JAKARTA - Sektor industri tekstil dan pakaian jadi (TPT) nasional berhasil membukukan angka pertumbuhan mencapai 6,36 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kurun kuartal II 2026. Hasil ini mencatatkan kenaikan dari posisi pertumbuhan kuartal II 2025 yang berada di level 4,35 persen.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ian Syarif menilai bahwasanya ekosistem industri TPT nasional saat ini berderap menuju fase pemulihan. Menurutnya, laju ekspansi ini membuktikan daya tahan sekaligus ruang pertumbuhan bagi sektor TPT.
"Setelah menghadapi tekanan berat dalam beberapa tahun terakhir, industri ini kembali tumbuh lebih cepat daripada perekonomian nasional dan industri pengolahan nonmigas," kata Ian dalam keterangan tertulisnya, Jumat (7/8/2026).
Ian menjelaskan, perbaikan kinerja TPT turut ditopang oleh kenaikan nilai investasi, performa ekspor, raihan surplus perdagangan, hingga serapan tenaga kerja yang masif. Secara kumulatif sampai kuartal II 2026, nilai akumulasi investasi TPT telah menembus Rp11,40 triliun, atau naik 11,85 persen dibanding periode sama 2025 senilai Rp10,19 triliun.
Secara rinci, investasi manufaktur tekstil naik dari Rp6,05 triliun pada semester I 2025 menjadi Rp6,78 triliun pada semester I 2026. Sementara itu, nilai investasi pada lini pakaian jadi merangkak dari Rp4,14 triliun menjadi Rp4,62 triliun, yang mencerminkan ekspansi menyeluruh hingga ke penyedia bahan baku dan bahan antara.
"Pertumbuhan investasi sebesar 11,85% merupakan indikator penting karena menunjukkan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek pasar dan basis produksi Indonesia. Investasi tersebut diperlukan untuk menambah kapasitas, memodernisasi mesin, meningkatkan efisiensi energi, dan memenuhi standar keberlanjutan pasar global," jelasnya.
Ian menggarisbawahi bahwa investasi TPT menyebarkan dampak ekonomi yang luas karena mengoneksikan rantai serat, pemintalan, pertenunan, perajutan, pencelupan, hingga garmen. Pada sektor komersial, nilai ekspor kumulatif periode Januari-Mei 2026 menyentuh US$ 4,85 miliar, atau naik 1,57 persen dari US$ 4,77 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Pada rentang waktu yang sama, nilai impor mengalami kenaikan dari US$ 3,41 miliar menjadi US$ 3,58 miliar. Meski demikian, industri TPT nasional masih konsisten mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 1,27 miliar, kendati angka ini sedikit menyusut dari capaian surplus US$ 1,37 miliar pada Januari-Mei 2025.
"Surplus US$ 1,27 miliar membuktikan bahwa industri TPT masih menjadi penghasil devisa. Akan tetapi, kami tidak boleh mengabaikan fakta bahwa impor tumbuh lebih cepat dan surplus mengalami penyempitan. Karena itu, peningkatan ekspor harus dibarengi penguatan pasar domestik serta pengawasan terhadap impor ilegal dan praktik perdagangan tidak sehat," tegas Ian.
Menurut penjelasannya, pemanfaatan kerja sama perdagangan internasional, termasuk penetrasi ke pasar Amerika Serikat, Uni Eropa, dan negara mitra lainnya, perlu dipacu demi memperluas jangkauan pesanan produk tekstil beserta pakaian jadi buatan Indonesia.
Di samping itu, sektor industri TPT juga mengokohkan peran sebagai penyerap tenaga kerja padat karya terbesar yang menampung sekitar 3,86 juta pekerja, melingkupi 1,01 juta jiwa di sektor tekstil dan 2,84 juta jiwa di industri pakaian jadi.
"Di balik setiap angka pertumbuhan dan investasi terdapat jutaan keluarga yang bergantung pada keberlangsungan industri ini. Karena itu, menjaga daya saing industri TPT bukan hanya kepentingan perusahaan, tetapi juga bagian dari upaya mempertahankan dan menciptakan lapangan kerja," kata Ian.
Ian berpandangan bahwa torehan capaian industri pada 2026 ini merupakan buah dari kemitraan erat pemerintah dan pelaku bisnis. Ia berharap capaian ini disusul langkah konkret seperti pemenuhan bahan baku, penetapan harga energi kompetitif, modernisasi mesin, hingga penindakan tegas atas impor ilegal.
Ia memungkasi bahwa pangsa pasar domestik wajib dijadikan fondasi utama pertumbuhan ekonomi nasional yang berpihak pada keberlanjutan produsen lokal penyerap tenaga kerja.
"Pertumbuhan 6,36% bukan garis akhir, melainkan kesempatan untuk membawa industri TPT naik ke tingkat berikutnya. Tantangannya sekarang adalah mengubah pertumbuhan menjadi peningkatan utilisasi, pesanan, ekspor, investasi, dan kesejahteraan pekerja secara berkelanjutan," pungkasnya.