JAKARTA - Pusat Riset Hortikultura Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan teknologi produksi benih bawang putih yang sehat serta bermutu lewat Program Riset dan Inovasi Strategis (PRIS).
Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN sekaligus penanggung jawab PRIS bawang putih, Dwinita Wikan Utami, menerangkan bahwa inovasi produksi benih bernutrisi ini sangat krusial guna menjaga keunggulan varietas pemuliaan agar bertahan lama.
"Kami memerlukan teknologi eliminasi virus yang efektif, mudah diterapkan, dan terjangkau sehingga dapat dimanfaatkan secara luas oleh produsen benih maupun petani untuk menjaga mutu bahan tanam," katanya dalam keterangan di Jakarta, Senin.
Dwinita membeberkan bahwa penelitian ini memprioritaskan pembersihan virus yang melekat pada bibit bawang putih. Oleh sebab itu, BRIN merancang formula eliminasi virus, memproduksi prototipe alat pembersih virus, hingga menguji dampaknya terhadap proses tumbuh dan hasil panen.
Inovasi teknologi ini diproyeksikan mampu mendongkrak capaian panen bawang putih nasional demi mengikis ketergantungan pasokan impor.
Pada riset tersebut, jajaran peneliti turut melacak keberadaan virus yang terdapat pada bahan tanam bawang putih.
Ahli virologi tanaman Fakultas Pertanian UGM, Sedyo Hartono, memaparkan bahwa pengujian UGM menemukan infeksi ganda dari Onion yellow dwarf virus (OYDV) serta Shallot latent virus (SLV) pada kisaran 80 persen sampel asal Enrekang, Magelang, Temanggung, Tawangmangu, dan Yogyakarta, baik berupa umbi bibit, umbi komersial, maupun daun bergejala ataupun tanpa gejala.
"Gejala infeksi virus juga tidak selalu terlihat jelas pada tanaman. Di lapangan, dampaknya dapat tertutupi oleh penyakit lain, terutama penyakit yang disebabkan jamur. Riset lanjutan akan mengukur kemampuan perlakuan dalam menurunkan titer virus sekaligus menilai pengaruhnya terhadap pertumbuhan, produktivitas, dan kerentanan tanaman terhadap penyakit lain," ujar Sedyo menjelaskan.
Hasil tersebut membuktikan bahwa paparan virus pada bahan tanam menjadi kendala serius yang patut diselesaikan. Kendati demikian, temuan ini masih terbatas pada sampel uji sehingga dibutuhkan pemetaan wilayah yang lebih luas untuk melacak sebaran virus di sentra-sentra produksi.
Inisiatif riset pembersihan virus ini dijadwalkan berjalan selama dua tahun. Fase awal bakal berfokus pada validasi sistem serta pembuatan alat uji coba pembersih virus skala laboratorium.
Fase berikutnya akan mengevaluasi respons tanaman hasil pembersihan di area persawahan sekaligus memacu pembuatan alat bersama mitra industri agar bisa dipakai dalam skala industri benih.
Bukan cuma pembersihan virus, PRIS bawang putih turut menargetkan penciptaan varietas bawang putih berumbi besar tipe softneck dan hardneck, varietas yang tahan di dataran menengah, teknik pematahan masa istirahat tanaman (dormansi), basis data plasma nutfah, serta pedoman baku produksi benih sehat.
Seluruh hasil riset tersebut bakal diterapkan untuk menyokong pengembangan kawasan bawang putih, termasuk di Kawasan Swasembada Pangan, Air, dan Energi (KSPAE) Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.