JAKARTA - Dunia kepolisian Indonesia kembali dirundung duka yang mendalam. Kepergian Meriyati Roeslani Hoegeng, sosok di balik keteguhan Jenderal Hoegeng Iman Santoso, meninggalkan ruang kosong dalam sejarah keteladanan bangsa. Di balik kesederhanaan hidup yang selalu mereka tunjukkan, Meriyati bukan sekadar pendamping, melainkan pilar kekuatan yang menjaga integritas sang suami. Kehadiran para tokoh nasional di rumah duka menjadi bukti bahwa warisan nilai-nilai yang ditinggalkan pasangan legendaris ini tetap hidup dan relevan melintasi berbagai generasi.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian merupakan salah satu tokoh yang hadir langsung untuk menyampaikan bela sungkawa. Baginya, Meriyati Roesli Hoegeng adalah tokoh yang memberikan inspirasi dan panutan bagi anggota Polri maupun Bhayangkari. Keteguhan hati almarhumah dalam mendampingi sang suami menjalankan tugas dengan kejujuran mutlak menjadi standar moral yang selalu dikenang oleh keluarga besar korps kepolisian hingga saat ini.
Inspirasi Bagi Generasi Muda dan Ibu-Ibu Bhayangkari
Kekaguman Tito terhadap keluarga Hoegeng telah lama berakar. Ia melihat pasangan ini sebagai representasi ideal dari pengabdian tanpa pamrih. "Kita tahu bahwa Bapak Hoegeng, almarhum, adalah tokoh yang selalu menginspirasi kami generasi muda, tokoh panutan kami. Almarhumah Ibu Meriyati Hoegeng selalu panutan dari bukan hanya bapak-bapaknya, tapi juga ibu-ibu ini, ibu-ibu Bhayangkari," kata Tito saat ditemui di rumah duka, Kota Depok, Selasa.
Meninggalnya Meriyati Hoegeng menjadi duka mendalam untuk Tito. Di tengah kesibukannya sebagai pejabat negara, ia menyempatkan diri untuk memberikan doa yang terbaik kepada Meriyati. "Jadi kami semua turut berduka dan mendoakan semoga almarhumah diampuni segala dosa-dosa selama di dunia, mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Allah SWT, dan Insha Allah kelak dimasukkan ke dalam surganya," terang Tito.
Solidaritas Para Pejabat dan Tokoh Nasional di Rumah Duka
Rumah duka yang terletak di Perumahan Pesona Khayangan, Depok, menjadi titik temu bagi berbagai elemen bangsa yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Terlihat sejumlah mantan pejabat Polri, seperti Timur Pradopo, turut mendatangi kediaman almarhumah. Kehadiran mereka menunjukkan betapa dihormatinya sosok Meriyati di mata para junior suaminya.
Mendagri Tito sendiri tiba sekitar pukul 18.30 WIB dengan tetap mengenakan pakaian dinas lengkap. Ia mengaku langsung menuju lokasi setibanya dari tugas luar kota. "Saya sebenarnya baru tiba dari Aceh dalam kaitan dengan penanganan bencana. Tapi begitu mendengar kabar, begitu mendarat tadi kita langsung ke sini, ke rumah duka. Tadinya mau ke Rumah Sakit Kramat Jati, tapi jenazah udah dibawa ke sini," terang Tito yang menghabiskan waktu sekitar 20 menit di dalam rumah duka. Selain kalangan kepolisian, terlihat pula Wali Kota dan Wakil Wali Kota Depok, Supian Suri dan Chandra Rahmansyah, serta politikus senior PDI Perjuangan, Panda Nababan.
Kronologi Menurunnya Kondisi Kesehatan di Usia Seabad
Kepergian Meriyati terjadi setelah perjuangan panjang melawan kondisi kesehatan yang terus menurun seiring bertambahnya usia. Jenazah Meriyati Roeslani Hoegeng tiba di rumah duka sekira pukul 16.10 WIB dengan pengawalan dari pihak kepolisian. Anak almarhumah, Aditya S. Hoegeng, menjelaskan bahwa ibunya mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Polri Kramat Jati pada Selasa siang. "Meninggal pukul 13.20 WIB di Rumah Sakit Polri Kramat Jati,” ujar Aditya.
Aditya menjelaskan bahwa kondisi kesehatan ibunya yang telah berusia 100 tahun mulai menunjukkan penurunan drastis sejak akhir tahun lalu. Perawatan intensif pertama dilakukan pada Oktober 2025 selama sekitar satu minggu. Namun, pemulihan di rumah tidak berjalan maksimal. “Jadi, satu minggu pertama itu di pertengahan Oktober, lalu sudah dinyatakan boleh pulang, tapi dua hari di rumah ibu sudah tidak mau makan, jadi kita kesulitan,” jelasnya. Hal ini memaksa keluarga untuk kembali membawa Meriyati ke rumah sakit untuk perawatan kedua sejak 26 Januari 2026 hingga hari wafatnya.
Wasiat Keabadian: Kesetiaan Hingga ke Liang Lahat
Satu hal yang paling menyentuh dari kepergian Meriyati adalah pilihan tempat peristirahatan terakhirnya. Ia tidak dimakamkan di tempat yang penuh kemegahan, melainkan di lokasi yang telah dipesan sesuai wasiat keluarga demi kebersamaan yang abadi. Aditya mengatakan, jenazah ibunya akan dimakamkan di TPBU Giri Tama Tonjong, Kabupaten Bogor, di lokasi yang berdekatan dengan makam ayahnya, Hoegeng Iman Santoso.
Keputusan ini mengacu pada wasiat sang ayah yang sangat mencintai Meriyati. Menurut Aditya, dahulu ayahnya memiliki alasan tersendiri mengapa enggan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. “Kenapa Bapak tidak mau dimakamkan di makam pahlawan, kesan Bapak adalah kalau saya di makam pahlawan, ibumu tidak bisa ada di sebelah saya, karena jatahnya kan cuma untuk almarhum,” tutur Aditya. Kesetiaan ini kini menjadi sempurna, di mana keduanya akan kembali berdampingan di tempat peristirahatan terakhir, meninggalkan jejak keteladanan bagi seluruh bangsa Indonesia.