ONLINEKINI.ID — Enam gunung api yang meletus pada hari yang sama itu adalah Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara.
Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Rita Susilawati, di Kompleks Badan Geologi Bandung, Rabu, menegaskan tidak ada satu proses geologi yang memicu seluruh erupsi tersebut secara bersamaan.
Indonesia sendiri berada di Cincin Api Pasifik dengan 127 gunung api aktif. Menurut Rita, hal itu memang memungkinkan lebih dari satu gunung meletus dalam waktu hampir bersamaan. Namun, dinamika internal setiap gunung tetap berjalan independen.
"Kalau bahasa sederhananya dapurnya itu masing-masing, begitu ya, dan proses menuju erupsi antara satu gunung dengan gunung yang lainnya itu juga berbeda-beda. Kami tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh erupsi tersebut secara bersamaan di tanggal 31 Agustus," ujar Rita.
Gempa Tektonik Tak Otomatis Memicu Letusan
Rita sekaligus meluruskan persepsi publik yang kerap mengaitkan gempa bumi dengan erupsi gunung api. Tidak semua gempa tektonik berujung pada letusan.
Gempabumi baru bisa disebut sebagai pemicu erupsi bila terbukti melalui lonjakan data pemantauan internal. Indikator yang dipantau antara lain kegempaan dalam, deformasi tubuh gunung, perubahan suhu, hingga pelepasan gas vulkanik.
PVMBG menekankan bahwa setiap gunung di Indonesia punya siklus dan karakteristik erupsi sendiri. Kesamaan tanggal kejadian pada 31 Agustus bukan bukti keterkaitan sistemik antar-gunung.
Status Level Gunung: Sinabung dan Anak Krakatau
Fenomena erupsi serentak ini turut mengubah status Gunung Sinabung di Sumatera Utara. Levelnya naik dari level II (Waspada) menjadi level III (Siaga) sejak 31 Agustus 2026 pukul 12.00 WIB setelah menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi 3.500 meter dari puncak.
Sementara itu, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih bertahan di level III (Siaga), status yang berlaku sejak 2 Juli 2026. Pada hari yang sama ia mengeluarkan kolom abu setinggi 200 meter.
Zona Bahaya dan Imbauan bagi Warga
Menanggapi kekhawatiran warga pesisir Banten dan Lampung akan potensi tsunami, PVMBG meminta masyarakat tidak panik. Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak otomatis menimbulkan tsunami.
PVMBG mengingatkan agar warga mematuhi rekomendasi zona bahaya. Untuk Gunung Sinabung, warga diminta mengosongkan area dalam radius 3 kilometer dari puncak, termasuk radius 6 kilometer pada sektor selatan–timur.
PVMBG juga meminta kewaspadaan terhadap ancaman lahar hujan di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari puncak gunung. Pemantauan terus dilakukan terhadap perkembangan aktivitas vulkanik enam gunung tersebut.