapy, wound healing, alopecia, sampai acne," lanjut dr. Feilicia.
Pilihan Terapi Tanpa Sakit bagi Aneka Masalah Kulit
Meredakan Jerawat Tanpa Merusak Kulit
Masalah jerawat meradang merupakan satu dari sekian keluhan yang paling sering dijumpai di klinik estetika.
Penanganan lewat teknologi PBM terbukti efektif membasmi bakteri pemicu jerawat tanpa perlu mengelupas atau merusak lapisan pelindung kulit bagian luar.
Dalam pengaplikasiannya, teknologi PBM memancarkan kombinasi panjang gelombang cahaya yang diselaraskan dengan target kedalaman jaringan kulit.
Menyoal penanganan jerawat, metode ini menggabungkan paparan blue light untuk membunuh bakteri serta pancaran red light guna menenangkan peradangan.
"Kalau misalnya hanya menggunakan blue light, nanti akan timbul hiperpigmentasi pasca-inflamasi sesudahnya. Nah, kalau kami kombinasi dengan red light, si red light ini punya sifat anti-inflamasi," papar dr. Felicia.
Pendekatan tersebut membuahkan tingkat perbaikan yang terbilang signifikan, termasuk pada pasien kasus jerawat parah yang terbiasa menolak konsumsi obat minum maupun aplikasi krim malam topikal.
"Perbaikan lesinya itu lebih baik pada lesi inflamasi. Jadi 76 persen inflammatory lesion itu membaik," tambah dia.
Menyamarkan Flek Hitam dan Melasma
Di samping jerawat, kasus hiperpigmentasi menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat kawasan tropis yang terpapar indeks radiasi ultraviolet matahari tingkat tinggi.
"Kasus yang paling sering ditemui nomor satu tuh acne atau jerawat. Nomor dua ya flek atau kelainan pigmentasi," tutur Direktur Medis Senopati Skin Center sekaligus Ketua PERDOSKI Cabang Jakarta, dr. M. Akbar Wedyadhana Sp.DVE, FINSDV, FAADV, IFAAD.
Kondisi bercak hitam yang bertengger di lapisan kulit bagian dalam, seperti melasma dermal, sejatinya amat sukar dipudarkan walau telah ditangani ragam obat luar.
Namun, pancaran gelombang cahaya PBM sanggup menembus hingga lapisan kulit terdalam untuk menyamarkan hiperpigmentasi secara bertahap tanpa melukai jaringan di sekitarnya.
Terapi sinar ini pun sanggup bertindak sebagai langkah proteksi pencegahan sebelum kulit mengalami kerusakan parah atau kemerahan akibat paparan terik matahari saat beraktivitas di luar ruangan.
Mendorong Pertumbuhan Folikel Rambut Baru
Khasiat dari paparan energi cahaya rupanya tidak sebatas menyasar peremajaan area wajah semata.
Pengaplikasian terapi cahaya secara berkala turut diakui manjur menjadi penanganan andalan guna menanggulangi problem kebotakan hingga kerontokan rambut parah.
"Untuk kebotakan juga ya, jadi ini dominan memang pengaruh dari yang red light-nya. Di mana dia bisa membantu untuk distribusi oksigen, peredaran pembuluh darah lebih lancar," ungkap dr. Akbar.
Saat pancaran energi red light terserap sempurna oleh folikel rambut, sirkulasi darah di area kulit kepala otomatis menjadi jauh lebih lancar serta kaya nutrisi.
"Ternyata katanya bisa memperpanjang fase anagen, kemudian membuat fase telogen itu lebih cepat masuk ke fase anagen, dan selain itu, karena punya sifat anti-inflamasi juga, dia bisa mengurangi jadi kerontokan," terang dr. Felicia.
Di luar manfaat perbaikan jaringan tersebut, keunggulan utama dari perlakuan terapi cahaya PBM ini terletak pada proses tindakan yang sama sekali tidak memicu rasa sakit bagi pasien.
"Sama sekali tidak ada rasa ya, dan juga sama sekali tidak ada bekas ya setelah dikerjakan," pungkas dr. Akbar.