Transformasi Sekolah Berbasis Kompetensi PISA dari Kemendikdasmen

Sabtu, 12 September 2026 | 15:57:02 WIB
Mendikdasmen Abdul Mu'ti [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membagikan deretan praktik transformasi di sejumlah satuan pendidikan lewat penguatan budaya literasi, numerasi, serta integrasi pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) berlandaskan kompetensi Program for International Student Assessment (PISA).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti di Jakarta, Sabtu, mengutarakan bahwa pihaknya senantiasa memperkokoh transformasi mutu pendidikan melalui pendekatan Belajar Mendalam yang memacu proses pembelajaran menjadi jauh lebih sadar (mindful), bermakna (meaningful), serta menyenangkan (joyful).

Pendekatan tersebut, menurut penuturan Mu’ti, ditopang oleh penguatan kapasitas kompetensi guru di ranah AI, coding, STEM, dan pendidikan karakter, penguatan sistem tata kelola data pendidikan, pembenahan revitalisasi satuan pendidikan, hingga optimalisasi pemanfaatan teknologi pembelajaran yang kian interaktif.

Pada kesempatan terpisah, Kepala Sekolah SMPN 9 Yogyakarta Agus Margono memaparkan bahwa pihak sekolahnya mengaplikasikan program Pendampingan Literasi dan Numerasi yang secara spesifik berfokus pada penggalakan kapasitas siswa berbasis standar kompetensi PISA.

“Kami menerapkan program Pendampingan Literasi dan Numerasi yang berfokus pada penguatan kemampuan literasi dan numerasi murid berbasis PISA. Program ini diwujudkan melalui pengintegrasian soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) ke dalam asesmen harian, penguatan pembelajaran berbasis proyek dengan pendekatan STEM,” kata Agus Margono.

Agus membeberkan implikasi positif dari penerapan program berbasis standar PISA tersebut terhadap pergeseran pola pikir siswa maupun perolehan prestasi di sekolah.

Perubahan yang terbilang signifikan, menurut penjelasannya, tampak nyata pada pola pikir dan daya kritis para siswa.

Anak didik di SMPN 9 Yogyakarta tak lagi sekadar menghafalkan materi pelajaran, melainkan sudah sanggup menganalisis pelbagai persoalan lingkungan dan sosial di sekeliling mereka memanfaatkan pendekatan yang logis serta matematis.

“Ini berdampak langsung pada peningkatan skor capaian Asesmen Nasional pada indikator Literasi dan Numerasi sekolah, serta peningkatan jumlah murid yang meraih prestasi dalam kompetisi sains dan teknologi,” kata Agus.

Ia menambahkan, demi mengoptimalkan proses belajar berbasis STEM, SMP Negeri 9 Yogyakarta turut memfasilitasi pengembangan kapasitas guru lewat wadah Komunitas Belajar internal serta agenda in-house training seputar modul ajar interaktif, di samping mendorong jalinan kolaborasi lintas disiplin ilmu seperti IPA, Matematika, dan Informatika.

“Sekolah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan pendampingan sebaya antarguru untuk mengatasi tantangan keberagaman tingkat kesiapan awal murid serta perubahan pola mengajar dari metode konvensional,” kata Agus.

Sementara itu, SMAN 5 Yogyakarta menggelar program Literasi Terpadu yang mencakup beraneka ragam literasi krusial, meliputi literasi digital, literasi budaya dan kewargaan, literasi sains, literasi finansial, sampai literasi numerasi.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 5 Yogyakarta Rizky Puspitadewi memaparkan bahwa penguatan ranah literasi tak berhenti pada agenda pembiasaan mingguan saja, melainkan juga disatukan secara terstruktur ke dalam evaluasi pembelajaran.

Langkah ini ditempuh melalui pembiasaan penulisan serta penyelesaian soal-soal berbasis literasi dan numerasi pada tiap-tiap agenda Asesmen Sekolah.

“Dampak nyata dari konsistensi penerapan program literasi dan pembiasaan asesmen tersebut terlihat pada indikator Rapor Pendidikan Sekolah, di mana capaian pada domain Literasi dan Numerasi berhasil mencatatkan, serta mempertahankan angka terbaik secara konsisten,” kata Dewi.

Ia menerangkan bahwasanya peningkatkan mutu kompetensi guru turut menjadi fokus perhatian, yang direalisasikan lewat deretan pelatihan seperti Pembelajaran STEM, Pembelajaran Mendalam, Koding dan Kecerdasan Artifisial yang disokong oleh penyediaan sarana media beserta bahan ajar proyek.

“Selain peningkatan kompetensi pedagogis dan teknis, sekolah secara konkret mendukung operasionalisasi di kelas dengan menyediakan berbagai media pembelajaran serta bahan ajar pendukung yang relevan untuk proyek-proyek STEM,” kata Dewi.

Di samping berorientasi pada raihan capaian akademik, SMAN 5 Yogyakarta juga menaruh perhatian besar pada pembentukan soft skills dan karakter murid melalui aktivitas kokurikuler serta ekstrakurikuler.

Pada jalur kokurikuler, ia menyebutkan penguatan dieksekusi lewat proyek bertema Rekayasa & Teknologi serta Inovasi Kewirausahaan.

Lewat agenda tersebut, para murid ditempah untuk berpikir kritis dan kreatif melalui sesi brainstorming gagasan secara langsung bersama para narasumber yang ahli di bidangnya.

Sedangkan pada jalur ekstrakurikuler, minat dan ketangkasan siswa dalam berinovasi, berkolaborasi, hingga memecahkan masalah disalurkan secara spesifik melalui wadah Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) dan Klub Robotik.

Terkini