Pendapatan Jababeka Turun 10,63 Persen di Semester I 2026

Senin, 03 Agustus 2026 | 04:35:31 WIB
PT Kawasan Industri Jababeka Tbk.

JAKARTA - PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA) mencatatkan penurunan kinerja sepanjang enam bulan pertama 2026. Laporan keuangan per 30 Juni 2026 menunjukkan perseroan meraih pendapatan Rp2,43 triliun.

Realisasi pendapatan tersebut terkoreksi 10,63% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan posisi Rp2,72 triliun pada semester I 2025.

Beban pokok penjualan dan pendapatan jasa tercatat turun tipis 0,86% yoy menjadi Rp1,59 triliun, dari sebelumnya Rp1,60 triliun.

Kondisi tersebut menyebabkan laba bruto konsolidasian menyusut 24,72% yoy menjadi Rp840,46 miliar dari sebelumnya Rp1,11 triliun. Margin bruto juga tergerus menjadi 34% dari posisi 41% pada paruh pertama tahun lalu.

Akibatnya, KIJA mencatatkan rugi bersih Rp177,88 miliar pada semester I 2026, berbalik dari posisi laba Rp310,65 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.

Adapun EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp747,7 miliar, turun 25% dibandingkan perolehan Rp995,3 miliar pada semester I 2025.

Wakil Direktur Utama KIJA Budianto Liman menjelaskan bahwa penurunan kinerja dipengaruhi oleh berkurangnya kontribusi bisnis pengembangan lahan dibanding semester pertama tahun lalu.

"Rugi bersih yang reported terutama disebabkan oleh biaya satu kali yang bersifat nonoperasional berupa rugi selisih kurs dan penghentian instrumen derivatif terkait refinancing Senior Notes kami," kata Budianto dalam siaran pers, dikutip Senin (3/8/2026).

Ia menegaskan bahwa di luar pos nonoperasional tersebut, perseroan tetap membukukan kinerja positif pada tingkat operasional seiring permintaan lahan di Cikarang dan Kendal yang terjaga.

Corporate Secretary KIJA Muljadi Suganda menambahkan, rugi bersih dipicu beban refinancing Senior Notes menjadi pinjaman bank, termasuk rugi selisih kurs Rp280,7 miliar, rugi penghentian derivatif Rp154,6 miliar, serta amortisasi dipercepat Rp24,9 miliar.

Penurunan laba bruto disebabkan oleh berkurangnya porsi penjualan lahan ber-margin tinggi, di samping peningkatan kontribusi Pilar Infrastruktur yang bermargin lebih rendah namun stabil.

"Selain itu, segmen listrik juga mencatatkan marjin yang sementara lebih rendah pada semester I/2026 akibat faktor operasional yang menurut Perseroan bersifat sementara dan tidak mencerminkan potensi laba jangka panjang segmen tersebut," papar Muljadi.

Laba operasional KIJA tercatat Rp524 miliar pada semester I 2026, turun dari Rp822,8 miliar pada semester I 2025 akibat pergeseran waktu pengakuan pendapatan lahan industri di Kendal.

Kendati demikian, perseroan tetap optimistis portofolio bisnis yang terdiversifikasi serta pertumbuhan pendapatan berulang akan menopang kinerja jangka panjang secara berkelanjutan.

Terkini