Mayoritas Bank Digital Cetak Profit OJK Ingatkan Keberlanjutan

Rabu, 09 September 2026 | 23:59:07 WIB
Ilustrasi Bank Digital.

JAKARTA — Industri bank digital di Indonesia mulai memperlihatkan perkembangan positif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hampir seluruh bank digital di Indonesia sudah mencatatkan profit dalam laporan keuangan 2025. Kendati demikian, regulator mengingatkan para pelaku industri untuk tidak berpuas diri pada raihan laba jangka pendek dan pertumbuhan jumlah pengguna semata.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan perkembangan bank digital di tanah air patut diapresiasi. Meski begitu, fase selanjutnya bagi industri perbankan digital adalah menjamin model bisnis dapat tumbuh secara berkelanjutan, inklusif, serta memiliki daya tahan yang kuat.

“Ukuran keberhasilan tentu tidak cukup hanya dilihat dari pertumbuhan jumlah pengguna atau laba dalam jangka pendek. Yang lebih penting adalah kualitas pertumbuhan,” ujar Dian dalam acara Bisnis Indonesia Group Financial Insight 2026 bertema Digital Banking at Five: Shaping an Inclusive Financial Ecosystem, Rabu (9/9/2026).

Menurut Dian, kualitas pertumbuhan bank digital tecermin dari beragam aspek, mulai dari struktur pendanaan yang sehat, kualitas aset yang terjaga, efisiensi yang meningkat, permodalan yang kokoh, hingga kemampuan mencetak profitabilitas secara berkelanjutan.

Dian menjelaskan perkembangan bank digital Indonesia perlu dicermati dalam konteks industri global. Dian mencontohkan beberapa negara yang lebih dahulu mengembangkan bank digital, namun sebagian besar masih membutuhkan waktu untuk meraih keuntungan.

Di Singapura, kata Dian, bank digital telah beroperasi hampir lima tahun, tetapi pada 2025 baru satu dari lima bank digital yang berhasil mencatatkan profit. Sementara di Arab dan Hong Kong, hanya tiga dari delapan bank digital yang mampu mencapai titik impas meski sudah beroperasi lebih dari lima tahun.

“Contoh tersebut tentunya bukan untuk menjustifikasi kinerja bank digital di Indonesia, melainkan memberikan gambaran kepada kami bahwa semua model bisnis bank digital ini masih dalam tahap perkembangan,” katanya.

Dian menerangkan perkembangan bank digital di Indonesia sejak penerbitan panduan penyelenggaraan bank digital pada 2021 bergulir lewat beberapa skema. Di antaranya akuisisi bank kecil oleh kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 3 dan 4 yang kemudian ditransformasi menjadi bank digital, masuknya investor strategis, akuisisi oleh perusahaan teknologi atau fintech, serta transformasi mandiri oleh bank.

Akan tetapi, menurut Dian, tantangan bank digital ke depan semakin kompleks. Salah satu sorotan utama adalah kemandirian infrastruktur teknologi informasi (TI). Dian menilai masih ada bank digital yang memiliki ketergantungan terhadap infrastruktur TI pihak lain, terutama perusahaan induk. Situasi tersebut dapat memengaruhi fleksibilitas bank dalam mengembangkan teknologi dan inovasi digital jika ada perbedaan fokus pengembangan.

Selain infrastruktur, OJK turut menyoroti peningkatan risiko keamanan siber. Menurut Dian, model bisnis bank digital yang banyak berkolaborasi dengan perusahaan teknologi, e-commerce, e-wallet, fintech, maupun institusi lainnya memang dapat memperluas jangkauan layanan, tetapi juga membuka potensi risiko baru.

“Untuk berkolaborasi dalam ekosistem digital, bank digital perlu membuka koneksi dengan berbagai platform atau aplikasi. Hal ini menimbulkan risiko karena dapat menjadi celah keamanan,” ujar Dian.

Sebab itu, bank digital perlu memperkuat sistem pengamanan teknologi informasi supaya sanggup menjaga keberlangsungan operasional dan kepercayaan masyarakat.

Selain keamanan siber, Dian turut meminta bank digital memperhatikan perkembangan teknologi baru seperti artificial intelligence (AI), blockchain, distributed ledger technology, hingga quantum computing. Pemanfaatan teknologi tersebut bisa membawa manfaat bagi industri perbankan, tetapi mesti diimbangi tata kelola, pengawasan, serta manajemen risiko yang memadai.

“Pengembangan AI di sektor perbankan perlu diimbangi dengan tata kelola, pengawasan, dan manajemen risiko yang memadai agar manfaat inovasi dapat diperoleh tanpa mengorbankan stabilitas dan kepercayaan terhadap sistem keuangan,” katanya.

Demi memperkuat daya saing, OJK juga mendorong bank digital memperbesar permodalan, baik melalui pertumbuhan organik maupun aksi korporasi. Salah satu pilihan yang bisa diambil adalah konsolidasi. Dian menyebut konsolidasi perbankan dapat menjadi strategi untuk memperkuat skala usaha, efisiensi permodalan, dan kemampuan investasi teknologi.

“Konsolidasi perbankan dapat menjadi salah satu opsi strategis buat bank untuk memperkuat skala usaha, efisiensi permodalan, dan investasi teknologi,” ujar Dian.

Ke depan, Dian menekankan tiga kata kunci dalam pengembangan bank digital, yaitu berkelanjutan (sustainable), inklusif (inclusive), dan terpercaya (trusted). Dian menyebut bank digital mesti sanggup menghadirkan layanan yang tidak hanya cepat dan mudah, melainkan juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat yang selama ini belum terlayani secara optimal.

Terkini