JAKARTA - Sel folikel rambut tergolong jaringan dengan tingkat pembelahan paling cepat di dalam tubuh, sehingga amat peka terhadap krisis nutrisi. Tidak mengherankan apabila defisiensi zat besi hingga vitamin D dapat mengganggu proses pertumbuhan rambut sekaligus memicu kerontokan.
Masalah kerontokan rambut atau alopecia dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari garis keturunan, ketidakseimbangan hormon, hipotiroidisme, tekanan fisik pada rambut, trauma, infeksi, sampai efek kemoterapi. Di samping itu, penurunan kuantitas rambut juga dapat timbul akibat kebiasaan makan yang kurang tepat, seperti defisit hara tertentu hingga pemakaian suplemen.
Kekurangan Mikronutrien
Struktur rambut terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu batang rambut yang tampak di permukaan dan folikel rambut yang tersembunyi di dalam lapisan kulit. Pertumbuhan rambut yang keluar dari folikel ini rata-rata mencapai 0,35 milimeter setiap harinya.
Area kulit kepala melepaskan sekitar 100 helai rambut secara alami per hari, yang mana jumlahnya bisa melonjak akibat pengaruh perawatan harian seperti keramas dan menyisir.
Zat Besi
Defisit zat besi merupakan jenis kekurangan nutrisi paling masif secara global yang mampu memicu kerontokan. Hal ini berkorelasi erat dengan kondisi telogen effluvium (TE), yakni gangguan siklus tumbuh alami yang membuat rambut gugur secara berlebihan.
Meskipun mekanisme pasti zat besi merusak rambut masih terus diteliti, tim ahli menduga tubuh mengalihkan cadangan zat besi dari folikel menuju organ vital lain. Riset membuktikan penderita kerontokan rambut umumnya memiliki kadar zat besi darah dan rambut yang lebih rendah dibanding individu sehat.
Vitamin D
Kehadiran vitamin D amat krusial dalam menopang pertumbuhan dan kebugaran folikel rambut. Berbagai studi menunjukkan bahwasanya kadar vitamin D rendah lazim ditemukan pada penderita kerontokan, termasuk pola kerontokan wanita serta penyakit autoimun alopecia areata.
Konsumsi suplemen vitamin D terbukti mampu menstimulasi tumbuhnya kembali rambut pada penderita yang mengalami defisiensi. Studi tahun 2020 pada 109 responden mendapati 80 persen penderita kerontokan rambut memiliki kadar vitamin D sangat rendah, yang sering kali disertai pula dengan defisit zat besi.
Zinc
Zinc tergolong mineral vital untuk kekebalan tubuh, sintesis protein, pembelahan sel, serta beragam metabolisme internal.
Guna mencegah penyusutan folikel dan perlambatan pertumbuhan, kecukupan zinc sangat dibutuhkan untuk mendukung proses pemulihan jaringan rambut. Defisiensi zinc berisiko memicu kerontokan pada penderita alopecia areata, kerontokan pola pria maupun wanita, hingga telogen effluvium.
Faktor Lain yang Dapat Memengaruhi Kerontokan Rambut
Selain elemen di atas, kelangkaan unsur tembaga, biotin, vitamin B12, folat, dan riboflavin turut memperbesar risiko kerontokan.
Mengingat kerontokan dapat bersumber dari perpaduan beberapa masalah gizi, pemeriksaan ke dokter spesialis sangat dianjurkan. Tes darah umumnya bakal direkomendasikan untuk meneliti kadar mikronutrien tubuh secara presisi.
Pembatasan Kalori dan Protein
Sel penyusun umbi rambut memiliki laju regenerasi tinggi sehingga membutuhkan energi yang konstan. Dampaknya, folikel amat sensitif terhadap pembatasan asupan kalori dan protein secara drastis.
Diet yang terlalu ketat dapat menghentikan pasokan energi folikel, memicu rambut menipis dan rontok. Pasalnya, rambut memerlukan asam amino dari protein untuk tumbuh optimal, sehingga kekurangan protein akan merusak struktur dan kekuatan rambut.
Penurunan Berat Badan
Penyusutan bobot tubuh secara ekstrem, seperti pascaoperasi bariatrik atau diet sangat ketat, kerap memicu kerontokan rambut akut. Kerontokan pada tiga bulan pertama pascaoperasi terjadi akibat efek tindakan, sedangkan setelah enam bulan biasanya dipicu gangguan penyerapan nutrisi.
Konsumsi suplemen mikronutrien sangat disarankan bagi pasien pascaoperasi bariatrik demi mencegah kerontokan parah dan komplikasi kesehatan lainnya.
Penggunaan Suplemen
Meski suplemen bermanfaat jika digunakan secara tepat, konsumsi dosis tinggi tanpa keluhan defisiensi justru dapat merusak kesehatan rambut, seperti pada kasus kelebihan selenium, vitamin E, dan vitamin A.
Akumulasi vitamin A berlebih (hipervitaminosis A) dalam darah akan membebani organ hati dan merusak fungsi folikel. Kasus ekstrim juga mencatat konsumsi 10–15 biji kacang brasil harian yang kaya selenium menyebabkan seorang wanita kehilangan seluruh rambutnya akibat kadar selenium darah melonjak lima kali lipat.
Maka dari itu, penggunaan suplemen penyubur rambut maupun produk herbal berdozis tinggi perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga medis tepercaya.
Lifestyle
Gaya hidup tak sehat seperti merokok, konsumsi alkohol, stres berlarut, dan kurang tidur terbukti meningkatkan risiko kerontokan rambut. Studi tahun 2013 pada pasangan kembar identik mengonfirmasi bahwa kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol lebih dari empat gelas per minggu mempercepat keparahan kerontokan.
Riset tahun 2020 terhadap 1.825 wanita juga menyimpulkan bahwa tidur yang berkualitas serta penghentian konsumsi alkohol efektif meredakan tingkat keparahan kerontokan pola wanita.
Menerapkan pola hidup sehat dengan menghindari rokok, membatasi alkohol, menjaga istirahat, dan mengelola stres yang dipadukan dengan gizi seimbang merupakan langkah terbaik menjaga keutuhan rambut.