JAKARTA - Kakak dan adik tumbuh dalam rumah yang sama, memilik orang tua yang sama, bahkan berbagi banyak pengalaman masa kecil, tetapi karakter mereka belum tentu serupa.
Perbedaan itu kerap dikaitkan dengan urutan kelahiran, seperti anggapan bahwa anak sulung lebih bertanggung jawab, anak tengah mudah beradaptasi, sedangkan anak bungsu lebih bebas.
Namun, hubungan saudara kandung ternyata lebih kompleks daripada sekadar siapa yang lahir lebih dulu.
Dinamika tersebut dapat dipengaruhi oleh peran dalam keluarga, perlakuan orang tua, pengalaman bersama, hingga cara masing-masing anak memaknai masa kecilnya.
Urutan Kelahiran Tak Selalu Menentukan Kepribadian
Melansir Red Online, teori tentang urutan kelahiran salah satunya diperkenalkan psikolog Alfred Adler yang mengaitkan posisi anak dalam keluarga dengan karakter tertentu.
Anak sulung, misalnya, digambarkan cenderung bertanggung jawab dan berprestasi, sedangkan anak tengah disebut lebih mudah beradaptasi dan anak bungsu dianggap lebih bebas serta terbuka mengambil risiko.
Namun, pandangan tersebut tidak dapat digunakan sebagai patokan untuk menentukan kepribadian seseorang karena pengalaman setiap anak dalam keluarga berbeda.
Penelitian yang dibahas dalam sumber juga menunjukkan bahwa hubungan antara urutan kelahiran dan kepribadian jauh lebih kompleks daripada stereotip tentang anak sulung, tengah, atau bungsu.
Label Keluarga Bisa Terbawa hingga Dewasa
Selain urutan kelahiran, label yang diberikan kepada anak juga dapat memengaruhi cara mereka melihat diri sendiri.
Psikolog Frances Fuchs Schachter menjelaskan konsep de-identification, ketika anak secara tidak sadar mengambil identitas berbeda dari saudara kandungnya untuk mengurangi persaingan.
Sebagai contoh, saat kakak dikenal sebagai anak yang terorganisasi dan rajin belajar, adiknya dapat mengambil peran berbeda dengan menjadi lebih berantakan atau kreatif.
“Misalnya, seorang rekan kerja meremehkan saya di tempat kerja dan saya terpuruk dalam depresi. Setelah saya merenungkannya, saya ingat bahwa kakak laki-laki saya lebih ‘sukses’,” ungkap Ilmuwan perilaku, Dr. Avidan Milevsky.
“Saat masih kecil, saya ditanya, ‘Mengapa kamu tidak bisa seperti dia?’ dan sekarang saya sensitif terhadap perasaan ‘lebih rendah’. Dinamika hubungan saudara kandung adalah intinya,” tambahnya.
Meski demikian, peran yang terbentuk sejak kecil bukan sesuatu yang tidak dapat diubah ketika seseorang dewasa.
Pengalaman Bersama Bisa Dimaknai Berbeda
Kakak dan adik memang tumbuh dengan sejarah keluarga yang sama, tetapi belum tentu memiliki ingatan dan pengalaman yang sama terhadap suatu peristiwa.
Sumber menjelaskan bahwa satu kejadian masa kecil dapat dirasakan secara berbeda oleh masing-masing saudara, bergantung pada usia, posisi, dan pengalaman mereka saat kejadian berlangsung.
“‘Kakak perempuan saya (yang lebih tua) masih mencoba meyakinkan saya betapa menyenangkannya naik roller coaster,’ sementara saya mengingatnya sebagai salah satu pengalaman paling traumatis dalam hidup saya,” jelas pengelola Laboratorium Narasi Keluarga di Universitas Emory, Profesor Robyn Fivush.
Meski memiliki interpretasi berbeda, saudara kandung tetap menjadi orang yang mengetahui banyak bagian dari tahun-tahun awal kehidupan satu sama lain.
Hubungan tersebut juga dapat berubah ketika mereka dewasa dan tidak lagi tinggal bersama karena kedekatan kemudian menjadi pilihan, bukan sekadar akibat berada dalam rumah yang sama.
Pada usia lanjut, hubungan saudara bahkan cenderung menjadi lebih bermakna dan tidak terlalu intens, sementara mereka yang mampu mempertahankan hubungan baik dilaporkan merasa lebih sedikit kesepian dan depresi.
Jadi, perbedaan karakter kakak dan adik tidak cukup dijelaskan hanya dari urutan kelahiran.
Peran dalam keluarga, label sejak kecil, serta pengalaman yang dimaknai secara berbeda dapat ikut membentuk cara seseorang melihat dirinya dan menjalani hubungan dengan saudara kandung hingga dewasa.