Laba Bersih BRI Tumbuh 17,5 Persen Menjadi Rp31,18 Triliun pada 2026

Senin, 31 Agustus 2026 | 22:41:49 WIB
Bank BRI.

JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) membukukan laba bersih Rp31,18 triliun pada semester I 2026, meningkat 17,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp26,53 triliun.

Kenaikan perolehan laba tersebut disokong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) serta pendapatan operasional perseroan.

Berdasarkan laporan keuangan BRI yang dipublikasikan pada Senin (31/8/2026), pendapatan bunga bersih konsolidasian BRI menembus Rp80,53 triliun pada semester I 2026, menguat 9,9 persen secara tahunan (year on year/YoY) dari posisi Rp73,27 triliun pada semester I 2025.

Secara menyeluruh, perolehan pendapatan bunga BRI terangkat menjadi Rp107,92 triliun atau naik 5,4 persen yoy dibanding Rp102,37 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, beban bunga menyusut 5,9 persen yoy menjadi Rp27,39 triliun dari semula Rp29,10 triliun.

Pada pos pendapatan operasional lainnya, BRI mencatatkan beban bersih sebesar Rp40,99 triliun, atau naik 5,9 persen dibandingkan Rp38,71 triliun pada semester I 2025. Eskalasi beban ini salah satunya dipicu peningkatan kerugian penurunan nilai aset keuangan atau impairment.

Selama semester I 2026, pos impairment tercatat di angka Rp25,51 triliun, melonjak 9,5 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp23,27 triliun. Selain itu, beban tenaga kerja bergerak ke level Rp21,59 triliun, sementara beban lainnya membengkak 46,0 persen menjadi Rp65,60 triliun.

Meskipun menghadapi tekanan pada pos beban operasional lainnya, BRI tetap membukukan laba operasional sebesar Rp40,17 triliun, terangkat 14,8 persen yoy dari Rp35 triliun. Adapun laba bersih per saham BRI terkerek menjadi Rp205 per saham dari sebelumnya Rp174 per saham.

BRI turut mengantongi total aset konsolidasian senilai Rp2.352,38 triliun hingga penutupan Juni 2026. Penyaluran kredit menjadi komponen pendorong terbesar dalam struktur aset perseroan dengan realisasi mencapai Rp1.580,42 triliun.

Di samping kredit, BRI memegang portofolio surat berharga senilai Rp338,71 triliun. Sementara itu, transaksi repo tercatat Rp98,49 triliun dan reverse repo mencapai Rp6,69 triliun.

Guna menjaga kualitas aset, BRI mengalokasikan cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan, di mana cadangan untuk kredit dialokasikan Rp85,75 triliun dan untuk surat berharga sebesar Rp984,58 miliar.

Di sisi indikator keuangan, BRI memperlihatkan perbaikan sejumlah rasio hingga semester I 2026. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross BRI melandai ke level 3,15 persen pada Juni 2026, sementara NPL net berada di angka 1,04 persen.

Dari aspek permodalan, rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) BRI berada di posisi 19,35 persen, masih di atas ambang batas ketentuan minimum perbankan.

Pada indikator profitabilitas, return on asset (ROA) BRI tercatat 3,30 persen dan return on equity (ROE) naik ke level 22,59 persen, sedangkan net interest margin (NIM) berada di angka 6,40 persen.

Pada lini efisiensi, rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) BRI membaik ke posisi 69,56 persen, sejalan dengan cost to income ratio (CIR) yang melandai ke level 35,49 persen. Adapun loan-to-deposit ratio (LDR) BRI berada di angka 91,30 persen.

Terkini