Riset Sebut Efek Kurang Tidur 80 Menit Bisa Sebabkan Berat Badan Naik

Riset Sebut Efek Kurang Tidur 80 Menit Bisa Sebabkan Berat Badan Naik
Ilustrasi Kurang Tidur.

JAKARTA - Memotong durasi istirahat malam meski hanya sebentar ternyata berdampak buruk bagi kesehatan. Sebuah penelitian mengungkap bahwa orang dewasa yang waktu tidurnya berkurang sekitar 80 menit setiap malam selama enam minggu beruntun dapat mengalami peningkatan berat badan.

Riset bertajuk "Skimping on Sleep and Its Impact on Body Weight and Composition: A Pooled Analysis of Randomized Trials" resmi dirilis pada 6 Juli 2026 dalam Annals of Internal Medicine. Penelitian tersebut dilaksanakan melalui dukungan American Heart Association bersama National Institutes of Health.

Hasil riset ini makin memperkuat bukti bahwa pemenuhan istirahat malam yang cukup memegang peranan krusial untuk mencegah penumpukan lemak tubuh sekaligus menekan potensi timbulnya bermacam penyakit penyerta.

"Orang cenderung mengalami kenaikan berat badan selama masa dewasa mereka, dan obesitas adalah faktor risiko utama penyakit jantung," kata Profesor Kedokteran Nutrisi di Columbia's Department of Medicine and Institute for Human Nutrition sekaligus pemimpin studi, Marie-Pierre St-Onge.

Ia menambahkan, berfokus semata pada pengaturan pola makan sehat serta peningkatan aktivitas fisik demi mengimbangi kenaikan berat badan merupakan langkah yang terlalu menyederhanakan masalah dan sulit dipertahankan.

Sebelumnya, berbagai kajian yang menghubungkan efek begadang dengan obesitas umumnya berfokus pada kondisi ekstrem, seperti durasi tidur yang hanya empat jam semalam.

Kondisi ekstrem tersebut memang terbukti memicu rasa lapar berlebih. Namun, pembatasan ketat semacam itu sukar ditoleransi oleh mayoritas orang jika berlangsung selama berhari-hari.

"Studi-studi ini hanya menunjukkan kepada kami apa yang terjadi di bawah kondisi paling ekstrem dan tidak memberi tahu kami apakah orang yang kurang tidur dalam tingkat ringan, seperti banyak orang Amerika yang tidur 5 atau 6 jam semalam, akan mengalami kenaikan berat badan," jelas St-Onge.

Guna melihat dampak yang lebih riil, tim peneliti mencermati pola kurang tidur tingkat ringan yang terjadi secara persisten, mengingat kebiasaan ini dijalani oleh sekitar 30 persen kelompok dewasa.

Penelitian ini mengamati sebanyak 95 individu dewasa yang memiliki pola istirahat normal 7 hingga 8 jam. Pada fase enam minggu awal, para peserta memundurkan waktu tidur mereka selama 90 menit, lalu kembali pada pola normal di enam minggu berikutnya.

Seluruh subjek dipasangi perangkat pemantau istirahat dan aktivitas pada pergelangan tangan. Tim peneliti juga mengukur bobot tubuh, struktur komposisi fisik, hingga kadar hormon pengatur nafsu makan.

"Meskipun kenaikan berat badan satu pon yang diamati dengan pengurangan tidur ringan tidak terlalu besar, penting untuk diingat bahwa ini terjadi hanya dalam enam minggu," ujar Asisten Profesor Kedokteran Nutrisi di Columbia's Department of Medicine and Institute for Human Nutrition dan penulis utama studi, Faris Zuraikat.

Ia menjelaskan bahwa riset ini dirancang guna meniru kebiasaan istirahat yang dialami secara kronis oleh mayoritas masyarakat dewasa.

"Jika diekstrapolasikan menjadi satu tahun penuh, kami memperkirakan bahwa kehilangan kurang dari 1,5 jam tidur per malam dapat menghasilkan kenaikan berat badan yang bermakna secara klinis," tambah Zuraikat.

Para peserta juga memperlihatkan kecenderungan menjadi lebih pasif bergerak sewaktu durasi tidurnya dipangkas. Secara rata-rata, durasi tidak aktif bergerak bertambah 17 menit saban hari, bahkan melonjak mendekati 30 menit pada kelompok pria serta wanita pascamenopause.

"Bahkan ketika kami memperhitungkan fakta bahwa mereka terjaga lebih lama saat waktu tidur dipersingkat, para peserta menghabiskan lebih banyak waktu untuk tidak aktif dibandingkan saat mereka mendapatkan tidur yang cukup," terang Zuraikat.

Menurutnya, temuan ini sangat krusial untuk dicatat lantaran individu yang kurang beraktivitas fisik memiliki peningkatan risiko terkena penyakit kronis.

Di sisi lain, riset terkait memperlihatkan bahwa kelompok wanita dengan risiko masalah kardiometabolik yang dipangkas durasi tidurnya sebanyak 80 menit justru mengalami kenaikan resistensi insulin, yang merupakan pemicu diabetes tipe 2.

Penelitian lain turut mendeteksi adanya penumpukan sel peradangan pada organ jantung di antara partisipan kurang tidur yang memiliki risiko penyakit jantung tinggi.

"Meski penelitian lebih lanjut diperlukan untuk lebih memahami bagaimana pembatasan tidur mengarah pada kenaikan berat badan, semua temuan kami menunjukkan bahwa tidur yang tidak cukup meningkatkan risiko kondisi terkait obesitas seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung," kata St-Onge.

"Sekarang kami perlu memahami efek kesehatan dari memperbaiki tidur pada mereka yang rutin gagal mendapatkan tidur yang cukup," pungkasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index