JAKARTA - PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITM) menyiagakan sejumlah langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak fenomena El Nino terhadap operasional perusahaan, terutama pada sektor pengangkutan batubara.
“Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, perusahaan terus menerapkan langkah-langkah mitigasi berdasarkan pengalaman-pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya,” kata Presiden Direktur ITM Mulianto dalam paparan publik (public expose) yang digelar secara daring di Jakarta, Rabu.
Ia memaparkan bahwa pihak perseroan melakukan penyesuaian terkait kapasitas muatan batubara, terkhusus bagi lini anak usaha yang beroperasi di wilayah Klaster Melak, Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Penyesuaian ini diambil menyusul munculnya fenomena El Nino yang memicu penurunan tinggi muka air Sungai Mahakam serta minimnya intensitas curah hujan di kawasan sekitar.
Penyusutan debit air yang cukup drastis di area hulu sungai serta fluktuasi muka air di bagian hilir membuat arus perlintasan kapal dan moda transportasi air mengalami hambatan.
“Fenomena El Nino ini menyebabkan penurunan muka air Sungai Mahakam yang tentu saja memberikan tantangan tersendiri buat operasional kami, terutama di sejumlah anak usaha ITM yang beroperasi di Kutai Barat atau biasa kami sebut Klaster Melak,” kata Mulianto.
“Salah satu (mitigasi yang dilakukan) tentu saja melalui penyesuaian volume muatan batubara pada tongkang ke tingkat yang lebih rendah guna mengurangi resiko kandas dan juga menjaga kelancaran dari kegiatan pengangkutan tersebut,” ujarnya menambahkan.
Pada kesempatan terpisah, Direktur ITM Warut Waramit menerangkan bahwasanya cuaca ekstrem akibat El Nino menjadi salah satu tantangan yang memengaruhi dinamika operasional hingga pergerakan harga batubara mendekati penutup tahun.
“El Nino yang terjadi sekarang sangat kering dan panas di banyak daerah. Sangat kering dan juga memengaruhi harga pada paruh kedua tahun ini,” kata Waramit.
Walau demikian, ia merasa optimistis perseroan sanggup beradaptasi dan menjaga kontinuitas performa positif sebagaimana hasil yang diraih pada paruh pertama tahun ini.
Sebagai catatan, ITM membukukan raihan kinerja yang solid sepanjang semester I 2026. Pendapatan perusahaan melonjak 9 persen yoy hingga menyentuh 1.000 juta dolar AS, disokong pertumbuhan volume penjualan sebesar 5 persen dan kenaikan harga jual rata-rata (ASP) 4 persen di angka 81 dolar AS per ton.
Dalam rentang waktu tersebut, ITM sukses mengantongi laba bersih senilai 110 juta dolar AS, atau terangkat 17 persen dari capaian laba bersih pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
“Jadi, kami bisa lihat bahwa pada paruh kedua tahun ini kami berharap harga tetap kuat dan tetap stabil,” ujar Waramit.