Melalui Pamor Borneo 2026, Kalimantan Tawarkan 15 Proyek Strategis

Jumat, 07 Agustus 2026 | 22:13:01 WIB
Investment Forum Pamor Borneo 2026.

JAKARTA - Bank Indonesia mempertemukan 15 proyek strategis bernilai Rp62,13 triliun dari kawasan Kalimantan dengan 20 investor domestik maupun mancanegara pada Investment Forum Pamor Borneo 2026 yang sukses membuahkan 12 Letter of Intent (LoI).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan (BI Kalsel) Haris Munandar mengungkapkan, ajang ini diselenggarakan sebagai sarana penghubung antara pemilik proyek dan calon penanam modal lewat sesi seminar serta business matching demi membedah peluang sekaligus mengatasi kendala realisasi investasi.

“Sebanyak 15 proyek strategis yang dipromosikan mencakup sejumlah sektor unggulan dengan nilai investasi sekitar Rp62,13 triliun. Sebanyak 20 calon investor mengikuti pertemuan bisnis secara langsung bersama pemilik proyek hingga menghasilkan 12 LoI sebagai tindak lanjut awal penjajakan investasi,” kata Haris pada kegiatan Pamor Borneo 2026 di Banjarmasin, Jumat.

Dalam forum ini, pihak Bank Indonesia bertindak sebagai matchmaker yang menjembatani pemilik proyek dengan calon investor agar tahapan komunikasi bisnis dapat berlangsung secara efektif. Deretan proyek yang ditawarkan datang dari Kalimantan Selatan serta berbagai wilayah di Pulau Kalimantan.

“Salah satu proyek dengan nilai investasi terbesar yang ditawarkan yakni pembangunan pabrik hilirisasi batu bara menjadi metanol di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, dengan nilai investasi sekitar Rp46,17 triliun,” ujarnya.

Di samping itu, disajikan pula rencana Pembangkit Listrik Tenaga Air Kusan di Kabupaten Tanah Bumbu bernilai Rp2,6 triliun, serta proyek Pelabuhan Margasari Baru di Kabupaten Tapin yang mencapai Rp1,69 triliun.

Inisiatif ini pun memamerkan proyek industri oleokimia di Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan, Kabupaten Kutai Timur, bernilai Rp8,6 triliun, hingga Sistem Penyediaan Air Minum Sepaku Semoi di Balikpapan senilai Rp2,15 triliun.

Selanjutnya, terdapat proyek pengolahan sampah menjadi energi di Kota Palangkaraya sebesar Rp780 miliar, dan budidaya udang vaname di Kabupaten Sukamara bernilai Rp140 miliar.

Haris menekankan bahwa penanganan berbagai hambatan merupakan kunci utama dalam mempercepat eksekusi proyek, mengingat investasi memberikan dorongan besar pada pembukaan lapangan kerja, penguatan hilirisasi, serta peningkatan nilai tambah perekonomian Kalimantan.

“Kami berharap 12 LoI yang terbentuk melalui Investment Forum Pamor Borneo 2026 dapat segera ditindaklanjuti menjadi realisasi proyek sehingga memperkuat transformasi ekonomi Kalimantan menuju kawasan yang kompetitif, terdiversifikasi, dan berkelanjutan sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Haris Munandar.

Terkini