7 Kebiasaan Orang Tua yang Bisa Merusak Rasa Percaya Diri Pada Anak

7 Kebiasaan Orang Tua yang Bisa Merusak Rasa Percaya Diri Pada Anak
Ilustrasi mengasuh Anak.

JAKARTA - Memiliki rasa percaya diri yang tinggi terbukti memudahkan anak dalam mencoba hal-hal baru, menguatkan mereka saat menghadapi tantangan, dan membuat mereka pantang menyerah meski sempat gagal.

Meski begitu, membentuk karakter dan mental anak di kehidupan nyata bukanlah perkara gampang. Tanpa disadari, banyak orang tua menerapkan pola asuh sehari-hari yang niatnya baik, padahal justru perlahan mengikis rasa percaya diri buah hati mereka.

Melansir dari CNBC Make It, berikut adalah beberapa kekeliruan dalam mendidik anak yang paling sering dijumpai hingga dapat merusak rasa percaya diri mereka:

Membiarkan mereka lepas dari tanggung jawab

Tidak sedikit orang tua yang enggan memberikan pekerjaan rumah kepada anak lantaran menganggap mereka masih terlalu kecil. Padahal, memberikan tugas domestik sederhana sesuai usia justru bisa melatih rasa tanggung jawab anak.

Lewat tugas-tugas rumah tersebut, anak justru akan merasa bahwa diri mereka mampu serta bisa diandalkan.

Tidak mentolerir kesalahan

Banyak orang tua terburu-buru membantu dan menyelamatkan anak sebelum mereka sempat melakukan kesalahan. Padahal, selalu melindunginya dari kegagalan justru merenggut kesempatan anak untuk belajar cara bangkit kembali.

Sebaiknya, beri ruang bagi anak agar mereka dapat menempa ketahanan mental yang sangat dibutuhkan di masa depan.

Melarang anak merasakan emosi

Sebagian besar orang tua langsung buru-buru menghibur anak yang sedang sedih atau berusaha meredakan emosinya saat marah. Padahal, kebiasaan ini malah dapat menghambat perkembangan kecerdasan emosional sang anak.

Bantu anak untuk mengenali pemicu emosinya, lalu ajarkan mereka cara mengelolanya secara bijak. Berikan pemahaman agar mereka bisa menguraikan perasaan tersebut, sehingga anak lebih siap mengendalikan emosi dengan tepat di kemudian hari.

Mengajarkan mentalitas 'korban'

Jangan pernah mengatakan hal-hal seperti 'ayah/ibu tidak mampu membeli sepatu baru seperti anak-anak lain karena kami miskin'. Hal seperti itu justru memberikan kesan kepada anak bahwa Anda adalah 'korban' dari keadaan.

 

 

Daripada menanamkan mentalitas korban, sebaiknya dorong anak untuk melakukan aksi nyata yang positif agar mereka merasa lebih yakin dengan potensi serta kemampuan diri sendiri.

 

 

Terlalu protektif

Peran orang tua adalah sebagai pemandu, bukan sekadar benteng pelindung. Biarkan anak merasakan dinamika dan kesulitan hidup, meskipun kadang hal itu terasa mengkhawatirkan.

Berikan mereka ruang untuk memecahkan masalahnya sendiri agar karakter anak tumbuh menjadi lebih percaya diri.

Mengharapkan kesempurnaan

Memiliki ekspektasi pada anak adalah hal yang lumrah, namun menuntut terlalu banyak tentu ada dampaknya. Saat anak merasa standar yang ditetapkan terlalu tinggi, mereka bisa jadi enggan berusaha atau merasa usahanya tak akan pernah cukup.

Sebagai gantinya, tetapkan target jangka panjang yang masuk akal dan selalu berikan apresiasi atas setiap pencapaian kecil yang mereka raih.

Sebagai contoh, menempuh pendidikan tinggi adalah target jangka panjang. Maka, bantu mereka menyusun langkah-langkah kecil untuk mencapainya, seperti rajin membaca, menyelesaikan tugas sekolah, dan meraih nilai yang baik.

Menghukum, bukan mendisiplinkan

Anak-anak memang harus paham bahwa setiap tindakan membawa konsekuensi. Meski begitu, terdapat batas yang jelas antara menerapkan disiplin dan memberikan hukuman.

Penerapan disiplin akan membangun keyakinan anak bahwa mereka sanggup mengambil keputusan yang lebih bijak di masa depan. Sebaliknya, hukuman justru membuat mereka merasa tidak cukup mampu untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index