JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperkokoh kerja sama dalam rangka pencegahan stunting sejak dari hulu lewat pendampingan bagi calon pengantin serta perluasan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang berlandaskan nilai-nilai agama.
“Pencegahan stunting merupakan tanggung jawab bersama. Kementerian Agama memiliki instrumen yang kuat melalui layanan bimbingan perkawinan, KUA, dan penyuluh agama untuk membangun kesadaran masyarakat sejak sebelum menikah,” kata Dirjen Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (5/8/2026)
Abu Rokhmad menyampaikan sambutan hangat atas inisiatif yang digulirkan BKKBN sekaligus menyatakan komitmen penuh Kementerian Agama guna meningkatkan kolaborasi demi pembangunan ketahanan keluarga Indonesia.
Menurut pandangannya, upaya menekan angka stunting tidak memadai apabila sekadar dikerjakan selepas anak lahir, melainkan wajib dimulai manakala pasangan bersiap melangsungkan pernikahan. Sesi pendampingan calon pengantin sendiri telah terintegrasi sebagai komponen esensial di dalam layanan KUA.
Oleh karena itu, rencana pengoptimalan pemanfaatan aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Siap Hamil (ELSIMIL) bakal dikaji secara mendalam supaya mampu menopang jalannya proses pendampingan yang selama ini telah berjalan tanpa menimbulkan beban administrasi tambahan yang tidak dibutuhkan.
Ia turut memandang bahwa gagasan pengintegrasian materi Gerakan Ayah Teladan Indonesia ke dalam ruang lingkup khutbah, ceramah, maupun materi penyuluhan keagamaan mempunyai signifikansi strategis.
Berdasarkan keterangannya, muatan pesan keagamaan yang disebarluaskan lewat perantara para penyuluh serta tokoh masyarakat dapat berfungsi sebagai sarana mujarab guna mengukuhkan peran ayah dalam mewujudkan keluarga yang sehat, rukun, serta penuh tanggung jawab.
“Nilai-nilai keagamaan memiliki kekuatan besar dalam membentuk perilaku masyarakat. Karena itu, pesan tentang pentingnya peran ayah dalam pengasuhan keluarga dapat disampaikan melalui berbagai media dakwah dan penyuluhan keagamaan,” ujarnya.
Ia menilai bahwa sinergi lintas kementerian memegang peranan krusial tatkala menghadapi berbagai tantangan urusan keluarga yang kian pelik. Karenanya, tiap program yang dirancang harus saling menunjang serta berfokus pada perbaikan mutu keluarga di tanah air secara berkesinambungan.
Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Nopian Andusti menuturkan bahwa pihaknya memandang Kementerian Agama sebagai partner utama yang strategis dalam upaya mencetak keluarga berkualitas jauh hari sebelum prosesi pernikahan dilaksanakan.
Atas dasar itulah, BKKBN mengajukan usulan penguatan pendampingan calon pengantin lewat optimalisasi aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Siap Hamil (ELSIMIL) yang diterapkan mulai dari tingkat Kantor Wilayah Kementerian Agama, Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota, Kantor Urusan Agama (KUA), sampai pada berbagai lembaga keagamaan.
“Kami berharap pendampingan calon pengantin melalui pemanfaatan aplikasi ELSIMIL dapat diperkuat di lingkungan Kementerian Agama, mulai dari Kanwil, Kankemenag Kabupaten/Kota, KUA, hingga lembaga keagamaan, sehingga setiap pasangan yang mendaftar nikah terdorong memanfaatkan layanan tersebut sebagai bagian dari ikhtiar pencegahan stunting sejak hulu,” ujar Nopian.