Laba Bank Digital Indonesia Melesat Positif Pada Semester I 2026

Laba Bank Digital Indonesia Melesat Positif Pada Semester I 2026
Ilustrasi Bank Digital.

JAKARTA - Sederet entitas bank digital di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan kinerja positif pada semester I 2026, yang ditopang oleh penguatan lini bisnis digital, ekspansi penyaluran kredit, hingga strategi pengelolaan aset produktif.

Realisasi ini menandakan bahwa sejumlah perbankan digital mulai melangkah ke fase pertumbuhan yang lebih matang, setelah sebelumnya fokus membangun ekosistem, memperluas basis nasabah, serta menggenjot efisiensi operasional.

PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) misalnya, membukukan perolehan laba bersih sebesar Rp294,85 miliar pada semester I 2026, atau melonjak 6,81 persen secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya senilai Rp276,05 miliar.

Pencapaian ini makin memperpanjang rekor tren profitabilitas perseroan yang dalam beberapa tahun terakhir terus memperkuat fundamental bisnisnya.

Direktur Utama Bank Neo Commerce Eri Budiono menyampaikan, capaian semester I 2026 membuktikan keberhasilan strategi perseroan yang mengutamakan kualitas pertumbuhan, efisiensi operasional, serta pengelolaan risiko secara disiplin.

“Semester I/2026 menunjukkan bahwa strategi kami untuk mengutamakan kualitas pertumbuhan, efisiensi operasional, serta pengelolaan risiko yang lebih disiplin telah memberikan hasil yang positif,” ujarnya dalam paparan kinerja Bank Neo di Jakarta, dikutip pada Selasa (4/8/2026).

Pertumbuhan kinerja juga dibukukan oleh PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO). Bank digital yang merupakan anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. tersebut meraup laba bersih sebesar Rp12,01 miliar pada semester I 2026.

Performa tersebut disokong oleh penguatan lini bisnis digital, peningkatan ekspansi kredit, serta optimalisasi tata kelola aset produktif.

Direktur Utama Bank Raya Indonesia Bagus Ketut Subagia mengungkapkan, capaian ini menjadi bukti konsistensi perseroan dalam mengeksekusi transformasi digital sembari menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat.

“Kami terus mendorong pertumbuhan bisnis yang sehat sekaligus menghadirkan pengalaman perbankan yang semakin mudah, aman, dan relevan bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) turut membukukan lompatan signifikan dengan mengantongi laba bersih Rp182,60 miliar pada semester I 2026, atau melonjak 790,42 persen (YoY) dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp20,50 miliar.

Lonjakan laba Superbank ini disokong oleh kenaikan pendapatan bunga bersih yang menembus angka Rp1,01 triliun, atau tumbuh 51,71 persen (YoY) dari nilai Rp667,39 miliar pada tahun sebelumnya.

Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan menerangkan, pencapaian tersebut mencerminkan keberhasilan strategi pertumbuhan berbasis ekosistem yang konsisten dijalankan perseroan.

Menurutnya, strategi tersebut mulai memberikan dampak nyata tidak sekadar pada pertumbuhan jumlah pengguna, namun juga peningkatan profitabilitas, efisiensi, serta kualitas aset.

Rapor positif juga ditunjukkan oleh PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI). Bank digital milik grup CT Corp tersebut sukses membukukan laba bersih sebesar Rp234 miliar sepanjang kurun semester I 2026.

Khusus pada kuartal II 2026, laba bersih setelah pajak Allo Bank tercatat menyentuh Rp130 miliar, atau naik 14 persen (YoY) jika dibandingkan angka Rp114 miliar pada periode sama tahun lalu.

Pertumbuhan profitabilitas tersebut didorong oleh lonjakan pendapatan operasional sebesar 21 persen (YoY) menjadi Rp533 miliar.

Dari sisi pendapatan, pendapatan bunga bersih Allo Bank tumbuh 10 persen (YoY) menjadi Rp393 miliar, sedangkan pendapatan berbasis biaya melonjak 71 persen (YoY) menjadi Rp140 miliar, disertai kenaikan margin bunga bersih (NIM) menjadi 10,9 persen.

Dari fungsi intermediasi, penyaluran kredit Allo Bank tumbuh 28 persen (YoY) menjadi Rp9,547 triliun per 30 Juni 2026, yang ditopang oleh segmen Retail Banking dan Wholesale Banking, dengan total aset naik 10 persen (YoY) menjadi Rp15,571 triliun.

Perseroan juga terus menjaga kualitas aset melalui rasio NPL gross sebesar 1,73 persen dan NPL net 0,73 persen, sementara perolehan dana pihak ketiga (DPK) tercatat stabil sebesar Rp5,826 triliun.

Pada pilar bisnis digital, Allo Bank memperkuat ekosistemnya lewat produk Allo Grow, Allo Deposito, QRIS, Bill Payment, Allo PayLater, hingga Instant Cash guna memperluas sumber pendapatan.

Plt. Direktur Utama Allo Bank Ari Yanuanto Asah menegaskan, perseroan akan terus memacu pertumbuhan bisnis lewat inovasi teknologi dan integrasi layanan finansial bersama ekosistem mitra.

“Selama tahun 2026, kami akan mendorong pertumbuhan bisnis dengan meningkatkan pengalaman pengguna melalui inovasi teknologi sehingga nasabah akan mampu melakukan personalisasi untuk mendapatkan nilai tambah sesuai dengan kebutuhan nasabah [customer first]," ujarnya.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai prospek bisnis bank digital di Indonesia masih sangat menjanjikan seiring maraknya transaksi digital dan inklusi keuangan.

Namun, menurutnya, industri ini mulai memasuki fase yang lebih menantang karena fokus utama bergeser dari sekadar akuisisi pengguna menuju pencapaian profitabilitas yang berkelanjutan.

“Ke depannya, persaingan tidak hanya terjadi antarbank digital, tetapi juga dengan bank konvensional yang telah memiliki layanan digital, basis nasabah besar, ekosistem bisnis luas, serta biaya dana yang lebih kompetitif,” ujarnya kepada Bisnis.

Ia menjelaskan bahwa keberhasilan bank digital bakal ditentukan oleh kemampuan membangun model bisnis yang spesifik, memperbesar dana murah, meningkatkan kredit secara selektif berbasis analisis data, serta menjaga kualitas aset.

Di samping itu, bank digital perlu memperkuat kolaborasi embedded finance dan ekosistem UMKM agar pertumbuhan kredit tetap disokong oleh aktivitas ekonomi riil.

Menurut Trioksa, efisiensi operasional, keamanan siber, inovasi produk, serta optimalisasi monetisasi pengguna menjadi kunci utama dalam meningkatkan skala bisnis tanpa mengorbankan profitabilitas.

“Dalam beberapa tahun ke depan hanya bank digital yang memiliki keunggulan ekosistem, tata kelola risiko yang baik, dan sumber pendapatan yang beragam yang berpotensi menjadi pemain utama di industri perbankan Indonesia,” pungkasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index