OpenAI Pecahkan Persoalan Matematika Paling Sulit dalam 88 Jam

OpenAI Pecahkan Persoalan Matematika Paling Sulit dalam 88 Jam
OpenAI.

JAKARTA - Perusahaan kecerdasan artifisial, OpenAI, mengklaim bahwa teknologi AI kembangannya sukses menuntaskan salah satu tantangan besar para matematikawan dunia yang berusia 90 tahun hanya dalam tempo 88 jam.

Persoalan angka yang dimaksud yakni Navier-Stokes, sebuah masalah matematika tingkat tinggi yang terdaftar dalam Millenium Prize Problems besutan Institut Matematika Clay.

Sesuai warta The Guardian pada Selasa (8/9) waktu setempat, pemecahan masalah tersebut dieksekusi oleh sistem internal OpenAI yang diklaim jauh lebih mutakhir ketimbang model GPT-6 Astra terbarunya.

Kurang lebih 10.000 agen AI dikerahkan untuk membedah persoalan rumit tersebut hingga menemukan jawabannya dalam kurun 88 jam.

"Salah satu tujuan utama pekerjaan kami adalah memberdayakan para ilmuwan untuk memajukan penelitian dan teknologi yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia," demikian pernyataan para peneliti OpenAI dalam blog mereka.

Pernyataan tersebut berlanjut dengan,"Kami percaya penting untuk memberi tahu dunia tentang laju kemajuan AI dan apa yang dapat diharapkan dari model-model yang akan datang".

Klaim keberhasilan OpenAI ini tak pelak memicu kontroversi seusai ahli matematika Tristan Buckmaster menduga OpenAI sengaja memacu risetnya setelah mendengar kabar bahwa ia beserta tim peneliti di Anthropic hendak merilis temuan serupa.

Profesor Universitas New York tersebut khawatir gagasan risetnya dimanfaatkan pihak luar lantaran proses penggarapannya sempat tersimpan di dalam sistem Codex OpenAI.

Codex OpenAI sendiri dikenal luas sebagai platform pemrogram komputer, sehingga ada peluang karya milik Buckmaster terpantau oleh tim internal OpenAI.

Melalui dokumen di laman resminya, Buckmaster menegaskan," Saya tidak tahu apa yang dilakukan model mereka, atau bagaimana caranya. Saya tidak tahu apakah data kami digunakan. Saya tidak menuduh siapa pun melakukan apa pun."

Peneliti OpenAI Sebastien Bubeck dalam sesi jumpa pers terpisah menepis prasangka tersebut dan menegaskan bahwa pihak OpenAI tak pernah mengulik berkas yang diunggah ke server mereka.

Ia menerangkan alasan utama perusahaan berambisi memecahkan teka-teki sulit itu murni karena terpacu oleh kabar bahwasanya dua dari tujuh soal dalam daftar Millenium Prize Problems mulai menemukan titik terang.

Kendati demikian, ia tidak menepis kemungkinan bila data riwayat penggunaan produk dari para matematikawan lain turut "membantu meningkatkan model kami.".

Di luar perdebatan yang bergulir, capaian OpenAI atas masalah Navier-Stokes memperlihatkan potensi besar model AI canggih dalam mentransformasi disiplin ilmu matematika.

Bagi Bubeck, jawaban atas persoalan Navier-Stokes merupakan "puncak spektakuler dari perkembangan yang telah kami saksikan selama 12 bulan terakhir.".

Secara sederhana, persoalan Navier-Stokes menguji apakah rumus yang dipakai guna mengkalkulasi pergerakan zat cair serta udara dapat mengalami kegagalan pada kondisi tertentu.

Temuan OpenAI menyimpulkan bahwa rumus tersebut memang bisa gagal, di mana persamaan Navier-Stokes terkadang mengalami lonjakan ekstrem saat laju fluida bergerak tanpa batas.

Seusai menarik kesimpulan, tim peneliti melakukan pembuktian ulang menggunakan komputer GPT-6 Astra milik OpenAI yang memakan waktu verifikasi sekitar 17 jam.

Atas pencapaian ini, siapa pun matematikawan yang berhasil menuntaskan salah satu soal dari Millenium Prize Problem berhak mengantongi imbalan bernilai 1 juta dolar AS dari Institut Matematika Clay.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index