JAKARTA - Banyak orang menganggap persahabatan yang langgeng harus dipenuhi dengan interaksi harian, tatap muka yang intens, atau kesamaan minat. Padahal, kekekalan hubungan pertemanan tidak semata-mata diukur dari seberapa sering komunikasi terjalin.
Para ahli menilai salah satu landasan paling krusial dalam merawat persahabatan adalah sikap saling menghormati batasan pribadi. Saat tiap individu mampu mengerti kebutuhan serta menjaga ruang personal temannya, ikatan yang terbangun akan jauh lebih sehat dan tahan lama.
Secara psikologis, batasan pribadi merupakan acuan yang ditentukan seseorang terkait standar perlakuan yang diterima, tingkat kenyamanan, hingga cara menjaga kesehatan mental maupun fisiknya.
Pekerja sosial klinis Hannah Owens memaparkan bahwa persahabatan yang sanggup bertahan lama berdiri di atas pilar kepercayaan dan saling menghargai. Dua hal ini hanya bisa tumbuh jika setiap pihak memahami dan menghormati batasan rekan mereka.
Menentukan batasan bukanlah bentuk kendali atas tindakan orang lain. Langkah ini justru menjadi sarana menyampaikan kebutuhan pribadi serta bentuk respons yang akan diambil jika batasan tersebut dilanggar.
Psikolog Amy Marschall, PsyD, menerangkan perbedaaan antara batasan dan permohonan biasa. Contoh permohonan terlihat pada ucapan, "Jangan menelepon saya setelah pukul 21.00."
Bentuk batasan yang lugas tercermin pada kalimat, "Jika kamu menelepon setelah pukul 21.00, saya tidak akan mengangkat telepon dan akan membalas ketika saya sudah tersedia." Pendekatan ini tidak memaksa orang lain berubah, melainkan menegaskan langkah mandiri demi menjaga kenyamanan emosional.
Munculnya selisih paham dalam pertemanan merupakan hal alami. Pembeda utama antara persahabatan yang sehat dan toksik terletak pada mekanisme penyelesaian masalah tersebut.
Owens membagikan pengalamannya saat secara tidak sengaja menyampaikan lelucon temannya kepada orang lain. Temannya kemudian menghubungi Owens dan mengaku risih, lalu meminta agar selalu dimintai persetujuan sebelum ceritanya dibagikan ulang.
Tanpa rasa tersinggung, Owens mengakui kekhilafannya, menyampaikan permohonan maaf, dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut. Dialog sederhana ini justru kian mempererat ikatan pertemanan mereka yang sudah berjalan bertahun-tahun.
Absennya komunikasi yang transparan berisiko menimbun kekecewaan yang lambat laun mengikis kepercayaan. Persahabatan juga dapat memburuk jika salah satu pihak terus mengacuhkan kondisi atau kebutuhan rekannya.
Owens turut menceritakan momen saat terpaksa membatalkan janji menjemput temannya yang hendak menjalani operasi akibat gangguan kesehatan pribadi. Walau sudah meminta maaf dan memberi penjelasan, temannya malah meluapkan amarah, melontarkan makian, serta meneror lewat panggilan dan pesan singkat.
Peristiwa tersebut membawanya pada kesadaran bahwa hubungan sulit dipertahankan apabila ada pihak yang enggan menerima batasan serta kondisi darurat temannya.
Menghargai batasan menuntut kesediaan mendengarkan, bukan sekadar menuntut pemenuhan kebutuhan diri. Langkah praktis dapat dimulai dengan mengajukan pertanyaan saat teman menghadapi masalah, seperti, "Apa yang kamu butuhkan dariku saat ini?" atau "Apa yang bisa kubantu?"
Apabila teman telah mengutarakan kehendaknya, konfirmasikan kembali pemahaman tersebut. Upaya ini ampuh menekan potensi salah paham sekaligus membuktikan kepedulian terhadap perasaannya.
Sementara itu, saat hendak menyampaikan batasan pribadi, manfaatkan formulasi kalimat berfokus diri (I statements), seperti, "Ketika hal itu terjadi, aku merasa tidak nyaman," atau "Lain kali, aku lebih nyaman jika kami melakukan cara ini."
Teknik komunikasi ini mampu mencegah lawan bicara merasa dipojokkan, sehingga diskusi dapat mengalir lebih terbuka.