JAKARTA — Rasa cemas umumnya hadir ketika seseorang berada dalam situasi penuh tekanan.
Namun tidak jarang perasaan gelisah tersebut mendadak muncul meskipun kondisi di sekitar sebenarnya aman dan tanpa kendala.
Secara mendadak detak jantung berdegup kencang, otot tubuh menegang, pikiran terasa riuh, hingga muncul dorongan terburu-buru.
Dalam situasi ini tubuh seakan merespons keadaan darurat meskipun tidak ada ancaman nyata di sekitar.
Kabar baiknya penanganan rasa cemas mendadak tidak selalu membutuhkan metode yang rumit.
Langkah simpel yang dapat diterapkan adalah dengan memperlambat gerakan tubuh secara sengaja.
Terapis berlisensi sekaligus pendiri Nadia Fiorita Psychotherapy & Coaching, Nadia Fiorita, menerangkan bahwa kecemasan serta tekanan rutinitas kerap memicu seseorang beraktivitas serba cepat.
Oleh karena itu Fiorita menyarankan untuk sengaja melambatkan satu gerakan sederhana yang sedang dilakukan.
“Perlambat satu gerakan biasa dengan sengaja,” kata Fiorita, disadur dari Real Simple.
Fiorita memberi contoh seperti saat meraih cangkir kopi, memutar gagang pintu, menarik ritsleting tas, hingga meneguk air minum.
Melambatkan satu aktivitas simpel membantu pikiran kembali fokus pada momen saat ini di tengah kepungan rasa khawatir.
“Ini mengirimkan pesan kepada pikiran dan tubuh bahwa tidak ada keadaan darurat yang sedang terjadi,” ujarnya.
Langkah ini efektif menjadi tindakan awal mencegah kecemasan berkembang menjadi perasaan kewalahan.
Seseorang tidak dituntut langsung memadamkan rasa cemas, melainkan memberi jeda agar tubuh tidak terus berada dalam mode siaga.
Selain memperlambat gerakan tubuh, Fiorita mengimbau untuk mengamati fakta objektif alih-alih langsung menghakimi situasi.
Saat kecemasan melanda, seseorang cenderung menganggap keadaan memburuk atau membayangkan skenario paling menakutkan.
Padahal asumsi negatif yang berkecamuk di dalam pikiran belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Fiorita menganjurkan untuk mengganti persepsi buruk tersebut dengan pengamatan fakta sederhana.
Daripada membatin segalanya bakal berantakan, lebih baik mengakui kenyataan seperti jantung sedang berdebar atau informasi belum lengkap.
“Ini mengganggu kecenderungan otak untuk mengisi kekosongan dengan skenario terburuk,” kata Fiorita.
Makin sering seseorang berfokus pada fakta tanpa menghakimi, makin mudah untuk melepaskan diri dari belenggu kecemasan.
Pendekatan lain yang dapat dicoba adalah mengubah kepastian skenario buruk menjadi rasa ingin tahu.
Psikolog klinis berlisensi Holly Batchelder, PhD, menyebut kecemasan kerap memunculkan keyakinan bahwa hal buruk pasti terjadi.
Saat pikiran negatif muncul, Batchelder menyarankan untuk mempertanyakan kemungkinan lain yang bisa saja terjadi.
Metode ini bukan memaksakan diri berpikir positif, melainkan memberi ruang bagi otak untuk mempertimbangkan alternatif lain.
Berbagai cara praktis tersebut tidak dirancang untuk menghapus stres secara total.
Psikolog klinis Michael Wetter, PsyD, menjelaskan bahwa metode sederhana ini membantu menciptakan ruang agar pikiran lebih jernih dan dapat merespons situasi secara sadar.
Apabila kecemasan hanya datang sesekali, melambatkan gerakan atau berfokus pada fakta menjadi cara ampuh untuk memberi jeda.
Namun jika kecemasan berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas harian, berkonsultasi dengan tenaga profesional merupakan langkah tepat.