Olahraga Mampu Redakan Rasa Sedih Ini Penjelasan Lengkap Pakar

Selasa, 08 September 2026 | 05:37:02 WIB
Ilustrasi Olahraga.

JAKARTA - Kehilangan orang terdekat dapat membuat seseorang mengalami masa duka yang tidak mudah. Selain menghadapi perubahan pola hidup, seseorang juga perlu menyesuaikan diri dengan berbagai luapan emosi yang muncul pascakehilangan.

Di tengah proses penyembuhan, sebagian orang mulai mencari sarana untuk menyalurkan emosi. Salah satunya lewat aktivitas fisik, baik secara mandiri maupun bersama orang lain yang sedang berada di situasi serupa.

Fenomena ini bahkan memicu hadirnya kelas olahraga yang secara khusus menghimpun orang-orang yang tengah berduka. Lantas, benarkah aktivitas fisik dapat membantu seseorang melewati masa duka?

Aktivitas Fisik Membantu Mengelola Emosi

Melansir dari People, salah satu contohnya hadir pada kelas kebugaran yang dipimpin instruktur Sylvia Borowska di Liftonic, New York.

Dalam kelas tersebut, para peserta menjalankan latihan fisik sembari menghubungkan gerakan dengan pengalaman kehilangan yang pernah dialami. Borowska meminta peserta mengangkat beban berat lalu membayangkannya sebagai sesuatu yang dipikul selama masa duka.

"Kesedihan itu berat, tetapi kami lebih kuat dari itu," katanya.

Sesi tersebut merupakan bentuk kolaborasi Borowska bersama Grief, Sweat & Tears, sebuah inisiatif berbasis komunitas yang menyelenggarakan kelas kebugaran pop-up di berbagai penjuru New York City. Usai berlatih bersama, para peserta diberi kesempatan membagikan kisah tentang sosok terkasih yang telah tiada.

Sepanjang enam bulan terakhir, kelompok ini dilaporkan telah membantu sekitar 400 orang. Kendati memanfaatkan olahraga sebagai wadah berkumpul dan melepaskan emosi, organisasi tersebut menegaskan bahwa kegiatan mereka bukan merupakan terapi atau kelompok dukungan formal.

Olahraga Memengaruhi Zat Kimia di Otak

Manfaat latihan fisik bagi kesehatan mental sebenarnya telah banyak diteliti. Aktivitas fisik disebut sanggup mengoptimalkan fungsi neurotransmiter seperti serotonin, dopamin, dan endorfin yang memegang peranan penting pada suasana hati.

Dokter spesialis psikiatri sekaligus medical director of psychiatry di Inspira Health, Dr. Stephen Mateka, menjelaskan adanya keterkaitan antara olahraga dengan fungsi neurotransmiter.

"Olahraga dapat membantu meningkatkan fungsi neurotransmiter," ujar Mateka.

Menurut pandangannya, terdapat kemiripan efek antara aktivitas fisik dan obat antidepresan dalam hal fungsi neurotransmiter. Kendati demikian, temuan ini tidak lantas menjadikan olahraga sebagai pengganti pengobatan medis bagi orang yang membutuhkan.

Bergerak Membantu Memulihkan Kendali Diri

Duka tidak sekadar berurusan dengan perasaan sedih semata. Kehilangan kerap membuat seseorang merasa hidupnya berubah drastis dan tidak menentu.

Pada situasi tersebut, aktivitas fisik dinilai sanggup memberikan pengalaman bahwa seseorang tetap memegang kendali atas apa yang dilakukan tubuhnya.

Pakar duka sekaligus penulis buku The Grieving Body, Mary-Frances O'Connor, menyatakan bahwa pemrosesan duka tidak melulu harus dijalankan melalui percakapan.

"Banyak hal dalam proses berduka sebenarnya bukan tentang pemrosesan secara verbal," ujar O'Connor.

Ia menambahkan, olahraga sanggup memberikan rasa memiliki kendali sewaktu berbagai hal dalam kehidupan terasa sulit dikontrol. Aktivitas ini pada akhirnya membantu seseorang kembali terhubung dengan lingkungan sosial.

Berolahraga Bersama Membuka Ruang Interaksi

Manfaat yang dipaparkan tidak sekadar bersumber dari gerakan fisik. Berolahraga bersama orang lain yang memahami rasa kehilangan juga memberikan ruang untuk merajut kembali jalinan sosial.

Hal ini terlihat pada kegiatan Grief, Sweat & Tears. Peserta tidak cuma berlatih fisik, melainkan turut berkumpul dan saling membagi cerita usai sesi olahraga berakhir.

O'Connor menilai bahwa kembali membaur dengan kehidupan bermasyarakat merupakan bagian vital dari proses berduka. Kegiatan bersama menjadi salah satu sarana untuk perlahan menata kembali kehidupan sosial.

Olahraga Bukan Pengganti Terapi Utama

Kendati membawa beragam dampak positif, olahraga sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya tumpuan untuk mengatasi duka. Para pakar menegaskan bahwa seseorang yang mengalami trauma atau kesulitan berat dalam masa duka tetap disarankan mencari bantuan profesional.

Dengan kata lain, latihan fisik dapat dijadikan sebagai salah satu sarana pendamping dalam melewati masa duka, tetapi bukan penukar posisi terapi.

Pilihan aktivitas serta cara memulihkan diri dari kehilangan tentu berbeda pada setiap individu. Oleh sebab itu, olahraga dapat dipandang sebagai sarana pelengkap guna membantu seseorang tetap aktif dan terhubung dengan lingkungan sekitarnya.

Terkini