Barito Renewables Catat Pendapatan Naik 11,5 Persen Pada Semester I 2026

Selasa, 04 Agustus 2026 | 01:30:02 WIB
Salah Satu Pabrik Milik PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).

JAKARTA - PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) membukukan pertumbuhan perolehan pendapatan dan laba bersih dua digit sepanjang semester I 2026 seiring peningkatan volume penjualan listrik dari lini bisnis panas bumi dan angin.

Emiten energi baru terbarukan milik taipan Prajogo Pangestu tersebut mematok target penambahan kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi hingga melampaui 1 gigawatt (GW) pada akhir 2026 lewat penyelesaian beberapa proyek penunjang.

Chief Executive Officer (CEO) Barito Renewables Hendra Soetjipto Tan mengungkapkan bahwa capaian positif semester I 2026 disokong oleh operasional panas bumi yang stabil, pasokan listrik segmen angin yang solid, serta tuntasnya pengerjaan proyek retrofit Wayang Windu di awal tahun.

"Ke depan, kami akan tetap berfokus pada penyelesaian proyek-proyek ekspansi yang telah direncanakan serta semakin memperkuat posisi BREN sebagai salah satu perusahaan energi terbarukan terdepan di Indonesia," ujar Hendra dalam keterangan resmi, Selasa (4/8/2026).

Merujuk data laporan keuangan konsolidasian tidak diaudit, BREN mengantongi pendapatan sebesar US$334 juta pada semester I 2026, atau melonjak 11,5 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dari posisi US$300 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sejalan dengan peningkatan omzet, EBITDA perseroan melesat 13,1 persen menjadi US$293 juta dibanding capaian semester I 2025 yang tercatat US$259 juta.

Tingkat marjin EBITDA juga mengalami perbaikan ke posisi 87,6 persen dari sebelumnya 86,3 persen, yang mencerminkan ketangguhan operasional serta efisiensi riil di seluruh pilar bisnis perseroan.

Sementara itu, perolehan laba bersih setelah pajak terkatrol 29 persen menjadi US$106 juta dari sebelumnya US$82 juta pada semester I 2025.

Di sisi lain, perolehan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk ikut naik 33,1 persen menjadi US$87 juta dibanding nilai sebelumnya sebesar US$65 juta.

"Peningkatan laba ditopang oleh pertumbuhan laba operasional serta penurunan beban keuangan sebagai hasil optimalisasi struktur permodalan yang terus dilakukan," tutur Hendra.

Dari aspek operasional harian, BREN berhasil mempertahankan konsistensi performa di seluruh aset portofolio panas buminya.

Pasca-penyelesaian proyek retrofit Wayang Windu pada kuartal I 2026, total kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi milik perseroan berhasil bertambah hingga menyentuh 926 megawatt (MW).

Perseroan saat ini fokus melanjutkan fase pengembangan proyek Salak Unit 7, Wayang Windu Unit 3, serta retrofit Darajat Unit 3, yang seluruhnya berjalan sesuai jadwal demi mengejar target kapasitas panas bumi di atas 1 GW pada akhir 2026.

Selain menguatkan performa operasional, perseroan secara berkala terus membenahi kestabilan struktur keuangannya.

Hingga akhir Juni 2026, total nilai aset BREN merangkak naik 4,5 persen menjadi US$4,04 miliar dari posisi US$3,87 miliar pada penutupan tahun 2025.

Komposisi total ekuitas tercatat tumbuh 7 persen menjadi US$945 juta, sedangkan nilai total liabilitas naik 3,8 persen menjadi US$3,10 miliar.

Di saat yang sama, tingkat rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio/DER) membaik ke level 2,25 kali dibandingkan posisi 2,36 kali pada akhir 2025.

Adapun rasio utang bersih terhadap ekuitas (net debt-to-equity ratio) juga melandai menjadi 1,73 kali dari sebelumnya 1,87 kali.

Pihak manajemen menilai perbaikan struktur ini akan memperluas fleksibilitas finansial perseroan guna mendukung perampungan seluruh proyek ekspansi sekaligus menjaga pertumbuhan jangka panjang.

Terkini