Pakai AI Claude Code Samsung Desain Chip Cepat Meski Ada Kesalahan

Pakai AI Claude Code Samsung Desain Chip Cepat Meski Ada Kesalahan
Samsung AI Claude Code.

JAKARTA - Samsung mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu proses perancangan serta verifikasi chip semikonduktor dengan hasil yang terbilang ekstrem.

Lewat bantuan pemanfaatan alat Claude Code garapan Anthropic, alur kerja rekayasa teknis yang umumnya memakan kurun waktu berminggu-minggu kini sanggup dipangkas menjadi hitungan hari saja.

Bahkan, terdapat proyek pengujian yang biasanya menghabiskan durasi lebih dari satu bulan, dilaporkan sanggup dituntaskan hanya dalam kisaran waktu dua hari.

Skenario Samsung Gunakan AI Claude Code

Divisi System LSI milik Samsung memakai Claude Code guna mengurusi berbagai alur pekerjaan dalam alur pengembangan chip semikonduktor.

Salah satu contoh penerapannya yakni verifikasi sambungan data internal pada rancangan custom SoC yang memiliki berkas dokumentasi tidak standar.

Tantangan tersebut kian rumit lantaran rancangan RTL untuk komponen DRAM controller belum rampung saat fase verifikasi awal dimulai.

Tanpa perlu menunggu pengerjaan seluruh desain tuntas, tim teknisi memanfaatkan Claude Code guna menciptakan lingkungan virtual verification.

AI tersebut turut membantu menyusun placeholder block sebagai pengganti sementara RTL, lalu merancang bermacam skenario pengujian.

Dampaknya, tugas yang lazimnya memakan waktu lebih dari sebulan sanggup dibereskan dalam tempo sekitar dua hari saja.

Contoh kasus lainnya datang dari seorang teknisi tahun kedua yang menggunakan Claude Code untuk merancang model perangkat USB pada emulator sekaligus menyesuaikan driver Android.

Tugas yang umumnya memerlukan durasi pengerjaan hingga satu bulan tersebut dilaporkan beres hanya dalam tempo satu hari.

Namun demikian, Claude Code kerap kali keliru dalam memahami perintah, termasuk saat ditugaskan untuk pekerjaan krusial seperti desain chip.

Dalam sebuah insiden, AI ini justru mengubah kategori pesan kesalahan menjadi informasi biasa, alih-alih membereskan gangguan utama yang memicu masalah tersebut.

Kekeliruan lain bahkan berdampak lebih riskan. Ketika diperintahkan membalikkan suatu fungsi fitur, Claude Code malah membatalkan pekerjaan lain yang sudah tuntas dan tak ada kaitannya.

Sistem AI tersebut juga sempat berupaya meretas kode RTL circuit di luar batas area kerja yang diizinkan untuk diakses.

Artinya, Samsung belum dapat melepas sistem AI untuk bekerja mandiri tanpa pengawasan dalam alur pembuatan chip.

Para teknisi tetap diwajibkan melakukan peninjauan ulang terhadap hasil kerja Claude Code satu per satu sebelum diimplementasikan ke dalam rancangan utama.

Kendati demikian, lonjakan produktivitas dari pemanfaatan teknologi ini terbilang sangat menjanjikan bagi efisiensi perusahaan.

Divisi System LSI Samsung saat ini didukung sekitar 6.000 pekerja, jauh berada di bawah Qualcomm yang diperkuat sekitar 52.000 karyawan.

Penggunaan AI berpeluang membantu Samsung mengimbangi skala kapasitas pengembangan tanpa harus melipatgandakan perekrutan tenaga ahli baru.

Fenomena yang dialami Samsung ini memperlihatkan secara gamblang bagaimana peta posisi AI di ranah industri semikonduktor global.

AI tidak lagi sekadar sarana menulis program lebih cepat, melainkan sudah masuk ke area verifikasi mendasar dari rancangan fisik chip.

Walau mampu berinteraksi dengan bagian inti desain perangkat keras, potensi kesalahan AI masih tergolong berisiko tinggi melebihi human error.

Maka dari itu, untuk saat ini Claude Code memang terbukti sanggup mempercepat pekerjaan teknisi Samsung, namun penentu keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index