Ekonom Sebut Surplus Perdagangan RI Masih Dibayangi Impor Energi

Ekonom Sebut Surplus Perdagangan RI Masih Dibayangi Impor Energi
Ilustrasi Perdagangan Impor.

JAKARTA - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengamati bahwa surplus Neraca Perdagangan Indonesia pada semester I 2026 tetap memperlihatkan daya tahan, namun kinerjanya masih dibayangi oleh lonjakan impor energi yang memperlebar defisit sektor minyak dan gas (migas).

Yusuf memaparkan berdasarkan acuan data Badan Pusat Statistik (BPS), Neraca Perdagangan Indonesia pada semester I 2026 konsisten mengantongi surplus sekitar 3,58 miliar dolar AS. Kendati demikian, munculnya defisit perdagangan senilai 450 juta dolar AS pada Juni 2026 menjadi sinyal awal tertekannya surplus eksternal.

"Defisit perdagangan pada Juni sebesar 450 juta dolar AS menunjukkan bahwa surplus eksternal mulai tertekan, terutama akibat kenaikan impor energi dan meningkatnya kebutuhan domestik," kata Yusuf saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.

Menurut pandangannya, dinamika tersebut memperlihatkan ketahanan perdagangan tanah air masih bertumpu pada komoditas spesifik, sehingga amat rentan terhadap gejolak harga internasional, khususnya di sektor minyak dan gas.

Ia menerangkan penekanan utama terhadap neraca perdagangan bersumber dari pelebaran defisit sektor migas akibat melonjaknya pasokan impor minyak mentah serta produk turunan minyak.

Sementara itu, ia menilai capaian surplus perdagangan nonmigas sejauh ini masih sanggup menopang neraca perdagangan nasional, walaupun margin penyangganya semakin terbatas.

Dari sisi ekspor, Yusuf memandang industri pengolahan tetap menjadi tumpuan utama pertumbuhan, utamanya lewat akselerasi program hilirisasi nikel.

Namun begitu, menyusutnya kinerja ekspor sektor pertanian, kehutanan, perikanan, serta pertambangan mentah menandakan struktur ekspor Indonesia belum ter diversifikasi secara merata.

Di lain sisi pada komoditas impor, Yusuf menilai naiknya impor bahan baku, barang modal, hingga perlengkapan listrik memperlihatkan aktivitas investasi dan kegiatan produksi nasional yang masih bergerak aktif.

Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa tren ini turut menandai tingginya ketergantungan industri dalam negeri terhadap komponen impor.

"Jika peningkatan kapasitas produksi dalam negeri tidak mampu mengejar pertumbuhan impor tersebut, tekanan terhadap neraca perdagangan akan kembali muncul ketika harga energi meningkat atau permintaan domestik menguat," kata Yusuf.

Guna mengantisipasi hal itu, ia menilai pemantapan kapasitas industri domestik serta diversifikasi struktur ekspor menjadi langkah krusial demi menjaga keberlanjutan surplus neraca perdagangan di tengah dinamika ekonomi global.

Data BPS mencatat Neraca Perdagangan Indonesia kurun Januari–Juni 2026 tetap surplus 3,58 miliar dolar AS, ditopang sektor nonmigas sebesar 19,35 miliar dolar AS meski sektor migas mengalami defisit 15,77 miliar dolar AS.

Pada Juni 2026, neraca perdagangan membukukan defisit 450 juta dolar AS dipicu defisit migas 3,49 miliar dolar AS, sedangkan sektor nonmigas bertahan surplus 3,04 miliar dolar AS.

Dari sisi ekspor, industri pengolahan menjadi pilar utama dengan pertumbuhan 7,37 persen pada semester I 2026 secara tahunan, didorong melesatnya ekspor nikel dan produk turunannya sebesar 62,27 persen atau senilai 2,51 miliar dolar AS.

Sebaliknya, ekspor pertanian, kehutanan, dan perikanan merosot 22,55 persen dipicu penurunan ekspor kopi, sementara sektor pertambangan turun 5,12 persen seiring melesunya ekspor bijih tembaga.

Adapun nilai impor Indonesia sepanjang Januari–Juni 2026 menyentuh 137,24 miliar dolar AS atau naik 18,69 persen secara tahunan, didorong impor nonmigas yang naik 15,50 persen serta impor migas yang melambung 38,71 persen akibat tingginya impor minyak mentah dan hasil minyak.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index