Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 390 Orang, 1.400 Warga Termasuk 517 Turis Asing Masih Hilang

Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 390 Orang, 1.400 Warga Termasuk 517 Turis Asing Masih Hilang

ONLINEKINI.ID — Bencana yang sempat dikira gempa bumi ini terjadi setelah bongkahan gletser raksasa runtuh di sisi Tibet dan jatuh ke dasar lembah. Material es dan bebatuan tersebut memicu air bah setinggi 9 meter yang meluluhlantakkan sejumlah wilayah di Provinsi Bagmati, Nepal, serta Pelabuhan Gyirong di Daerah Otonomi Tibet, China.

Ratusan WNA dan Warga China Ikut Hilang

Data terbaru dari kepolisian Nepal mencatat 389 jenazah telah ditemukan hingga Kamis (27/8). Dari total 910 orang yang masih hilang di Nepal, sebanyak 517 di antaranya merupakan wisatawan asing. China melaporkan 100 warganya ikut hilang dalam peristiwa ini.

Di sisi Tibet, media pemerintah China memberitakan tiga orang tewas dan 558 orang—termasuk 260 warga asing—masih hilang akibat longsor lumpur di Pelabuhan Gyirong. Pemerintah China telah mengerahkan hampir 800 personel darurat, anjing pelacak, dan perahu cepat untuk membantu operasi penyelamatan.

Pemicu Bencana: Gletser Himalaya yang Makin Rapuh

Analisis citra satelit oleh ahli geologi dan glasiologi menunjukkan bongkahan es berukuran sekitar 610 meter terlepas dari gletser di ketinggian 5.180 meter. Es tersebut jatuh hampir 1.200 meter menuju lembah, sempat membendung sungai sebelum bendungan alami itu jebol dan menyebabkan ketinggian air naik drastis dalam hitungan menit.

USGS memastikan getaran besar yang sempat diduga sebagai gempa bumi berasal dari longsoran gletser. Peristiwa ini dipicu pemanasan global yang membuat gletser Himalaya menyusut dan semakin rapuh. Selama 40 tahun terakhir, Himalaya telah kehilangan hingga seperempat es gletsernya, dengan laju pencairan 65 persen lebih cepat sejak 2010 dibandingkan dekade sebelumnya.

Perdana Menteri Nepal dan China Turun ke Lokasi

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah mengunjungi sejumlah wilayah terdampak paling parah. Ia meminta pemerintah daerah segera memberikan bantuan kepada keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan membuka jalan yang tertutup material lumpur.

Perdana Menteri China Li Qiang juga mengunjungi wilayah terdampak di Tibet untuk memantau langsung upaya penanganan bencana. Hingga Kamis (27/8), arus banjir masih terlihat mengalir deras ke hilir, meninggalkan kawasan permukiman dan bangunan di tepi sungai tertutup lumpur.

Tim penyelamat terus berpacu dengan waktu mencari korban yang belum ditemukan dan menyelamatkan warga yang masih terjebak di tengah kehancuran.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index